
Baron berteriak kesal karena anak buahnya belum bisa menemukan Diana. Hingga pemeriksaan CCTV pun dilakukan.
Baron tersenyum sinis melihat rekaman CCTV yang menakjubkan.
"Pergi ke labirin dan temukan dia!" titah Baron pada anak buahnya. Sedangkan Zeno kini berada di ruang perawatan untuk mengobati luka di perutnya.
Baron berjalan kembali ke arah ruang penyekapan Diana tadinya, namun ia tak masuk ke ruangan itu. Namun, Baron berjalan menuju ruangan rahasia yang ada di balik dinding.
Ia pun masuk ke ruangan itu dan menatap kasur putih bersih dan satu buah lampu yang ada di dinding.
"Ternyata setelah kau matipun, kau tetap saja menyusahkan!" sinis Baron menatap ruangan kosong itu.
"Aku tau kau di sini, ja*ang! Aku akan menemukan wanita itu lalu membunuhnya dan menguburnya di ruangan ini juga, agar kau memiliki teman di sini nantinya," tegas Baron lalu keluar dari ruangan itu dengan rahang yang mengeras dan tangan yang mengepal.
Di sisi lain.
Diana masih berdiri menatap lorong-lorong labirin, ia pun meyakinkan dirinya untuk melangkah menuju salah satu labirin itu.
Ingat satu hal, bahwa aku akan selalu berada di ujung labirin jika kau bisa melewatinya.
Diana yakin, suaminya pasti sudah ada di ujung labirin, ia harus semangat dalam melewati ujian hidup ini.
Diana meraba-raba dinding labirin, berharap ia akan merasakan sesuatu. Hujan sangat deras membuat kepala Diana seperti di jatuhi puluhan paku, penglihatannya pun menjadi terganggu karena derasnya hujan.
"Tidak ada dinding dingin," gumam Diana terus meraba. Melihat lokasi nya yang keluar dari arah belakang rumah, mungkin saja labirin ini sama seperti labirin yang ia lewati sewaktu itu.
"Cepat cari dia!"
Diana menghentikan langkahnya ketika mendengar suara laki-laki yang ia yakini adalah orang jahat, jantung Diana berdetak kencang, ia harus kemana sekarang? Apa ia harus berdiam diri saja atau tetap mencari petunjuk?
Diana terus meraba dinding berharap menemukan sesuatu di dinding itu, ribuan doa ia panjatkan agar ia dapat dimudahkan melewati semua cobaan hidup yng berat ini.
Tangan Diana berhenti meraba ketika merasakan sesuatu yang berbeda. Tiba-tiba saja Diana merasakan dinding yang tengah ia raba itu hangat, padahal dinding lain normal-normal saja.
"Itu berarti dinding nya akan panas jika hujan dan akan dingin jika panas," batin Diana.
Diana pun terus meraba mencari petunjuk lain. Syukurlah anak buah Baron belum menuju ke arahnya, padahal kalau di pikir-pikir mereka adalah bawahan Baron, bagaimana mungkin mereka bisa tersesat walau dalam kegelapan.
Arghhhh!
Langkah kaki Diana terhenti mendengar teriakan kesakitan, Diana pun perlahan mengintip karena posisinya sekarang ada di simpang pertengahan labirin.
Diana menutup mulutnya melihat ada tiga pria yang menghabisi satu pria lainnya.
__ADS_1
"Mengapa mereka saling membunuh?" tanya Diana dalam hati.
Diana tak bisa bergerak dari posisinya sebelum tiga pria itu pergi dari sana. Tampak di sana, tiga pria itu menarik jasad pria yang sudah mereka bunuh masuk ke dalam lorong-lorong labirin.
Ini adalah kesempatan bagi Diana untuk melewati simpang itu dan masuk ke salah satu lorong yang ada di depannya.
"Ternyata kau di sini!"
Diana terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya ketika salah satu anak buah Baron menarik tangannya.
Diana berusaha memberontak sebelum anak buah Baron yang lain datang.
"Lepaskan aku! Aku ingin pulang dan bertemu anakku!"
Diana masih mencoba melepaskan cengkraman tangan anak buah Baron.
Jleb!
Tiba-tiba saja seseorang menancapkan pisau ke leher anak buah Baron dari arah belakang. Perlahan cengkraman di tangan Diana melemah membuat wanita itu langsung menarik tangannya.
Tampak si pemegang pisau kembali menancapkan pisau di perut anak buah Baron berkali-kali hingga laki-laki itu pun terkapar tak bernyawa.
Diana memundurkan langkahnya melihat si pembunuh yang masih berdiri di depannya. Hingga laki-laki pembunuh itu membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Diana.
Ah, yasudah lah. Yang terpenting sekarang adalah kabur, pikir Diana.
Diana terus berjalan sembari meraba dinding, ia seperti hanya sendirian di labirin itu. Tak ada lagi keributan ataupun anak buah Baron yang berjalan kesana-kemari mencarinya.
Tiba-tiba saja kepala Diana sakit membuat wanita itu menghentikan langkahnya dan memilih berhenti berjalan sebentar. Diana memegangi kepalanya yang sakit, ia sudah sangat kedinginan namun ia harus tetap berjalan agar bisa pulang dan memeluk putrinya.
"Jika nanti ibu tak bisa pulang, maka satu pesan ibu untuk mu, nak. Hiduplah dengan bahagia walau tanpa ibu, kau adalah permata kehidupan ibu, hiduplah demi ibu, Nara."
*****
Di mansion, Rayyan, Xeon dan pak Hans berdiri di kamar Nathan menatap laki-laki itu yang tengah menidurkan Nara.
Nathan tampak kesulitan karena Nara yang kelaparan, alhasil ia pun hanya memberikan air putih saja pada bayi mungil itu.
"Tuan.....
"Shuut! Kau tau bagaimana sulitnya aku menidurkan putriku, jangan berisik!"
Rayyan berdecak kesal karena tuannya semakin menjengkelkan, padahal ada nyawa yang harus diselamatkan dengan segera.
__ADS_1
Nathan tampak mengangkat Nara dan meletakkannya di boks bayi, setelah itu Nathan tampak melirik jam tangannya lalu tersenyum kecil.
"Pak Hans, jaga putriku dan jangan sampai dia menangis. Jika, dia menangis maka kau akan ku buat menangis juga!" titah Nathan berjalan ke arah pak Hans.
"Kau harus berada di dekatnya dan tak boleh tidur. Laporkan semua pergerakan tubuhnya saat tidur melalui pesan, mengerti?"
"Saya mengerti, tuan."
"Dan kalian, dua bajingan! Ikuti aku!" lanjut Nathan berjalan keluar diikuti Rayyan dan Xeon.
"Kita akan kemana, tuan muda?" tanya Xeon.
"Jangan banyak tanya sebelum aku memilih untuk tidur!" ketus Nathan membuat Xeon langsung diam.
"Berdoa saja semoga dia belum mati, jika dia mati maka aku akan mencari istri baru," lanjut Nathan dengan nada santai dan pastinya sangatlah menjengkelkan.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...Nanti kita sambung lagi yah😁 soalnya author mau ujian🤭 kalau gak update, gak enak pula🥺...
jangan lupa beri dukungan 💪
tbc
__ADS_1