
Tanpa berpikir lebih jauh lagi, Meta langsung beranjak dari posisinya. Ia tengah mengejar Galak. Karena jarak yang amat jauh, memberikan selisih waktu yang banyak. Meski begitu, akhirnya Meta berhasil berdiri di depan Galak, tepat saat Galak hendak masuk ke pintu kamarnya.
“Sayang Galak!” teriak Meta.
Tangan Galak sudah menyentuh knop pintu. Kini ia urungkan. Ia pun berbalik. Rupanya Meta sudah berada di dekatnya dengan posisi membungkuk dan ngos-ngosan. Rupanya ia sedang berusaha memperbaiki pernapasannya.
“Sayang Galak …,” panggil Meta lagi.
“Bukannya Calon Mantan Sayang Galak?” timpal Galak mengoreksi.
Akhirnya Meta bangun. “Sama aja,” katanya, “Mantan Sayang Galak, kan, nanti kalau udah cerai. Sekarang, kan, masih Sayang Galaknya Meta.”
Galak tersenyum sinis. Entah drama apa lagi ini?
“Apa?” sahut Galak.
“Soal yang tadi … soal yang tadi Meta bisa jelasin ….”
“Soal apa?” Galak mengernyitkan dahi. Tidak mengerti.
“Soal Meta yang dipeluk Kasman. Meta—“
“Terus itu urusanku?” sahut Galak memotong ucapan Meta.
“Ha?”
__ADS_1
“Bahkan kalau kamu meluk tukang becak di luar sana, aku enggak peduli,” ujar Galak. Kemudian ia berbalik lagi untuk membuka pintu kamarnya. Obrolan itu selesai saat Galak memasuki kamar itu. Meninggalkan Meta yang masih terperangah dalam kediamannya.
Ah, sial!
Apa yang tadi kamu lakukan, Meta?
Meta juga masuk ke kamarnya sendiri. Usai pintu tertutup, ia mengacak-acak rambut sendiri. Ia sungguh menyesal atas apa yang ia lakukan sendiri.
“Kenapa Meta harus takut, sih, kalau Sayang Galak sampai cemburu?” gumam Meta merasa frustasi. Padahal ia tahu benar kalau Galak tidak punya hati. Tidak mungkin laki-laki itu akan cemburu!
-oOo-
“Dasar Kasman nyebelin!” gerutu Meta sambil berjalan. Semua rasa malunya ini diakibatkan oleh tukang kebun tak tahu sopan santun itu!
Eh? Meta punya rasa malunya, toh ….
Meta pergi ke halaman. Ia tengah menunggu Kasman. Kasman hanya bekerja di pagi hari. Makanya Meta sampai bangun dini sekali—tidak seperti dirinya.
Sudah lama Meta menunggu, tetapi Kasman belum datang juga. Ke mana pekerja sialan itu pergi? Apa ia libur? Apa ia sakit? Jangan-jangan ….
Jangan-jangan Kasman sudah mati lagi.
Oh, Meta …. Kamu ini berpikir atau berharap, sih?
Tiba-tiba Meta teringat perkataan Kasman kemarin. Sebelum Meta selesai berpikir, ia dikejutkan oleh Galak yang tiba-tiba berdiri di depannya.
__ADS_1
“Eh, Sayang Galak,” sapa Meta lebih dulu.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Galak ketus.
“Nungguin Kasman,” jawab Galak.
“Enggak usah nungguin dia!” seru Galak.
“Eh, kenapa?”
“Karena dia enggak bakal ke sini lagi.”
Meta mengernyitkan dahinya. Dia belum bisa mencerna seluruh kata-kata Galak dengan baik.
“Gimana Sayang Galak bisa tahu?” tanya Meta.
“Kamu mau ikut aku, enggak?” Bukannya menjawab, Galak malah mengalihkan topik pembicaraannya.
“Ikut ke mana?” tanya Meta.
“Jalan pagi ke taman,” jawab Galak.
Meta tidak salah dengar, kan?
Ini Galak lho, yang mengajak duluan.
__ADS_1
Meta sendiri merasa bosan di rumah ini. Ia muak terus bertengkar dengan Galak. Sepertinya, menghela udara lain akan membuatnya merasa lebih baik. Meta pun mengangguk. Kemudian mulai melangkah mengikuti Galak. Galak bahkan tidak membawa kendaraannya.
-oOo-