Suamiku Galak

Suamiku Galak
8. Menolak Pernikahan 2


__ADS_3

“Apa lagi sekarang?” tanya Vera.


“Seandainya cucu Nyonya berusia tiga puluh, lalu anak Nyonya memiliki anak di usia dua puluh, sedangkan Nyonya melahirkan anak Nyonya di usia dua puluh juga, berarti usia Nyonya sudah tujuh puluh tahun. Meta yakin usia Nyonya lebih dari itu. Tapi wajah Nyonya masih seperti ibunya Meta. Wah, Meta sangat bangga bisa menjadi menantu Nyonya yang begitu awet muda,” puji Meta.


Vera mengusap lehernya sendiri. Ia menjadi malu sendiri.


“Maaf, Tuan. Mobil di parkiran sangat penuh. Jadi aku kesulitan memarkirkannya,” kata Pama yang baru tiba, akhirnya memecahkan kebekuan Galak.


“Siapa dia?” tanya Galak.


“Dia calon istrimu, Nak,” Pama yang ditanya, Vera yang menyahut.


Meta kembali berbalik. Ia mengangkat tangannya, menyapa Galak dengan ramah. “Hai, Om. Meta adalah calon istrinya Om. Salam kenal sebelum pernikahan.”


“O-om?” Galak terperangah dengan penyebutan yang Meta berikan. Ia berjalan mendekati perempuan itu.


“Maaf, Nona. Tapi aku terlalu tampan untuk kamu sebut ‘Om’” tolak Galak.


Meta malah meringis. “Ayolah, Om. Om memang tampan, tapi usia tidak bisa menipu kebenaran.”

__ADS_1


Siapa sebenarnya Meta ini? Perempuan itu selalu berhasil membuat darah Galak menaik.


Galak tidak lagi menyahut. Ia duduk di kursi di samping Vera duduk. Kemudian perkenalan di antara kedua calon pengantin itu dimulai. Sebenarnya Galak tidak ikut memperkenalkan diri. Ia hanya diam, mendengarkan, dan membiarkan neneknya terserah mengatakan apa saja. Ia akan berusaha membujuk neneknya nantinya.


Setelah perkenalan itu usai, Meta pamit pulang lebih dulu. Meninggalkan Vera, Galak, dan Pama yang masih berada di ruang itu.


“Nek, aku tidak mau menikah, apalagi dengan Meta,” rengek Galak.


“Apa aku pernah menolakmu?” sahut Vera.


Galak menggeleng. Lalu kenapa sekarang Vera begitu memaksa?


“Tapi, kenapa, Nenek? Aku baik-baik saja tanpa menikah,” elak Galak.


“Ini sudah dua tahun sejak kematian ayahmu. Lagian kakakmu tidak kembali lagi ke sini. Jadi sekarang seluruh kekayaan ayahmu harusnya menjadi milikmu. Sedangkan syarat untuk mendapatkan seluruh kekayaan itu adalah berkeluarga,” jelas Vera.


“Tapi kenapa harus dengan perempuan itu?” protes Galak.


“Memangnya ada anak pengusaha besar atau artis-artis papan atas lain yang mau menikah dengan anak simpanan sepertimu?” sindir Vera.

__ADS_1


“Tapi banyak, kok, perempuan yang mau sama aku,” bela Galak.


“Paling-paling Mbak Astri yang kerjaannya ngepel di lantai bawah,” sindir Vera.


“Memangnya orang yang kerjaannya ngepel, bukan perempuan?”


“Iyalah. Pak Jono itu.”


“Maksudku Mbak Astri, Nenek.”


“Mbak Astri istrinya Pak Jono.”


“Oh, iya-ya.”


Galak memang disebut-sebut sebagai anak simpanan. Namun, itu tidak terjadi begitu saja. Saat masih muda, ayah Galak sudah berniat menikahi ibu Galak. Vera bahkan sangat menyetujui pernikahan mereka. Namun, karena sebuah kecelakaan, ayah Galak tanpa sengaja malah menghamili perempuan lain. Akhirnya perempuan itulah yang ayahnya Galak nikahi. Karena saking sayangnya dengan ibunya Galak, ayahnya Galak tetap tidak mau melepaskan, bahkan jika hanya menjadi simpanan. Itulah kenapa, Vera sangat menyayangi Galak dibanding siapa saja, termasuk cucu pertamanya.


-oOo-


Tinggalin jempolnya, dong 😉 jangan dikantongin mulu 😥 jempol kalian bener-bener berharga buat semangatku 🤗

__ADS_1


__ADS_2