Suamiku Galak

Suamiku Galak
83. Jawaban Ian


__ADS_3

Baru biaa update setelah sekian purnama🤭


Kebiasaan kalau udah fokus ngetik gak bisa berlain hati ke tetangga😁


yuk, baca cerita baruku yang berjudul Super Husband 🤗


💃💃💃


“Saras! Tunggu!” teriak Ian yang kepayahan mengejar kekasihnya. High heels tinggi yang dia kenakan, tidak menghentikannya untuk tetap melangkah cepat.


Meski Saras sangat lincah, kesabaran yang membuat Ian tidak putus asalah, yang membuat Ian berhasil mengejarnya. Sesampainya di halaman hotel, Ian berhasil menghentikan Saras dengan menarik bahunya.


“Kamu kenapa pergi?”


Akhirnya, Saras melihat Ian dengan tatapan tajam. “Kamu bertanya karena enggak ngerti?”


Ian menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak mengerti.


Dengan kebodohan itu, terkadang Saras tidak mengerti dari mana asal mobil-mobil mewah ini.


“Aku enggak suka lihat kamu akur sama perempuan itu!” Saras menunjuk ke belakang.


Ian memutar kepalanya. Namun, dia tidak menemukan apa pun.


“Perempuan yang mana?”


Saras mengembuskan napas berat. Apa dia juga harus menjelaskan yang ini?


“Perempuan yang ada di pesta tadi!” jelas Saras.


“Meta?”


“Siapa lagi?”


“Emangnya ada apa sama dia?”


“Bukan dia, tapi kamu! Ada sesuatu sama kamu!”


Ian menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan mengernyitkan pipinya. “Aku masih enggak ngerti.”


“Aku enggak suka cara kamu tersenyum sama perempuan itu!” Ini sudah jelas. Jika Ian masih tak mengerti, Saras sudah tidak tahu lagi.


“Aku hanya tersenyum biasa. Apa masalahnya?”


“Masalahnya aku cemburu.” Akhirnya, Saras mencebikkan bibirnya. Menunjukkan wajah aslinya.


Ian malah tertawa. “Cemburu apa? Sama Meta? Tapi kenapa? Kami akrab cuma karena pernah menjadi partner kerja.”


“Tapi, kamu tersenyum begitu lebar sama dia. Senyum yang enggak pernah kamu kasih ke perempuan lain.”


“Maksudmu, aku harus tersenyum kayak gitu ke perempuan lain juga?”

__ADS_1


“Enggak gitu!” Saras memekik. Dasar Ian! Terkadang terlihat bodoh sehingga candaannya seperti sungguhan.


Ian kembali tertawa. Kemudian memeluk Saras.


“Sudahlah. Enggak ada apa-apa di antara kami. Lagian, Meta sudah nikah. Apalagi yang harus dikhawatirkan?”


Ian memeluk Saras.


Saras tidak memberontak. Meski sebenarnya keberatan, dia terpaksa menyetujui itu.


Ya. Ian memang tidak pernah tersenyum selebar itu kepada perempuan selain Meta, termasuk Saras. Itulah yang membuat hatinya tergoncang. Karena Ian melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya dalam hidupnya.


-oOo-


“Apa kamu puas sudah menggoda laki-laki lain?”


Meta menoleh. Binaran dari matanya muncul. Senyumnya mengembang lebar melihat laki-laki yang tampil gagah dalam paduan tuksedo abu-abu mendekat.


“Sayang Galak!”


“Bukannya Sayang Ian?” sindir Galak dengan melirik ke arah lain. Dia berjalan mendekati Meta tetapi tidak melihat perempuan itu.


Meta langsung mendekati Galak dan memasukkan tangannya dalam lubang lengan Galak. Bertingkah seperti pasangan-pasangan selebiritis saat melalui karpet merah.


Galak melirik perempuan yang kini tersenyum-senyum seperti kuntilanak ini. “Ada apa?”


“He he. Senang aja,” jawab Meta cengingiran.


“Kenapa?” Galak tak mengerti. “Karena disenyumin sama Sayang Ian?”


Galak menaikkan satu alisnya. Masih tidak mengerti. Tiba-tiba Meta menyandarkan kepala pada bahunya.


“Karena Sayang Galak cemburu sama Ian,” tukas Meta.


“Enggak.”


Galak menggoyangkan lengannya. Berusaha menjauhkan Meta darinya. Namun, dasar Meta si kuntilanak! Dia justru semakin merekatkan dirinya.


