
Entah sejak kapan perubahan ini terjadi. Galak tidak pernah menyangka bahwa pikirannya akan terusik oleh seorang perempuan yang telah pergi.
Awalnya, dia berpikir pernikahan ini tidak akan memengaruhinya. Ini sekadar tempat baginya mengeruk keuntungan. Namun, kepergian Meta justru membuatnya merasa kehilangan.
Galak menghadap layar laptop yang menayangkan beberapa tabel. Namun, dia justru melihat bayangan Meta yang berlompatan. Pikiran Galak tidak bisa melepaskan perempuan itu.
Galak menyadari bahwa dia tengah terusik. Dia pun menghubungi Pama.
“Cari tahu di mana Meta sekarang!” titahnya.
“Tapi, bagaimana dengan Nyonya? Dia sudah menyuruh Tuan untuk melepaskan perempuan itu sepenuhnya.”
“Tenanglah. Aku tidak akan menemuinya. Aku hanya ingin melihat bagaimana kabarnya.”
“Baiklah. Aku akan mencari tahu tentangnya.”
Galak menutup ponselnya. Kemudian meletakkannya di atas meja. Dia sudah melepaskan diri dari pekerjaannya. Jemarinya mengetuk meja berulang-ulang. Mengiringi detik yang berlalu lambat.
Berulang-ulang Galak melirik ponselnya. Dia sudah tidak sabar menanti panggilan Pama kembali. Namun, meski Pama sudah menghubunginya, Galak tetap tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
“Maaf, Tuan. Kami kehilangan jejak Nyonya Meta.”
__ADS_1
Galak langsung terbangun. “Bagaimana bisa?”
“Kami juga tidak tahu. Dia menghilang tiba-tiba setelah keluar dari rumah ini.”
“Tapi ini sudah beberapa hari berlalu. Apa kamu sudah menghubungi seluruh kenalannya?”
“Kami sedang memrosesnya.”
Itu bukanlah jawaban yang menenangkan.
“Tapi, Tuan ….”
Hampir saja Galak memutuskan sambungannya.
“Aku sedikit penasaran dengan siapa Nyonya Meta berbicara dari telepon hari itu.”
“Telepon?”
“Iya. Setelah Tuan mengusirnya, dia masih berdiam di depan gerbang. Kemudian dia mendapat panggilan dari seseorang. Dan ekspresi wajahnya seketika berubah.”
“Ke mana dia pergi setelah itu?”
__ADS_1
“Aku sudah menyelidikinya. Tapi dia menghilang setelah menyeberang jalan. Karena tidak ada CCTV di sana.”
“Cepat cari tahu ke mana dia pergi!”
Seketika Galak merasa khawatir. Seharusnya Galak tidak bertingkah begitu. Meta sudah besar dan bisa berpikir. Perempuan itu pasti baik-baik saja.
Beberapa hari kemudian, Galak kembali mendapat panggilan dari Pama. Sayangnya, Pama justru memberikan kabar mengecewakan.
“Maaf, Tuan. Kami tidak menemukan jejak apa pun mengenai Nyonya Meta. Kami sudah menghubungi seluruh teman-temannya, tapi mereka tidak mendapatkan kabar apa pun dari Nyonya Meta. Kami juga sudah mengerahkan beberapa orang untuk menjelajahi bandara, stasiun, dan terminal. Tapi kami tetap tidak menemukan apa pun.”
Rasanya Galak ingin melempar ponselnya. Percuma saja memilikinya jika tidak bisa mendapatkan kabar yang diinginkannya. Hanya saja, Galak cukup sadar untuk melakukan itu.
Pikiran Galak berputar. Dia berusaha mencari celah. Dan perputarannya berhenti pada nama Ian.
Ya. Laki-laki itu cukup dekat dengan Meta dan sangat licik. Bahkan skandal yang menimpa Meta karena jebakan laki-laki itu. Galak pun bangun. Dia bergegas menuju mobilnya kemudian melajukannya dengan kecepatan yang tinggi. Seolah-olah ada badai yang membelah jalan raya. Dia pergi menuju apartemen Ian.
Pintu apartemen itu tidak dikunci sehingga Galak memasukinya tanpa rasa sungkan. Namun, Galak justru disambut kegelapan. Bau menyengat meliputi ruangan itu. Galak meraba dinding. Dia mencari tombol untuk menyalakan lampu. Setelah ruangan menjadi terang, dia mendapati seorang laki-laki yang hanya duduk di depan meja yang dipenuhi minuman. Itu Ian. Dia tampak buruk dengan keadaannya sekarang. Sepertinya dia begitu terpuruk. Namun Galak tidak memedulikannya sama sekali. Melihat wajah menyebalkan itu, amarah Galak seketika meledak seperti gunung merapi.
Galak langsung menarik kerah baju Ian dan mendorongnya sampai menabrak ranjang. Kemudian menarik kerah itu lagi agar laki-laki itu tidak lari. Gigi Galak menggertak seolah ingin mencabik-cabik laki-laki ini.
“Di mana Meta?!” teriak Galak.
__ADS_1
“Dia istrimu. Kenapa menanyakannya padaku?”