
Meta langsung berbalik. Ia pun pergi dari kamar Galak, lalu masuk ke kamarnya sendiri. Ia bahkan tidak mau melirik ke arah rak-rak yang masih memenuhi kamarnya. Meta bergegas menggeledahi seluruh kamarnya. Mungkin saja ada uang yang terselip, setidaknya satu atau dua juta saja. Sialnya, siapa yang akan menyelipkan uang sebanyak itu?
Tentu saja tidak ada. Meta tidak bisa menemukan apa pun selain kekecewaan.
Sebenarnya Meta menemukan selembar uang merah di saku, beberapa hari lalu. Sayangnya uang itu sudah lenyap. Meta menggunakan uang itu untuk membuat duplikatan kunci kamar Galak. Makanya ia tidak keberatan membuang kunci yang tadi begitu saja.
Tidak, Meta. Ini baru permulaan. Kamu tidak bisa menyerah begitu saja!
Meta bangun. Ia bergegas mencari seseorang yang ia kenal. Orang itu, akhirnya ia temukan di halaman. Seperti biasa, Kasman tengah sibuk mempercantik tanaman di sana.
“Kasmaaan,” teriak Meta.
Kasman yang tadinya sibuk memotong dedaunan pun menoleh. Melihat Nyonyanya mendekat, ia langsung menghentikan pekerjaannya.
“Iya. Ada apa, Nya?” sahut Kasman.
Meta menunduk. Ia sibuk menggigit bibir sendiri. Sebenarnya ia tidak yakin dengan apa yang akan ia lakukan. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, Meta tidak memiliki banyak pilihan.
“Pinjam uangnya.” Meta menyodorkan telapak tangannya, meminta, dengan memalingkan wajahnya. Ia merasa malu dengan sikap sendiri yang meminta pinjaman dari bawahan.
“Tapi aku enggak punya uang, Nya,” timpal Kasman merasa tidak enak hati.
__ADS_1
Akhirnya Meta menghadap Kasman. Ekspresi wajahnya menjadi sebal. “Aku enggak minta banyak, kok. Paling cuma satu atau dua juta!” serunya.
Dasar Meta. Ia yang meminta malah memaksa.
Kini Kasman gantian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Jangankan sejuta atau dua juta, seratus ribu aja enggak punya, Nya,” tutur Kasman.
“Kalau gitu lima puluh ribu, deh.” Ini adalah penawaran terakhir.
Kasman malah meringis. Kemudian ia mengeluarkan selembar uang merah dari sakunya. “Tapi aku cuma punya segini, Nya.” Kasman menunjukkan uang itu ke Meta.
“Sepuluh ribu?”
Apa uang itu belum punah?
Paling micin doang.
“Ah, enggak usah, deh!” tolak Meta. Ia langsung berbalik. Kemudian pergi entah ke mana.
Tak lama setelah kepergian Meta, Kasman mengeluarkan suara tawa dari mulutnya.
“Apa yang kamu ketawain?” tutur suara lain tiba-tiba.
__ADS_1
Mendengar suara yang tak asing itu, Kasman langsung menghentikan tawanya. Ia menoleh dan segera menunduk. Menunjukkan sikap hormatnya.
Seorang laki-laki berjalan mendekat dengan santai dan kedua tangan masuk ke dalam saku. Dengan penampilan kasual pun, ia tetap terlihat keren. Ia adalah Galak.
“Maaf, Tuan,” tutur Kasman menyesal.
“Dia emang gila. Tapi dia tetap nyonyamu,” tegur Galak.
“Iya, Tuan. Maafkan aku.” Kasman mengangguk berulang-ulang.
Galak tidak terlalu memikirkan itu. Ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna cokelat dari sakunya. Kemudian menyodorkannya ke arah Kasman. “Itu gajimu sekaligus bonusnya,” tuturnya.
Setelah Kasman menerima uang itu, Galak mulai melangkahkan kakinya. Tadinya ia menyuruh Kasman untuk tidak menertawai Meta. Namun, Galak sendiri malah menarik kedua sudut bibirnya.
Semoga saja ini tidak segera selesai. Sebenarnya, ini adalah pertunjukan yang menarik bagi Galak, meski ia hanya memerhatikan Meta dari kejauhan.
“Sudah kubilang, kan, tidak akan mudah berhadapan denganku. Karena saat aku sudah menginginkan sesuatu, aku akan menghalangi orang lain mendapatkannya, termasuk kemenangan dari perang di antara kita,” gumam Galak.
-oOo-
Hayo ....
__ADS_1
Dukung siapa, nih?
Meta atau Babang Calon Mantan Sayang Galak?