“Lepas!” titah Galak.


Meta mengangkat kepalanya. Dia memamerkan bibirnya yang dimonyongkan. Kemudian menggelengkan kepala. “Enggak mau.”


“Dilihatin orang-orang tuh.” Galak menyapukan perhatiannya ke seluruh orang. Ada beberapa orang yang berulang-ulang mencuri pandang padanya.


Bukannya setuju, Meta malah menempelkan kembali kepalanya kepada lengan Galak. “Kita, kan, udah sah.”


Jika ini Galak yang dulu, mungkin dia akan mengibaskan tangannya sampai Meta menembus atas. Namun, Galak yang sekarang tidak. Dia justru hanya diam. Menikmati saja pandangan orang-orang di sekitarnya yang menggumamkan kekaguman. Tanpa Meta tahu, sudut bibir Galak sempat menaik. Jika tidak ada gangguan, mungkin akan melebar menjadi tawa. Namun, senyumannya langsung luruh karena kedatangan Ian dan Saras.


Mereka berdua berjalan berdampingan, dengan saling menggenggam tangan. Bak pangeran dan putri. Siapa sangka jika pangeran itu sempat menjadi tukang kebun sebelumnya. Galak sebenarnya terperangah. Namun, dia menyembunyikan ekspresinya pada wajah dinginnya.


“Ternyata kamu bisa tampan juga, ya?” sindir Galak, menyambut kedatangan mereka berdua.

__ADS_1


Ian menaikkan sudut bibir kirinya. Tersenyum sinis sampai suara dengusannya keluar.


“Kenapa? Apa kamu merasa tersaingi?” Ian balas menyindir.


“Hebat sekali seorang aku memang. Hanya karena ucapan segelintir, seseorang bisa terbang semudah itu. Apa kamu pikir, ada laki-laki lain yang bisa menyamai kesangat tampanan seorang Galak? Kamu hanya taman. Sekadar itu.” Sebenarnya, ucapan halus Galak terdengar kasar.


“Benarkah? Aku akan menganggapnya sebagai pujian.” Ian justru setuju. Jika orang lain di posisi Galak, ini bisa disebut penghinaan.


“Bagaimana aku harus menyebutmu? Tidak punya otak atau tidak punya malu?”


Ian justru tertawa. Seolah kedua pilihan itu hanya lelucon saja.


“Apa aku harus menjawab di depan kedua perempuan cantik ini?” Ian melirik pada Saras dan Meta.


“Apa kamu takut?” sindir Galak.


“Aku hanya tidak mau kalau kamu sampai menganggapku angkuh. Kalau aku memberikanmu jawabanku sekarang, takutnya istrimu jatuh hati padaku.” Ian masih belum meredakan tawanya.


Lelucon ini berujung pemanasan hati Galak. Dia melirik pada Meta di sampingnya. Perempuan itu melihatnya dengan wajah yang diimut-imutkan.


“Meta enggak bakal jatuh hati sama Ian, kok. Suwer. Meta kan, sayangnya cuma sama Sayang Galak.” Meta mengedipkan matanya berulang-ulang.


Dalam suasana panas ini, hanya keimutan itulah yang bisa mendinginkan amarah Galak.


“Pergilah dulu,” kata Galak lirih.


Meta mencebikkan bibirnya. “Tapi, Meta enggak mau pisah sama Sayang Galak.” Meta bertingkah seolah Galak hendak menyeberangi tujuh samudra saja.


“Aku akan menyusulmu nanti. Enggak akan lama.” Janji Galak.


Meta diam sejenak. Berusaha sekali lagi. Barang kali hati Galak akan tergerak. Namun, tidak. Galak tetaplah Galak. Si es batu.


Usai mengembuskan napas, akhirnya Meta menggerakkan kakinya menjauhi Galak.


Apa dia berjalan beriringan bersama Saras dan saling menggantikan pasangan satu sama lain?


Tentu saja tidak. Mereka berdua berpisah terpencar.


“Pilihan yang tepat. Padahal, tadi aku sudah khawatir istrimu akan jatuh hati pada keberanianku.” Ian bersuara setelah kedua perempuan itu lenyap dari jangkauannya.


“Apa maksudmu?”


“Tidak punya rasa takut.”


Galak tidak mengerti.


“… itu jawabanku.”


-oOo-


yuk, kunjungi akun Watt-pad sama Ins-tagramku🤗

__ADS_1


WP: @citragtw


IG: @citragtw_


__ADS_2