Suamiku Galak

Suamiku Galak
79. Pembalasan Untuk Meta


__ADS_3

Hai-hai ... Babang Galak balik... mana komentarnya 😁😁😁


Cuz ....


💃💃💃


Usai melalui waktu dan menyapa udara di sekeliling, akhirnya kaki Galak bisa kembali memijak kotanya. Ia bahkan sudah menyapa macetnya jalan raya. Kini tersisa mimpi yang menggodanya sedari tadi.


Ya. Galak ingin tidur dan menelan lelah yang mengalir dalam dirinya.


Bibir Galak menggoreskan lengkungan. Ia kembali memasuki kamar, yang hanya beberapa kali ia tempati sebelumnya. Meski telah banyak terjadi semasa bulan madunya, Galak masih tidak tertarik untuk tidur hanya satu kamar dengan Meta.


Lagi pula semua ini akan berakhir dalam dua bulan ….


Tangan Galak melepaskan pegangan pada kopernya. Kemudian tubuhnya lepas landas menjatuhi ranjang besar nan empuk itu. Mencumbui seprai bercorak cokelat bergaris putih yang telah diganti—sebelumnya tidak demikian.


Pandangan Galak mengarah ke atas, menuju langit-langit kamarnya yang memutih. Kemudian kelopaknya bergerak perlahan. Menyelimuti mata sembari membebaskan napas yang menarik diri ke dalam dada.


Brak!


Ah, sial! Mimpi yang melambai-lambai sembari menawarkan tangannya telah pergi. Semua ini karena ….


“Sayang Galaaak ….”

__ADS_1


Heuh …. Siapa lagi kalau bukan Meta?


Bola mata Galak langsung terbuka. Ia menoleh ke arah pintunya. Rupanya Meta sudah berdiri di tengah-tengah. Ia pun bangun. “Bagaimana kamu bisa membuka pintunya?” tanyanya memekik.


“Masak Sayang Galak enggak tahu cara buka pintu? Tinggal pegang gagang pintu kamarnya, terus tarik, baru dorong. Jangan kebalik, ya, Sayang Galak. Kalau yang kebalik itu pintu masuknya Meta,” ujar Meta dengan penuh bijaksananya. Seolah guru yang ditanyai muridnya.


Dahid Galak berkerut. Seingatnya ia sudah mengunci, tapi ….


Ah, sial! Bagaimana Galak bisa lupa kalau ia tidak langsung mengunci pintu kamarnya?


Kini Galak harus menanggung risiko akan kecerobohannya.


“Jadi, ada apa?” tanya Galak.


Alis Galak tertarik. Apa yang sebenarnya Meta lakukan?


Seketika bola mata Galak melebar. Meta tidak akan pindah ke sini juga, kan?


“Ngapain kamu bawa koper ke sini?” tanya Galak dengan intonasi suara meninggi.


Roda di bawah koper itu berhenti bergerak, mengikuti langkah kaki Meta.


“Sayang Galak, kan, udah pindah ke sini. Berarti Meta juga, dong,” simpul Meta.

__ADS_1


“Apa urusannya?” sahut Galak.


“Meta sama Sayang Galak, kan, udah bersatu. Jadi, udah enggak bisa dipisahkan untuk selamanya. Kayak gini, nih ….” Kedua jari telunjuk Meta berpelukan, seperti membuat rantai.


“Enggak sudi!” seru Galak.


Bibir Meta mengerucut. Padahal kemarin-kemarin Galak sudah berhasil ia luluhkan, kenapa sekarang kembali ke mode perjuangan, sih? Berjuang itu kan susah!


“Sekarang kamu pergi dari kamarku. Aku ingin tidur!” tegas Galak. Ia pun merebahkan punggungnya ke atas ranjang lagi.


Meta tidak mau menyerah begitu saja. Bukannya pergi, ia malah mendekati area ranjang. Ia turut merebahkan tubuhnya di samping Galak.


Merasakan perubahan dari ranjangnya yang tenang, Galak melirik. “Apa yang kamu lakukan?” tanyanya.


Meta membantali kepalanya dengan tangan yang bertumpu di atas ranjang. Kakinya berselonjor miring.


“Menggoda Sayang Galak,” jawab Meta.


“Kamu semakin berani aja,” sindir Galak.


Entah perempuan macam apa yang Galak nikahi ini …. Tidak seperti perempuan lainnya yang selalu bertingkah tenang dan manis. Kalau bergerak, ujung-ujungnya malah nangis.


“Iyalah. Meta kan pengen dapatin Sayang Galak,” aku Meta.

__ADS_1


“Kalau gitu bertingkahlah yang benar. Laki-laki mana yang akan suka dengan perempuan yang melempar harga dirinya di kandang bebek sepertimu?”


__ADS_2