
Beberapa tahun kemudian.
Leo dan Adel semakin bertumbuh besar, kini dua kembar itu berusia tepat 15 tahun.
Wajah Leo sudah menampakkan kemiripan dengan Daddy nya. Sedangkan Adel, sangat mirip dengan sang Mommy. Mereka tumbuh dengan baik.
Pagi yang cerah untuk memulai hari, di meja makan, Diana sudah menata rapi piring-piring bersama beberapa pelayan.
"Pagi sayang," sapa Nathan sembari mencium pipi Diana lalu mengkode para pelayan agar pergi.
"Jangan peluk-peluk, ini waktunya sarapan." Diana mencubit pelan tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
"Biasanya juga kita pelukan," ucap Nathan tak mau melepaskan pelukannya.
"Nanti kalau anak-anak lihat, bagaimana? Itu kan tidak baik."
"Apanya yang tidak baik? Justru dengan sering melihat kita bermesraan mereka akan tau bahwa mereka lahir di keluarga yang harmonis," ucap Nathan tak mau mengalah.
"Pagi Mommy, pagi Daddy," sapa Leo sembari melirik sekilas orang tuanya lalu duduk di kursinya.
"Pagi sayang, bagaimana tidurnya? Nyenyak?" sapa Diana kembali.
"Iya," jawab Leo singkat.
"Adel mana?" tanya Nathan yang akhirnya melepaskan pelukannya lalu duduk di kursinya.
Leo yang mengangkat kedua bahunya tanpa berniat menjawab.
"Panggilkan adik mu!" titah Nathan.
Leo pun menatap kesal ke arah Nathan lalu berdiri dan pergi ke kamar adiknya. Setiap pagi selalu saja seperti ini, Adel harus di panggil dulu baru mau sarapan.
Sesampainya di depan pintu kamar, Leo pun mengetuk pintu.
Karena tak ada jawaban, Leo pun membuka pintu dan mencari sang adik yang mungkin tengah melakukan kebiasaan buruknya.
Leo berjalan ke arah lemari, lalu membuka lemari pakaian milik Adel. Di sana, terlihat Adel tengah duduk sembari berdendang pelan lalu tertawa kecil.
Awalnya, Leo sempat merinding melihat sang adik yang benar-benar aneh. Namun, berjalan dengan waktu ia mulai terbiasa.
"Waktunya sarapan," ucap Leo.
Adel pun menatap sang kakak lalu tersenyum kecil dan mengangguk.
"Gendong," pinta Adel manja sembari mengangkat kedua tangannya.
"Ck, jangan manja! Aku belum cukup besar untuk menggendong mu," ucap Leo pergi meninggalkan Adel yang masih tersenyum.
__ADS_1
"Adek pergi makan dulu yah," ucap Adel setengah berbisik lalu keluar dari lemari pakaian dan mengikuti sang kakak.
Sesampainya di meja makan, Adel langsung menyapa kedua orang tuannya lalu duduk di kursinya.
"Daddy, boleh tidak kalau Adel tak sekolah?" tanya Adel di sela sarapan mereka.
"Kenapa?" tanya Nathan.
"Adel tidak mau sekolah, Adel tidak suka belajar," jawab Adel dengan tampang tak berdosa.
Mendengar itu, Nathan dan Diana pun saling menatap. Memang benar, kalau Adel sangat malas sekolah, putrinya itu lebih suka belajar di rumah dan pelajaran nya pun harus mengenai tumbuh-tumbuhan.
"Sayang, sekolah itu sangatlah penting. Suka tak suka, Adel harus sekolah."
Mendengar itu, Adel pun langsung cemberut karena ia sangat tak suka bersekolah. Di sana, ia harus belajar, berteman dengan banyak orang, mengerjakan tugas dan aktivitas menjengkelkan lainnya.
Berbeda dengan Adel, Leo sangat suka bersekolah, bahkan ia ingin bersekolah juga di hari libur. Di sekolah ia bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan, seperti memukul orang.
Setelah selesai sarapan, Leo dan Adel pun pergi ke sekolah bersama Nathan, sedangkan Diana akan tetap berada di rumah menunggu kedatangan suami dan anak-anaknya untuk kembali memulai hari yang indah.
*****
Malam harinya.
Di ruang keluarga.
"Iya."
"Kenapa berkelahi, sayang? Itukan tidak baik," tanya Diana memperhatikan raut wajah kesal putranya.
"Mereka menjijikkan," jawab Leo.
