Suamiku Galak

Suamiku Galak
40. Wujud Asli Meta 2


__ADS_3

Bertingkah aneh?


Tentu saja tingkah Galak terlihat aneh bagi Meta. Di malam pertemuan pertama mereka, Meta tengah mabuk. Dengan seenaknya perempuan itu merendahkan ciuman Galak—tidak sadar, lalu melupakan. Sedangkan Galak yang sangat kuat dengan minuman, ia sadar sempurna saat itu. Menyadari dan mampu mengingat apa yang terjadi.


Meta memang akan menderita usai pernikahan ini berakhir. Namun, bukan dia satu-satunya yang menderita. Galak bahkan tidak bisa mencium perempuan mana pun lagi. Saat ia mendekatkan bibirnya dengan bibir milik orang lain, selalu kalimat itu yang terngiang. Tentu saja Galak sangat menderita karena itu. Ia adalah laki-laki yang hasratnya mudah tertarik dengan perempuan. Namun, ia tidak lagi bisa menarik perempuan mana pun ke atas ranjangnya. Ia harus menahan hasratnya yang mudah bergejolak untuk selama-lamanya. Jika Meta tidak bisa berkarir lagi, maka Galak tidak bisa menikah lagi. Bagaimana ia bisa menikah, sedangkan ia tidak mampu memberikan sekadar ciuman?


Istrinya hanya akan mengolok-oloknya ….


Usai mengacak-acak rambutnya saking gemas, Galak merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar dengan mata sayu.


“Apa yang kamu lakukan, Galak?” gumamnya menanyai diri sendiri.


Tadi Galak terngiang-ngiang ucapan Meta, kini ia malah terngiang-ngiang oleh bibir merah muda Meta. Tinggal sedikit lagi ia berhasil merasakan kenyalnya bibir itu. Kini, penderitaannya akan bertambah ….


Bukan hanya trauma, tetapi keinginan juga ….


Jangan sampai Meta tahu ….


… Bahkan perempuan mana pun.

__ADS_1


-oOo-


Meta mengerjap-erjapkan kelopak matanya. Meski masih buram, ia bisa melihat seseorang berada di dekatnya. Meta terus mengerjap-erjapkan kelopaknya sampai penglihatannya menjadi jelas.


“Sa-sayang Galak?” akhirnya Meta bersuara. Ia keheranan mendapati Galak sudah berada di kamarnya, bahkan duduk di atas ranjangnya.


Meta tidak bermimpi, kan?


Meta memejamkan matanya lagi. Kemudian membukanya untuk kedua kali. Namun, pemandangan yang dilihatnya tetap tidak berubah.


Hampir saja Meta menutup matanya lagi. Ia mengurungkan karena tangannya terasa disentuh tangan lain.


Meta memebalalakkan bola matanya. Jadi ini bukan mimpi? Tapi kenapa Galak bisa di sini sepagi ini? Bukannya kamar ini adalah jurang neraka yang dipenuhi kera gila bagi Galak?


Yah, meskipun hanya ada satu saja ….


Meta berusaha bangun dengan menyandarkan punggungnya ke punggung ranjang.


“Aaah,” jerit Meta dengan wajah meringis. Akhirnya ia mengingat akan rasa sakit di kakinya.

__ADS_1


“Sayang Galak ngapain di sini?” tanya Meta setelah mendapatkan posisi nyaman.


“Mengajakmu makan,” jawab Galak.


Meta tidak salah dengar, kan?


Biasanya juga Meta yang ajak. Itu pun, Meta masih harus mengobrak-abrik ranjang Galak.


“A-apa ada sesuatu?” tanya Meta. Ia menjadi khawatir.


“Kita bicara nanti aja. Yuk, bangun dulu,” ajak Galak.


Meta menyentuh rambutnya sendiri. Tanpa bercermin, pun, ia tahu benar kalau penampilannya tidak sedang baik-baik saja.


“Tapi Meta masih acak-acakan,” tutur Meta merasa keberatan.


“Enggak papa. Kamu, kan, asalnya emang cantik. Jadi enggak masalah,” sahut Galak berusaha menenangkan.


“Meta tahu kalau Sayang Galak ngomong gitu cuma buat nenangin Meta. Tapi Meta enggak bisa kayak gini aja. Meta enggak bisa kalau Sayang Galak terusan lihat Meta jadi jelek kayak gini. Apalagi pekerja-pekerja lain … kalau Meta diketawain, bagaimana?” Meta panik sendiri.

__ADS_1


Galak mengembuskan napasnya berat. Ia memang bukan perempuan. Namun, ia tahu benar bagaimana tidak nyamannya dirinya saat berada di depan orang dengan penampilan yang tidak rapi.


__ADS_2