
Satu Minggu kemudian.
Kondisi tubuh Diana sudah membaik begitu pula dengan keadaan sekelilingnya.
Diana kini sudah merasa lebih lega karena semua orang menampakkan cinta mereka padanya. Kecuali, suaminya yang dingin dan jutek itu.
Walau begitu, meski Nathan masih dingin dan jutek padanya, laki-laki itu tampak lebih memperhatikan Diana bahkan mau mengajak Diana jalan-jalan walau hanya sekali.
Tapi, bukankah itu termaksuk perubahan.
Siang ini, Diana tak melakukan apapun. Ia hanya duduk di halaman belakang sembari memangku putrinya.
Kata pak Hans, suaminya ada urusan penting di perusahaan pagi ini, jadi tak bisa membawa Nara bersamanya.
Yah, anggap saja ini adalah waktu untuk menghabiskan hari-harinya bersama sang buah hati. Jika suaminya ada di rumah, pasti ia tak bisa memeluk putrinya sekarang.
Sesuka itu suaminya pada Nara yang bukan darah dagingnya sendiri.
"Uh, enak nya kalau kita jalan-jalan atau pergi ke Mall," gumam Diana sembari memegang jari-jari mungil putrinya.
"Kapan yah Nathan pulang?" tanya Diana pelan, tanpa di sadari ia mulai merindukan sosok suaminya setiap kali laki-laki itu pergi keluar.
"Ah, membosankan. Kita tidur saja yuk, sayang. Kalau ayah mu pulang, kita minta dia membawa kita jalan-jalan," ucap Diana membawa Nara masuk ke rumah.
*******
Sore harinya.
Nathan baru saja selesai dengan urusan perusahaannya, ada beberapa masalah yang di sebabkan oleh para tikus-tikus penghianat. Nathan pun dengan lapang dada membakar para penghianat itu tepat di hadapan para karyawannya serta masyarakat yang melewati perusahaannya.
Banyak yang syok tentunya, tapi mereka hanya diam dan memilih untuk menundukkan kepala mereka. Memberikan protes pada tuan Albert sama saja menghantarkan nyawa padanya.
Kini Nathan masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri. Seharian ini, ia sangat merindukan putrinya.
"Kira-kira, Nara sedang apa yah?" tanya Nathan sembari membuka pakaiannya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, Nathan pun pergi ke kamar Diana. Sesampainya ia di sana, Nathan melihat Diana dan Nara sepertinya baru saja selesai mandi.
Nathan pun langsung masuk ke kamar Diana dan menggendong anaknya itu.
"Sudah mandi yah, wangi nya putri Daddy," ucap Nathan mencium pipi putrinya itu.
"Kalau aku, sudah wangi belum?" tanya Diana tersenyum manis. Nathan pun mendekati Diana lalu mendekatkan wajahnya membuat Diana langsung terdiam kaku.
"Lumayan," jawab Nathan dan memilih untuk duduk di sofa.
"Ganti pakaian mu, kita akan keluar."
"Kita mau kemana? Ke pantai atau ke Mall?" tanya Diana antusias.
"Ganti saja sebelum aku berubah pikiran!" ketus Nathan membuat Diana langsung mengerucutkan bibirnya dan pergi mengganti pakaiannya.
Beberapa menit kemudian.
Diana keluar dengan memakai celana pendek dan baju oversize.
"Ganti pakaian mu!" titah Nathan.
"Tapi, kenapa? Ini sudah cantik kok," tanya Diana.
"Kau ingin memamerkan paha mu itu pada siapa, ha?"
"Iya, iya."
Diana kembali masuk ke ruang ganti dan memilih memakai dress selutut berwarna merah maroon yang elegan. Tak lupa, Diana memakai sneakers Putih. Rambutnya ia biarkan tergerai cantik.
"Sudah," ucap Diana sembari tersenyum memegang tas sampingnya.
Nathan pun hanya mengangguk lalu berdiri dan berjalan keluar kamar.
"Kita mau kemana?" tanya Diana berjalan di samping Nathan ketika menuruni anak tangga.
"Ke pantai," jawab Nathan.
__ADS_1
"Ah, senangnya." Diana reflek menggandeng tangan kiri Nathan, sedangkan tangan kanan Nathan menggendong Nara.
Nathan pun tak banyak bicara dan membiarkan Diana menggandeng tangannya. Itulah sifat Nathan yang sedikit berubah setelah kejadian malam itu, laki-laki dingin dan jutek itu tampak diam dan tak banyak bicara ketika Diana melakukan sesuatu dengan seenak jidatnya.
Beberapa menit kemudian.
"Loh, katanya ke pantai. Tapi, mengapa kita malah ke taman?" tanya Diana menatap suaminya.
"Siapa yang mengatakan kita ke pantai?" tanya Nathan balik lalu keluar dari mobil.
Padahal tadi suaminya mengatakan akan pergi ke pantai, tapi sekarang laki-laki itu pura-pura lupa.
Diana pun hanya pasrah saja, tapi setidaknya ia sudah jalan-jalan. Ia akan membeli apapun yang ia inginkan hari ini dan kalau bisa ia akan menghabiskan uang suaminya.
"Kita duduk di mana?" tanya Diana mengikuti langkah suaminya.
"Kami mau duduk di ayunan, kau pergilah kemana saja yang kau mau," jawab Nathan cuek lalu duduk di ayunan yang ada di taman.
Nathan memangku putrinya lalu mendorong ayunan dengan kakinya.
Melihat itu, Diana merasa cemburu dan kesal. Ia malah diabaikan padahal sudah dandan cantik-cantik.
