
Babang Galak ama Meta balik lagi....
Cuz ...
💃💃💃
Hari pagi tiba. Meta bangun sedini mungkin, ia bahkan sudah merapikan penampilannya. Ia sudah segar karena terguyur oleh air mandi. Bahkan air masih menetes dari rambut pirang panjangnya.
Saat Meta keluar dari pintu kamar, lagi-lagi ia berpapasan dengan Galak yang juga keluar dari kamarnya. Meta langsung menunduk. Mengingat teriakan Galak yang sudah seperti gorila lepas dari kandang, ia menjadi tidak berani.
Galak hanya melemparkan lirikan dingin. Kemudian ia pergi begitu saja tanpa menyapa.
Meta berjalan di belakang Galak tanpa berani mengangkat kepala meski hanya sekali. Mereka pun sama-sama pergi ke ruang makan.
Di ruang makan itu pun, keheningan menjajah seluruhnya. Tidak ada satu pun suara yang berani mengalahkan keheningan ini. Sedangkan Meta malah tersesat di dalam pikirannya.
Apa Meta harus diam terus seperti ini?
Apa Meta harus ketakutan terus?
Lalu bagaimana Meta bisa melahirkan seorang anak nantinya?
Tidak-tidak. Meta tidak bisa terus seperti ini. Perjuangannya belum selesai.
“Sayang Ga—“
Sayang sekali, saat Meta mengangkat kepala, Sayang Galaknya sudah pergi.
Ah, sial! Meta kehilangan satu langkah kesempatannya.
Meta menoleh, mencari Bu Astri. “Bu Astri!” panggilnya.
Perempuan paruh baya yang tadinya hanya berdiri menjauh dari meja makan pun berlari kecil mendekati Meta. “Iya, Nya,” sahutnya.
__ADS_1
“Sayang Galak ke mana?” tanya Meta.
“Barusan pergi keluar, Nya,” jawab Bu Astri.
Meta mengerutkan dahinya. Ke mana Galak pergi dengan terburu-buru sampai tidak menyelesaikan makannya?
Usai menyelesaikan makanannya sendiri, Meta pun bangun. Ia mencari Galak ke sana kemari. Namun, para pekerja malah mengatakan kalau Galak keluar dengan menaiki mobil.
Sepertinya Galak sedang pergi jauh. Meta menggunakan kesempatan ini untuk menyelidiki sesuatu.
Meta pergi ke ruang tamu. Ia menarik gagang telepon rumah yang ada di sana. Ia pun memanggil seseorang.
“Halo, Pama.”
Pama?
Untuk apa Meta menelpon Pama?
“Ada yang perlu kutanyakan,” ujar Meta.
“Apa, Nyonya?”
“Apa Sayang Galak tidak bisa berciuman?” tanya Meta.
Seketika suara tawa meledak dari tempat Pama. Pertanyaan Meta terdengar seperti lelucon baginya.
“Apa Nyonya tidak tahu? Sayang Galaknya Nyonya ini sudah mencium lebih dari seratus perempuan,” jawab Pama.
Brak! Meta langsung menutup telepon itu dengan keras.
Apa?
Seratus perempuan?
__ADS_1
Apa bibir perempuan seperti makanan?
Hari ini gado-gado, besok cendol, lusanya cenil ….
Meta mengercutkan bibirnya. Kepalanya terasa mendidih mendengar jawaban Pama. Kalau Galak bisa mencium lebih dari seratus bibir perempuan, kenapa mencium satu bibir Meta saja tidak bisa?
Kalau Galak bukannya tidak bisa berciuman, apa Galak tidak memiliki ketertarikan pada Meta?
Itu tidak mungkin, kan ….
Galak, kan, juga laki-laki. Mana ada laki-laki yang tidak tertarik kepada Meta? Om Kumis saja sampai mau merelakan istrinya.
Terus kenapa, dong?
Ah, sial! Meta tidak bisa terus menerus seperti ini. Ia harus segera menemukan jawabannya.
-oOo-
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1