Suamiku Galak

Suamiku Galak
12. Pelukan Awal


__ADS_3

Meta mendongak. Ia memasang ekspresi imut di wajahnya. “Tapi, Om Galak, kan, bukan orang sembarangan. Om Galak, kan, suaminya Meta.”


Ah, sial! Itulah kebenaran yang paling menyebalkan dalam hidup Galak. Di antara jutaan perempuan di dunia, kenapa harus perempuan ini? Apa perempuan sehat yang akalnya sudah punah?


“Lepasin!” titah Galak. Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya berusaha melepaskan pelukan Meta.


“Enggak mau,” tolak Meta. Ia malah mengeratkan pelukannya.


Tiba-tiba para wartawan berdatangan. Tidak mau ketinggalan untuk mengabadikan momen langkah ini. Terpaksa Galak menghentikan goyangannya. Ia tersenyum lebar, menyembunyikan kekesalannya. Turut memeluk Meta, bahkan memberikan usapan lembut di kepalanya.


Ah, sial! Apa yang sebenarnya Galak lakukan saat ini?


-oOo-


Setelah pesta pernikahan selesai, Meta langsung diboyong ke rumah Galak. Rumah Galak berbeda dengan rumah utama keluarga Anggara yang hanya dihuni Vera. Di sana ada banyak pembantu berseragam. Halamannya sangat luas seperti taman. Di sini bahkan kamar tidak begitu banyak. Pembantu hanya ada dua orang. Itu pun sudah mengurus semuanya. Sepertinya nenek tua itu sengaja membuat Meta harus mengurus rumah sepenuhnya.


Karena sering bersama perempuan, Galak sengaja tinggal di rumah berbeda. Dia merasa tidak nyaman dengan tindak-tanduknya saat bersama neneknya. Ia bahkan kerap pulang larut malam.


Tadinya Galak menyuruh Meta untuk masuk rumah lebih dulu karena ia harus mengurus sesuatu. Meta hanya menurut. Kemudian duduk di atas ranjang sembari menunggu kedatangan Galak. Namun, sudah lebih setengah jam, Galak belum kembali. Meta jadi gerah sendiri. Apalagi dengan gaun pernikahan yang belum ia lepaskan.


Meta menyerah. Ia bangkit dan melepaskan gaunnya. Kemudian pergi ke kamar mandi. Saat Meta keluar dari kamar mandi, ia sudah mengenakan gaun tidur berwarna cokelat. Pandangannya langsung tertuju pada laki-laki yang tergeletak di atas ranjang dengan mengenakan kemeja putih, sedangkan jasnya tergeletak di sebelahnya. Sudut bibir Meta menaik bersamaan.


Meta bergegas mendekati Galak, duduk di samping laki-laki itu. Ia menatap Galak sampai air dari rambutnya menjatuhi wajah Galak. Laki-laki itu terbangun dan terperanjat seketika.


“A-apa yang kamu lakuin?” tanya Galak sembari bangun.

__ADS_1


“Om Galak kok tidur duluan, sih?” protes Meta.


“Aku capai banget,” jelas Galak.


“Tapi Meta, kok, enggak diajak, sih?” protes Meta lagi.


Galak menepuk bagian ranjang di sampingnya. “Ya udah. Tidur aja di sini. Gitu aja, kok, repot?” Kemudian ia membaringkan tubuhnya lagi.


Meta pun membaringkan tubuhnya di samping Galak. Sedangkan Galak mulai memejamkan matanya lagi.


“Om Galak, Om Galak,” panggil Meta.


“Apa?” sahut Galak tanpa membuka matanya.


“Kita enggak ngelakuin itu?” tanya Meta. Ia mengetuk-etukkan kedua jari telunjuknya.


“Itu lho ….”


“Apaan, sih? Yang jelas, dong!” seru Galak merasa gusar.


“Bulan lalu, kan, Meta habis syuting di hutan …,” tutur Meta mulai bercerita.


Galak tak menyahut. Cerita itu tidak terdengar penting.


“… Terus Meta lihat ada nyamuk yang lagi gandengan,” imbuh Meta.

__ADS_1


“Intinya?” akhirnya Galak menyahut.


“Meta juga pengen digandeng kayak gitu,” jelas Meta.


Galak membuka matanya. Ia memegang tangan kiri Meta dengan tangan kanannya. Ia pun mengangkatnya. “Udah, kan?”


“Ih, bukan gandengan kayak gitu …,” rengek Meta.


.


.


.


.


.


.


Terus gandengan yang kayak apa, Met? 🤔


Gandengan kayak apa, ya? 😅


Btw, aku boleh minta jempolnya, kan 😥

__ADS_1


Please ... 😭😭😭


__ADS_2