Tampak Nathan mengeluarkan ponselnya lalu melempar ponsel itu ke arah Diana.
Diana pun langsung menangkap ponsel itu dengan tampang bingung.
"Fotokan kami."
"Tapi, aku tidak tau."
"Kemari lah," ucap Nathan.
Diana pun mendekat lalu membiarkan Nathan mengajarinya untuk mengambil foto dengan kamera ponsel.
"Fotokan yang bagus!"
"Iya, iya."
"Aku juga mau," pinta Diana ingin di foto juga.
"Ck, banyak tingkah!" ketus Nathan berdiri.
Dengan antusias Diana mengambil alih Nara lalu duduk di ayunan. Nathan pun mengambil beberapa foto ibu dan anak itu.
"Ayo foto bersama," ajak Diana.
"Hei kau! Kemari!" panggil Nathan pada salah satu pengunjung.
"Saya, tuan."
"Fotokan kami!" titah Nathan memberikan ponselnya tanpa persetujuan dari pengunjung itu.
"O-oke."
Nathan pun berdiri di belakang Diana yang duduk di ayunan.
"Satu, dua, tiga.......
Berbagai macam gaya pun berhasil tertangkap kamera dengan sempurna. Mulai dari Nathan yang berdiri di belakang Diana seperti sedang mendorong ayunan, dan sebaliknya Diana yang berdiri di belakang sedangkan Nathan duduk di ayunan.
Terkadang, Diana juga melingkarkan tangannya ke leher Nathan dari belakang.
Mereka sudah seperti keluarga kecil yang harmonis dan romantis.
*******
Setelah selesai berfoto dan membeli makanan, kini waktunya mereka pulang.
Namun, sebelum itu Diana ingin membeli makanan ringan lainnya dan Nathan pun menunggu di parkiran yang tak jauh dari Diana.
"Satu saja," ucap Diana pada penjual.
"Diana," panggil seseorang membuat Diana langsung menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Kak Juna," balas Diana.
"Akhirnya aku bisa menemukan mu, aku sangat mengkhawatirkan mu karena kejadian waktu itu. Apa kau baik-baik saja?" tanya Juna dengan raut wajah khawatir.
"I-iya kak, aku baik-baik saja. Apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Diana balik. Matanya sesekali melirik ke arah Nathan yang tengah memperhatikannya.
"Aku ada urusan beberapa hari di sini, kau sendiri mengapa bisa di sini? Apa kau tinggal di sini? Oh ya, dimana anak mu? Di lihat dari perut mu, sepertinya kau sudah melahirkan."
"Eum, anak ku memang sudah lahir kak. Anak ku perempuan dan aku sudah menikah, jadi aku memang tinggal di kota ini bersama suamiku," jawab Diana tak enak hati.
"Kau sudah menikah?" tanya Juna dengan raut wajah tak percaya.
"Iya," jawab Diana dapat melihat raut wajah kecewa dari laki-laki yang ada dihadapannya ini.
"Maafkan aku yang terlambat, padahal aku sangat berharap kita menikah dan hidup bersama," lirih Juna sedih.
"Hm, tak apa-apa, kak. Lagi pula aku sudah bahagia," sahut Diana. Jajanan nya pun sudah jadi, Diana pun langsung membayar makanan yang ia pesan tadi.
"Aku pergi dulu yah, kak. Senang bisa bertemu dengan kak Juna," ucap Diana sudah merasa tak enak hati.
Bukan hanya memikirkan perasaan Juna, tapi tatapan suaminya yang terus fokus padanya membuat Diana risih.
Jangan bilang suaminya cemburu, karena raut wajah suaminya datar-datar saja.
"Tunggu Diana," cegah Juna memegang tangan Diana, alhasil Diana pun menghentikan langkahnya.
Diana tampak gugup ketika Juna menyentuh tangannya, apalagi melihat Nathan yang tampak mengeluarkan sesuatu dari mobil.
Mata Diana melotot melihat apa yang di ambil Nathan dari mobil.
"Kak, lepaskan tanganku. Suamiku melihat kita, dia bisa marah nanti," ucap Diana berusaha melepaskan tangannya.
"Suamimu ada di sini? Mana? Tunjukkan padaku, aku ingin melihatnya. Aku ingin memastikan jika dia adalah laki-laki baik." Bukannya melepaskan, Juna malah mempererat genggaman tangannya.
Diana benar-benar takut melihat Nathan yang berjalan dengan memegang sebuah pistol, Diana takut suaminya itu akan melukai Juna.
"Kak lepaskan aku!" bentak Diana menarik kasar tangannya. Walau sakit, tapi akhirnya tangannya terlepas juga.
"Diana," panggil Juna ketika Diana berlari menuju Nathan.
Diana pun langsung memegang tangan Nathan dan menarik suaminya itu ke parkiran.
"Ayo kita pulang," ucap Diana benar-benar tak ingin suaminya melukai Juna. Bagaimanapun, dulu Juna begitu baik padanya.
"Kita akan pulang setelah aku membunuhnya," ucap Nathan santai.
"Jangan, ada Nara di sini."
"Baiklah, nanti saja. Aku akan membunuhnya jika tak bersama Nara," bisik Nathan membuat Diana merinding.
"Masuk ke mobil!" titah Nathan masuk ke mobil bersama Nara.
Diana menatap ke arah Juna yang tampak kecewa. Ia pun memilih untuk masuk ke mobil, ia berharap yang dikatakan suaminya itu hanya candaan saja. Ia berharap, suaminya tak melukai Juna.
Tapi, sejak kapan suaminya itu suka bercanda?
_
_
_
_
_
_
...waduh😱😱😂...
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
tbc.
__ADS_1