
Babang Galak datang lagi 😆😆😆
Sutor: Babang Galak jangan Galak-galak, dong 😙
Galak: Kalau aku gak Galak, terus namaku sapa, Neng? 😑
Sutor: Sayang aja, Bang.
Galak: Itu, mah, mantan kamu 😆😆
Cuz ....
💃💃💃
Sedari tadi Galak menunggu Meta dari dalam mobil. Terlihat Meta keluar rumah, lalu menunjukkan penampilannya. Meta benar-benar tidak terlihat elegan seperti artis lagi. Tanpa make-up dan pakaian yang kebesaran. Meta bahkan harus mengikat erat sabuk di perutnya agar celananya tidak turun.
“Om Galak,” panggil Meta.
“Apa lagi?” sahut Galak.
“Meta enggak cantik lagi. Gimana, dong?” rengek Meta. Ia menyisihkan rambut yang menutupi wajahnya ke belakang telinga.
Ah, satu lagi. Rambut Meta yang terurai itu membuatnya terlihat seperti orang yang belum mandi setelah beberapa hari.
Galak menggeleng-gelengkan kepala. Memangnya untuk apa lagi cantik? Toh, Meta sudah bukan artis lagi. Ia sudah menikah dan tidak akan mencari laki-laki lagi. Walau menikah, Galak bahkan tidak peduli.
“Udah. Masuk,” titah Galak. Ia membuka pintu di sisi sampingnya.
__ADS_1
Bukannya masuk, Meta malah mundur.
“Kalau orang-orang kenal Meta gimana?” tanya Meta.
“Kalau bukan karena kemejaku yang kamu pakai, bahkan aku tidak mengenalimu,” jawab Galak.
Meta masih ragu, tetapi ia berusaha meyakinkan diri. Ia pun masuk ke dalam mobil itu. Tak lama, mobil itu menyala dan beranjak pergi dari halaman vila. Mereka pergi menyusuri sepanjang jalan, lalu berhenti di antara sesama mobil. Rupanya mereka telah tiba di lapangan parkir.
Riuh terdengar di mana-mana. Meta menoleh ke kanan-kiri, bahkan belakang. Mereka sampai di depan sebuah pasar, tapi untuk apa mereka ke sini?
Meta mengernyitkan dahi. Ia menoleh ke arah Galak. “Ngapain kita ke sini?” tanya Meta.
“Belanja,” jawab Galak.
“Tapi, bukannya udah ada pembantu di rumah yang ngurus semua itu?” sahut Meta.
“Ya, itu maksudku. Kalau udah ada pembantu yang ngurus masalah dapur, kenapa kita malah susah payah belanja sayur sendiri?” tanya Meta.
“Kita ke sini bukan untuk belanja sayur,” terang Galak.
“Tapi, kita, kan, ke pasar?” Meta semakin heran.
“Pasar, kan, enggak cuma jual sayur,” jelas Galak.
“Emangnya kita ke sini mau beli apa?” tanya Meta.
“Beli baju kamu, lah. Apalagi?” jawab Galah.
__ADS_1
“ENGGAK MAU!” pekik Meta seketika.
“Jadi kamu enggak mau pakai baju?” tanya Galak.
“Enggak gitu …. Meta enggak mau beli baju di sini. Udah rame, sesak, kualitas bajunya biasa-biasa aja lagi,” ejek Meta.
“Emang ada tempat lain yang jualan baju selain di sini?” sindir Galak.
“Kan, pusat perbelanjaan masih banyak. Butik juga ada,” bela Meta.
“Mereka enggak buka pagi-pagi,” sahut Galak.
“Ya, udah. Meta pakai bajunya Om Galak dulu. Meta enggak keberatan, kok,” jelas Meta.
“AKU YANG KEBERATAN!” sentak Galak.
“Om Galak, kok, galak banget, sih?” protes Meta. Bibirnya sampai mengerucut menyebalkan.
“Baju dari pasar, kan, murah. Pasti kualitasnya buruk banget. Udah tipis, sekali pakai udah sobek,” protes Mera lebih jelas.
“Yang penting, kan, bisa dipakai,” tegas Galak.
“Kalau sekali pakai udah sobek, gimana?” tanya Meta.
“Aku beliin kamu satu toko. Jadi biar bisa ganti setiap hari, bahkan setiap jam, setiap detik kalau kamu mau,” bela Galak.
“Tapi Meta udah muak. Sepanjang hidup Meta sebelum jadi artis, Meta udah puas pakai baju kayak gitu. Apalagi kudu dijahit sana-sini,” Meta berusaha lebih menegaskan.
__ADS_1