
Pagi harinya.
Setelah kejadian semalam, Nathan tampak masih tidur dengan pulas sama seperti Diana. Dua insan itu terlihat sangat lelah karena saling adu urat semalaman.
Akhirnya, Nathan pun mengalah dan membiarkan Diana untuk tidur di atas ranjang sedangkan bayi Nara tidur di boks bayi.
Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh, tapi dua insan itu tak kunjung bangun. Yang ada mereka malah semakin menarik selimut untuk menghangatkan tubuh mereka.
Hingga terdengar suara tangisan bayi Nara yang membuat kedua insan itu pun mulai terganggu tidurnya. Diana mengucek matanya yang perih karena masih mengantuk, ia pun duduk dan menetralkan penglihatannya. Setelah itu, Diana pun berdiri lalu berjalan ke arah bayi nya.
Karena mengantuk, Diana hampir lupa jika ia memiliki bayi yang harus mandi, di berikan susu dan juga di rawat.
"Kita mandi yah," ucap Diana mengangkat bayinya yang juga baru bangun tidur.
"Aku juga mau mandi, jadi biarkan aku saja yang memandikan nya," ucap Nathan membuat Diana langsung membalikkan tubuhnya dan menatap aneh ke arah laki-laki yang baru bangun itu.
"Apa lihat-lihat? Mau ku congkel matamu, ha!" gertak Nathan membuat Diana takut.
Terlihat Nathan berdiri lalu berjalan ke arah Diana.
"Sini bayiku!" titah Nathan merebut paksa bayi Nara dari gendongan Diana.
"Bayi mu? Sejak kapan bayi ku menjadi bayi mu?" tanya Diana tak terima.
"Sejak kau makan satu butir nasi dari rumah ku!" tekan Nathan berjalan ke arah kamar mandi.
"Kau tidak tau bagaimana caranya memandikan bayi, nanti kau bisa melukai bayi ku!" teriak Diana membuat Nathan menghentikan langkahnya lalu mengangkat jari telunjuknya dan mendorong kepala Diana dengan jari telunjuknya.
"Diam kau bocah!"
Setelah itu, Nathan pun memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi. Diana pun berniat untuk ikut, tapi Nathan sudah mengunci pintu kamar mandi.
Ceklek.
__ADS_1
Pintu kamar mandi kembali terbuka, Nathan tampak masih menggendong bayi Nara yang tampak merengek.
"Ambilkan handuk dan juga pakaiannya, cepat!" titah Nathan lalu kembali menutup pintu membuat Diana was-was. Bagaimana bisa Nathan memandikan putrinya sedangkan laki-laki itu hanya tau membunuh orang lain saja.
Diana sangat takut, Nathan akan membuat putrinya cidera nanti.
Di dalam kamar mandi, Nathan tampak berhati-hati, ia bahkan langsung duduk di atas lantai kamar mandi dengan tangan yang bergetar karena sangking hati-hati nya.
Ia menyiapkan air hangat ke dalam bak bayi, perlahan Nathan pun membersihkan tubuh bayi Nara dengan mengusap-usap pelan tubuh bayi mungil itu menggunakan air hangat yang sudah ia siapkan.
"Jangan rewel yah, kalau rewel nanti aku tenggelamkan," ancam Nathan.
Untungnya ia sudah belajar dari pak Hans bagaimana cara memandikan bayi, bahkan langsung praktik dengan bayi Nara sebanyak dua kali tanpa sepengetahuan Diana. Jadi, Nathan sudah bisa di katakan lumayan dalam memandikan bayi Nara.
Setelah selesai memandikan bayi Nara, Nathan pun meraih handuk yang ada di dalam kamar mandi. Ia baru ingat tadi ia meminta Diana untuk menyiapkan handuk, padahal memang sudah ada handuk khusus untuk bayi Nara di kamar mandi.
"Udah segar yah bayi Daddy," gumam Nathan tersenyum senang. Sepertinya ia sudah mendapatkan aktivitas favorit di dalam hidupnya, yaitu mengasuh bayi.
Nathan pun keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan basah sembari menggendong bayi mungilnya, ia berjalan ke arah ranjang di mana Diana sudah berada di sana.
"Siapa kau? Apa hak mu mengatur-atur ku, aku akan mendandani bayi ku sendiri tanpa bantuan siapapun!" tekan Nathan menolak memberikan bayi Nara pada Diana.
"Tapikan dia bayiku, aku yang melahirkannya." Perasaan Diana mulai tersakiti terbukti dari matanya yang sudah berkaca-kaca.
Ia merasa bahwa ia sedang dipisahkan dan di beri jarak antara ia dan putrinya.
"Apa aku peduli?"
Nathan tampak sangat asyik memakaikan bayi Nara bedak bayi yang banyak tanpa memperdulikan Diana yang sudah mulai menangis.
Diana pun menatap wajah sang putri, ternyata bayinya lebih nyaman dengan orang asing daripada dengan ibunya sendiri.
"Untuk apalagi aku hidup? Semua orang sudah tak membutuhkan ku lagi," lirih Diana menatap sendu dua insan yang berbahagia di hadapannya itu.
__ADS_1
"Aku akan mati saja," lanjut Diana membalikkan badannya lalu berjalan keluar dari kamar.
"Aku ingin bunuh diri saja," tangis Diana berjalan ke arah kamarnya. Ia bersungguh-sungguh mengatakan itu karena perasaannya sangatlah sedih, ia seperti tak dianggap lagi di dalam kehidupan ini.
Kini putrinya seakan melupakan dirinya, padahal di dalam hidup Diana, Nara lah keluarga satu-satunya walau kehadiran bayi itu karena sebuah kesalahan.
Di dalam kamar, Diana duduk di atas ranjang sembari terus menangis. Hatinya sangat hancur, bahkan ia harus mengurangi waktunya untuk sang anak karena sudah ada orang asing yang lebih bisa membuat anaknya nyaman.
"Aku ingin mati saja," tangis Diana pilu.
"Aku rindu Nara ku. Nara sayang, sini ibu peluk." Diana sudah seperti orang gila, bicara sendiri dan tersenyum sendiri.
"Nara putri ibu, menangis lah sayang lalu datanglah pada ibu. Ibu merindukan mu Nara, ibu rindu suara tangis mu dan lembutnya kulit mu. Apa kau sangat nyaman dengannya hingga melupakan ibumu, nak? Nara sayang, datanglah, nak."
_
_
_
_
_
_
_
_
...Eum, kelewatan si Nathan ini.🔪 maunya menguasai milik orang lain sesuka hatinya 👊...
...Yuk ibu-ibu, kirim Bogeman online buat Nathan yang sudah memisahkan dan memberi jarak antara ibu dan anaknya....
__ADS_1
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
tbc.