
“Ta-tapi, Nyonya—“
Astri tidak bisa mengungkapkan keberatannya karena Meta langsung memotongnya, “Kalau masalah uang, uang belanja masih ada, kan? Kalau kurang Ibu bisa ngutang dulu. Soalnya Meta enggak bawa uang ke sini.”
Meta mendorong pelan Astri sehingga tubuh perempuan paruh baya itu berbalik. Astri ragu, akhirnya ia tetap melangkah dengan tubuhnya yang gemetar.
Apa sebaiknya Astri kabur saja?
Lalu bagaimana dengan kisah Kepentok Cinta Tukang Kebun-nya?
Astri menoleh, melemparkan tatapan ke arah tukang kebun itu. “Man!” teriaknya.
Tukang kebun itu menoleh. Akan tetapi, ia tidak menjawab.
“Ikut aku, yuk!” ajak Astri.
“Ke mana?” akhirnya tukang kebun itu menyahut.
“Beli cabe rawit sekarung di pasar,” jelas Astri.
Tiba-tiba Astri merasakan pundaknya disentuh seseorang. Astri pun menoleh. Ia langsung terperanjat sehingga langkahnya menjauh dan tangan itu terlepas.
“Eh, Nya ….” Melihat Meta di depannya membuatnya serasa berada di fim horor.
Padahal Meta tersenyum dengan manisnya. Wajahnya itu benar-benar cocok mengisi alam surga.
__ADS_1
“Ibu pergi sendiri aja, ya,” titah Meta.
“E-eh, iya, Nya.” Astri menunduk kemudian pergi begitu saja. Ia tidak lagi berani memprotes. Kini ia harus memikirkan cara untuk mengelak keinginan Aneh Meta.
Meta beralih menoleh tukang kebun tadi. Ia berjalan mendekati laki-laki itu. Jika dilihat baik-baik, laki-laki itu tidak hanya muda, tetapi sangat tampan. Persis seperti Rizky Nazar. Hanya saja berewoknya yang kurang. Pantas saja mata Astri terus berbinar-binar. Mumpung ada mangsa, langsung dipepet.
“Terima kasih, Nya,” sambut laki-laki itu dengan membungkuk. Kemudian bangun dan menegakkan punggungnya lagi.
Tidak perlu bercerita, Meta sudah tahu kisahnya. Laki-laki ini sebenarnya sudah muak dengan Astri. Kalau bukan karena sulitnya mencari pekerjaan, ia takkan kuat berada di sini.
“Enggak papa. Tapi Bu Astri lumayan, lho,” goda Meta.
“Tapi aku maunya cuma sama anaknya.”
--Eh?
“Nama kamu siapa?” tanya Meta.
“Kasman. Nya,” jawab laki-laki itu yang menyebut dirinya Kasman.
Tampan-tampan tapi, kok—
“Kenapa enggak ganti nama Rizky Nazar aja?” tanya Meta.
“Nanti dikira plagiat, Bu. Udah muka copasan, masak masih ditambahin? Kasihan orang tuanya yang kerja keras bikin anak sama bikin nama. Masak aku mau njiplak namanya gitu aja. Perlu izin, Nya. Ini namanya pelanggaran hak cipta,” jelas Kasman.
__ADS_1
“Kan, bisa aja dibilang inspirasi atau kesamaan ide,” saran Meta.
“Ide itu luas, Nya. Kalau tahu ada yang sama, ya, diluasin, lah. Enggak mentok di itu-itu aja,” timpal Kasman.
Meta hanya meringis. Obrolan apaan ini? Dari tanya nama sampai pelanggaran hak cipta.
“Oh, ya, Kasman bisa bantu Meta, enggak?” tanya Meta.
“Bantu apa, Nya?” sahut Kasman.
“Cariin kunci kamar utama kedua,” jelas Meta.
“Tapi aku enggak tahu apa-apa soal isi rumah ini, Nya. Kerjaanku cuma di luar rumah aja,” dalih Kasman.
“Meta cuma nyuruh Kasman minta doang, kok,” bela Meta.
“Tapi tadi ada Bu Astri, kan? Kenapa enggak minta tadi dan malah disuruh pergi?”
“Ya, Kasman bisa minta sama yang lain. Pekerja di sini, kan, enggak cuma Bu Astri.”
“Nya …,” panggil Kasman.
“Hee?” Meta mengangkat kepalanya.
“Boleh aku bilang sesuatu?” tanya Kasman.
__ADS_1
“Apa?” sahut Meta.
“Nyonya beneran enggak jelas,” komentar Kasman.