
“Ah, siaaal!”
Meta memukul-mukul kaki dan tangannya ke atas ranjang. Peluh keringat yang memenuhi wajahnya, kini terisap bersih oleh kain seprai.
Bukannya Meta habis berolahraga, Meta sibuk ke sana sini menjari pinjaman uang. Sayangnya, rupanya takdir tidak berpihak kepadanya. Entah bagaimana ini terjadi, tetapi semua pekerja di rumah tidak punya uang bersamaan. Entah ini adalah sebuah rencana atau solidaritas.
Semua usaha Meta tak membuathkan apa-apa. Ia bahkan tidak berhasil mendapatkan pinjaman uang seratus ribu saja. Apa yang harus Meta lakukan sekarang?
Meta bangun. Posisi tubuh bertelungkup membuat dadanya terasa sesak saja. Ia menyisihkan rambut yang menutupi wajahnya lebih dulu. Kemudian memikirkan langkah selanjutnya.
Apa Meta harus menyerah dari Galak?
Lalu bagaimana kabar harga diri Meta yang setinggi langit itu?
Kalau Meta memilih keras kepala dan tidak mengenakan alas kaki, itu hanya akan menjadi masalah besar untuknya.
Ah, siaaal ….
Apa yang harus Meta lakukan sekarang?
Meta bangun. Tubuhnya terasa lemas. Ia sadar dengan baik kalau ia takkan pernah menang dari Galak. Sepertinya Meta benar-benar harus mengalah dan menjatuhkan diri serendah-rendahnya.
Sebelum keluar kamar, Meta lebih dulu berjalan mendekati rak-rak sepatu itu. Ia memerhatikan mereka semua baik-baik: para pembuat masalah itu.
__ADS_1
Tiba-tiba, Meta terpikirkan sesuatu ….
Seketika wajah Meta kembali cerah. Bola matanya mengeluarkan binaran kekaguman: kagum pada diri sendiri yang begitu cerdasnya.
-oOo-
“Hoaaahm ….” Galak menggeliatkan tubuhnya. Ia bangun dengan senyuman sudah memenuhi wajah.
Hidup Galak memang sempurna—sedari dulu dan tidak pernah berubah.
Sebelum tidur, Galak sudah mendapatkan kebahagiaan dari pertunjukan yang ia tonton. Saat tidur pun, ada tujuh perempuan cantik yang mengisi mimpinya. Nikmat mana yang lebih membahagiakan dibandingkan ini?
Lalu bagaimana dengan kabar Meta?
Untuk pertama kalinya Galak merasa penasaran akan perempuan itu. Entah ulah apa yang telah ia lakukan sepanjang hari.
Saat Galak menoleh kembali, ia dibuat terperanjat oleh Meta yang sudah berdiri dengan senyum semringah di sampingnya.
Ada apa dengan perempuan itu?
“Aku menang,” tutur Meta dengan bangganya.
Galak mengernyitkan dahi. “Menang? Menang apanya?”
__ADS_1
Meta tidak langsung menjawab. Ia malah berjalan ke arah pintu kamarnya, lalu membuka pintu itu. Ia memamerkan kekosongan di dalam kamarnya. Ketujuh rak sepatu itu sudah lenyap dan kamarnya kembali menjadi luas.
HORE!
Galak menyadari semua perubahan itu. Namun, Galak keheranan, ke mana ketujuh rak itu pergi?
“Aku, kan, tadi bilang, kalau aku menjejakkan sepatuku di rumah ini, maka rak-rak itu harus lenyap dari kamarku. Jadi, aku menjual semua sepatu itu ke penjual sepatu di pasar untuk bisa membeli sepatuku sendiri. Lihatlah—“ Meta memamerkan sepatu barunya yang berwarna putih “—ini limited edition, lho,” ujarnya dengan bangganya.
Berbeda dengan Meta, Galak malah mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia tengah berusaha menahan diri, agar tangan itu tidak sampai mencekik
seseorang.
Apa?
Menjual sepatu itu ke pasar?
Lalu menukar sepatu-sepatu yang harganya sama seperti sebuah rumah mewah dengan sebuah sepatu saja ….
Galak tidak salah dengar, kan?
Tidak-tidak. Pendengaran Galak pasti kelilipan tawon.
Benar-benar. Tawon itu pasti sudah menggigit telinga Galak.
__ADS_1
-oOo-
Mari tertawa berjamaah 😂😂