Suamiku Galak

Suamiku Galak
23. Pengantin Bahagia


__ADS_3

“Om Galak beneran?” sahut Meta antusias. Bola matanya mengeluarkan binar-binar kebahagiaan.


“Iya-iya. Udah. Sana beli.” Kepala Galak mendongan mengarah menuju pakaian-pakaian itu.


“Kalau gitu ikut aku, Om,” titah Meta.


“Ngapain?” sahut Galak.


“Yang bayarin, kan, Om. Nanti yang jualan enggak percaya lagi,” jelas Meta.


Galak berdesah muak. Sebenarnya ia enggan bergerak, apalagi mengikuti langkah Meta. Mau bagaimana lagi ….


Seperti biasa, Galak hanya bisa mengalah.


Galak pun berjalan mengikuti Meta memasuki toko itu.


“Mau beli apa, Mbak?” sapa seorang ibu paruh baya. Sepertinya perempuan itulah pemilik toko ini.


“Meta mau beli baju, Bu,” jawab Meta.


“Baju yang mana, Mbak?” tanya Ibu itu lagi.


“Semua,” jawab Meta.

__ADS_1


“Yang mana?” Ibu itu berpikir kalau Meta hanya membeli beberapa.


“Semua yang ada di toko ini,” jelas Meta.


Ibu itu memaku di tempat. Ia tidak tahu apa Meta berkata benar atau tengah mengganggunya. Memborong seluruh pakaian di sini adalah keberuntungan baginya. Namun, apa itu benar ada?


Galak berhasil membaca suasana. Ia menghadap ibu itu. Ia pun mengeluarkan sebuah kartu nama.


“Aku yang akan membayar,” terang Galak.


Ibu itu melihat kartu nama tadi. Setelah bertukar beberapa bincangan, senyum semringah akhirnya menaik lebar di wajah ibu itu. Rupanya sesuatu yang mustahil dapat ia percaya dengan baik.


Meta menyusul Galak. Ia berdiri di samping Galak. Namun, ibu itu malah mengusap rambut Meta dengan penuh kasih sayang. “Wah, beruntung banget kamu punya ayah yang baik kayak ayahmu ini. Mau manjain kamu dan kasih apa yang kamu mau,” puji ibu itu.


“Tapi dia suaminya Meta, Bu,” sahut Meta.


“Meta itu siapa?” tanya ibu itu.


“Meta itu aku,” jawab Meta.


“Eh?” Kini gantian ibu itu yang tercengang. Ia bergantian menoleh dari Meta ke Galak. Kemudian ia menunduk. “Maafkan aku Nyonya-Tuan,” pintanya.


Meta malah meringis. “Iya, Bu. Enggak papa. Om Galak emang tua.” Meta malah memeluk Galak lagi, bahkan menyandarkan kepalanya ke bahu.

__ADS_1


Ah, sial! Galak bahkan tidak bisa mengumpat sekarang.


Kalau bukan karena Meta memeluk Galak dengan begitu eratnya, semua orang yang tidak mengenal Meta pasti salah paham. Apalagi Meta benar-benar imut di usianya yang semakin dewasa ini.


“Terima kasih, Bu,” kata Meta usai menerima sebuah tas kertas berisi sebuah pakaian. Sedangkan sisanya akan diantar nanti setelah pembayaran selesai.


“Aku tunggu segera, jangan sampai terlambat!” kata Galak memperingatkan. Telunjuknya mengarah ke gelang jam yang melingkari pergelangan tangannya.


“Iya, Tuan. Pasti.” Ibu itu menunduk penuh sopan santun.


Meta dan Galak mulai beranjak dari toko itu. Kini, ibu itu malah mengernyitkan dahi. Semua orang keluar dari toko. Bahkan kilatan kamera bermunculan satu per satu. Ada apa ini? Siapa mereka? Kenapa semua orang tertarik padanya? Apa mereka artis?


“Siapa dia, Jum?” tanya ibu itu kepada tetangga di sebelahnya.


“Kamu enggak tahu, ya?” sahut Jum.


Ibu itu menggelengkan kepala. “Emangnya ada apa?”


“Dia Meta Felicia. Aktris yang kemarin main sama Reza Rahardian itu, lho. Dia yang baru nikah sama pengusaha kemarin. Sinetron-sinetron sampai harus dijeda gara-gara penyiaran pernikahan mereka,” jelas Jum.


Seketika tubuh ibu itu menjadi lemah. Ia mulai bergetar. Ia sama sekali tidak tahu tentang Meta Felicia, pengusaha, atau pun pernikahannya. Namun, fakta kalau mereka adalah artis benar-benar mengejutkannya. Apalagi ia sudah salah paham tadi? Bagaimana kalau kesan yang darinya sangat buruk?


Bukan hanya tutup. Ibu itu bahkan tidak akan bisa membuka toko lagi.

__ADS_1


-oOo-


__ADS_2