Suamiku Galak

Suamiku Galak
72. Kemenangan Meta 2


__ADS_3

Terlambat banget upnya 😭😭 padahal udah usaha nyicil dua hari. Moga aja kalian mau memaklumi dan enggak bosen-bosen baca cerita gila ini 🤗🤗


Tolong tinggalkan komen, please 😥 pendek juga gapapa, kok.


Cuz ....


💃💃💃


“Sayang Galaaak,” panggil Meta dengan nada manja.


Baru satu langkah saja kaki Galak keluar dari pintu kamar Meta, saat menoleh, Meta sudah ada di sampingnya dengan memeluk lengannya.


Galak bergeleng-geleng kepala. Adegan ini malah mengingatkannya pada film horor.


“Meta pengen anu,” ujar Meta.


Dahi Galak mengeluarkan kerutannya. “Apa?” sahutnya.


“Itu lho, anu,” ulang Meta.


Samar-samar Galak mendengar suara cekikikan. Ia pun menoleh. Seketika beberapa pelayan yang menyaksikan dirinya sedari tadi berbalik dan bergegas pergi.


Galak membalikkan pandangannya. Rupanya Meta masih belum mengganti pakaiannya.


Ah, sial! Para pelayan itu tidak berpikir aneh-aneh, kan?


Galak langsung menarik Meta masuk ke dalam kamarnya.


“Anu apa?” tanya Galak usai melepaskan tangan Meta.


“Anu itu lho … yang makan malam dua-duaan. Di atas satu meja dan kursi hadap-hadapan. Sama lilin juga,” jelas Meta.


“Dinner?” tebak Galak.

__ADS_1


Meta menganggukkan kepala. Ah, sial! Satu kata begitu saja bisa-bisanya dia lupa.


“Males,” tolak Galak.


“Aaah …,” rengek Meta sembari memeluk lengan Galak kembali.


“Ya udah ya udah ya udah,” timpal Galak akhirnya setuju. Ia tidak peduli apa yang terjadi nanti, yang penting sekarang ia bisa lepas dari setan Meta ini.


Meta akhirnya melepaskan lengan Galak. Kemudian ia melompat sekali, “Hore! Dinner sama Sayang Galak!” Kemudian ia bergegas keluar dari kamar ini sebelum diusir.


Waktu Meta masih panjang. Akan tetapi, tidak ada waktu panjang dalam memilih pakaian dan berdandan bagi perempuan.


Galak mengembuskan napasnya usai kepergian Meta. Kemudian menutup pintu kamarnya. Ia mengedarkan padangan ke seluruh bagian kamar. Biasanya kamar ini begitu rapi, tetapi pagi ini seolah-olah habis ditimpa tsunami. Selimut menggantung sampai ke lantai, beberapa pakaian bahkan tergeletak di bawahnya.


Ah, sial! Pemandangan macam apa ini? Bahkan bra merah muda masih dipamerkan dengan anggunnya.


Tidak biasanya wajah Galak memerah melihat pemandangan memalukan ini.


Galak malah memasukkan pakaian itu ke dalam tumpukan bajunya di lemari. Itu lebih baik. Lagi pula siapa yang akan berani membuka lemarinya?


Sekarang aman ….


-oOo-


Usai mengenakan celana panjang berbahan denim dan kemeja pendek bergaris-garis dengan warna senada, Galak keluar dari kamarnya. Ia pun mengetuk pintu kamar lain yang langsung berhadapan dengan kamarnya.


Baru saja ketukan terdengar, pintu itu sudah terbuka. Seorang Meta keluar dengan penampilan mempesona.


Meta benar perempuan, kan?


Biasanya perempuan akan randat sana sini untuk berpergian.


Kaki Meta berdiri di atas sepatu kuning seharga seluruh piring di rumah ini. Baju monyet berwarna kuning menambah keserasian. Lalu rambut pirangnya terurai, membingkai wajahnya yang kini penuh dengan riasan tebal.

__ADS_1


Galaklah yang berpenampilan sangat sederhana. Namun, malah ia yang keheran melihat penampilan Meta yang begitu berlebihan. Akhirnya Galak hanya menggeleng-gelengkan kepala. Kalau enggak aneh, bukan Meta namanya.


“Jadi, kita mau dinner di mana sekarang? Restoran mewah, hotel bintang lima, atau Sayang Galak udah nyiapin makan malam istimewa sendiri?” tanya Meta penuh antusias.


“Enggak semuaaa-nya,” timpal Galak.


“Terus di mana, dong? Jangan bilang di rumah tetangga,” tutur Meta memperingatkan.


“Kita enggak punya tetangga, Meta,” jelas Galak.


“Terus di mana, dong?” tanya Meta semakin penasaran.


“Nanti kamu juga bakal tahu,” timpal Galak.


Meta diam. Padahal ia ingin sekali tahu.


“Jadi ikut, enggak? Kalau enggak, biar aku sendiri ke sana,” ancam Galak.


Meta langsung menaikkan senyum di wajahnya. Ia pun memeluk lengan Galak. “Iya, deh. Asal ada Sayang Galak, Meta suka, kok,” timpal Meta setuju.


“Lepasin!” seru Galak dingin sembari melirik tangan Meta yang melingkari lengannya.


“Enggak mau,” tolak Meta. Ia malah memeletkan lidahnya. Kemudian mulai melangkah sehingga langkah Galak ikut tertarik.


Meski Galak terus memasang wajah dingin seolah tak mau disentuh, tanpa Meta ketahui, Galak menyempatkan diri untuk mengukir senyum di wajahnya.


Jika dulu, Galak akan melemparkan tangan Meta agar menjauh darinya. Namun, entah kenapa sekarang Galak malah menginginkan agar waktu bergerak lebih lambat dari biasanya.


Sayangnya itulah waktu ….


Selambat apa pun waktu berjalan, meski membutuhkan seribu tahun untuk memutar satu kali jarum jam, waktu yang terlewati hanya akan menjadi kenangan di masa lalu. Tak ada yang namanya pelan karena waktu yang berlalu hanya akan tersimpan dalam ingatan atau terlupakan.


-oOo-

__ADS_1


__ADS_2