"Lanjutkan," ucap Nathan memberikan jempol. Alhasil, Diana pun melotot ke arah suaminya membuat laki-laki itu tersenyum menggemaskan.
"Apapun itu alasannya, memukul orang itu tidak baik, sayang. Cobalah menjadi pribadi yang tenang, jangan mudah emosi. Kalau minsalnya Abang sedang duduk lalu tiba-tiba di pukul, apa Abang tidak marah? Marah kan? Mungkin akan dendam, jadi, jangan seenak hati memukul orang yah," ucap Diana menasehati putranya yang tampak mulai tak berselera makan.
"Tapi mereka mau berteman dengan Abang, Abang kan tidak suka kalau berteman dengan mereka. Abang benci mereka, mereka bau," ucap Leo masih tak mau mengalah.
"Bau apa?" tanya Adel yang sedari tadi hanya diam memperhatikan keluarganya.
"Bau rokok," jawab Leo ketus.
"Eum, kalau Adek sih tidak suka berteman dengan orang-orang di sekolah karena mereka itu jelek," ucap Adel sembari menyandarkan kepalanya di bahu sang Abang.
"Memangnya kamu cantik?" tanya Leo.
"Cantik lah, banyak tuh laki-laki di sekolah yang menyatakan cinta, memberikan hadiah," jawab Adel menepuk dadanya bangga.
__ADS_1
"Apa? Siapa laki-laki tak tau malu itu, ha? Berani-beraninya dia menyukai anakku!" sahut Nathan geram.
Melihat itu, Diana menggeleng karena pusing menghadapi sifat keluarganya yang unik-unik.
"Sayang, dengarkan Mommy. Baik itu Abang maupun Adek, kalian berdua tidak boleh memandang orang lain rendah, itu tidaklah baik dan Mommy tidak akan suka. Mungkin saat ini kita ada di atas mereka, memiliki apa yang mereka tak punya, tapi, percayalah, hidup ini berputar bagaikan roda. Kadang kita di atas kadang kita di bawah, kita butuh teman, kita tak bisa sendiri. Mommy sangat menyayangkan sikap kalian yang terlalu memandang remeh orang lain, asal kalian tau, Mommy juga bukan berasal dari orang kaya, Mommy hanyalah orang tak punya yang dipertemukan dengan laki-laki kaya yaitu Daddy kalian," jelas Diana sembari memandangi kedua anaknya yang mulai menunduk.
"Mommy tak memaksa kalian untuk berteman, tapi, jangan pernah pandang remeh orang lain. Kita tak tau apa yang sudah ia lewati kemarin, hari ini dan esok. Kita tak tau perjuangan nya untuk hidup, mereka juga tak mau lahir dengan fisik yang tak cantik atau tampan, mereka juga tak mau lahir dalam keadaan tak punya uang. Semua itu sudah takdir jadi kita hanya perlu menerima dan bersyukur lalu saling menghargai, paham?" lanjut Diana.
"Iya Mom, maaf yah." Kedua kembar itu menunduk merasa bersalah, jika sang ibu sudah berbicara maka mereka akan diam dan menurut. Lain halnya jika yang menasehati itu adalah Nathan, maka mereka akan menjadi lebih kerasa kepala.
"Istriku hebat," bisik Nathan mendapatkan cubitan kecil di lengannya.
"Kau juga jangan mengajari mereka yang tidak-tidak," balas Diana membuat Nathan cengengesan.
"Kemari, mendekat lah. Kita harus berpelukan agar keluarga kita tetap harmonis," ucap Diana merentangkan tangannya.
Leo dan Adel pun saling menatap lalu mendekat dan memeluk kedua orang tua mereka.
"Kami selalu berharap kalian tumbuh dengan baik dan juga menjadi orang baik." Diana mencium kening putra-putrinya bergantian.
"Jadi anak yang tampan dan juga cantik yah," ucap Nathan mencium kening putra-putrinya juga secara bergantian.
"Iya," jawab Leo dan Adel bersamaan.
"Kalian sudah semakin besar, dulu kalian seperti anak kucing yang kalau di cekik langsung mati," ucap Nathan tersenyum sembari memandangi kedua anaknya yang kini tengah memasang ekspresi syok.
_
_
_
_
_
_
_
_
...Maaf yah telat beberapa hari. Sebab author masih mengistirahatkan mata untuk beberapa hari karena sakit....
Kenapa belum tamat?
...Ini udah di penghujung yah, bentar lagi perpisahan 😁tapi nyusun alurnya agak susah, jadi harus bersabar yah. 🙃...
__ADS_1
tbc.