Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 49. Wanita misterius.


__ADS_3

Malam harinya.


Di Villa Baron.


Diana perlahan membuka matanya, ia berulangkali pingsan setelah sadar. Para anak buah Baron menyuntikan obat penenang berkali-kali padanya.


Diana menatap ruangan yang berwana abu-abu itu, bukan karena cat di dinding melainkan itu adalah warna dari dinding semen yang belum di cat.


Diana mencoba untuk duduk, tubuhnya sangat sakit karena ia hanya tidur di lantai tanpa alas apapun itu.


Ceklek.


Pintu terbuka, tampak seorang wanita masuk dengan membawa segelas air.


Wanita itu berjongkok lalu memberikan segelas air itu pada Diana.


Diana yang memang kehausan pun menerima air itu lalu meneguknya habis.


"Aku dimana? Siapa kau?" tanya Diana.


Wanita itu tampak tak menjawab dan hanya menatap mata Diana, hal itu membuat Diana menjadi merinding.


"Kau sudah bangun ternyata," ucap seseorang masuk ke ruangan bersama beberapa anak buahnya.


Ternyata itu adalah Baron yang ditemani Zeno dan beberapa anak buahnya.


Diana menatap beberapa laki-laki itu lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada wanita tadi, ternyata wanita tadi sudah tidak ada di dekatnya.


Itu berarti dia bukan manusia. gumam Diana


"Jadi ini dia istri dari keponakan ku, bukan wanita berkelas ternyata," ejek Baron berjongkok lalu menyentuh dagu Diana.


Diana langsung menepis tangan Baron membuat laki-laki tua itu tersenyum sinis.


"Selera Nathan sama seperti selera ayahnya, kampungan dan rendahan!" hina Baron berdiri lalu menendang keras kaki Diana membuat wanita itu kesakitan.


"Kira-kira kapan bajingan itu datang?" tanya Zeno tersenyum penuh kemenangan.


"Sebentar lagi, dia akan datang sebentar lagi. Karena tak mungkin seorang suami membiarkan istri tercintanya mati," jawab Baron santai.


"Kalau begitu, apa kita boleh menyiksanya sekarang? Aku sudah tak sabar ingin menjambak rambut wanita ini agar suaminya tau bagaimana rasanya melihat orang tercinta mati di depan matanya," pinta Zeno penuh harap.


"Hm, kau boleh menyentuhnya sedikit saja. Jangan sampai mati, karena jika dia mati maka kau pun akan mati di tanganku!" tegas Baron dan kemudian meninggalkan Zeno berduaan saja dengan Diana.


Sepeninggalan Baron, Zeno berjongkok lalu menarik rambut Diana dengan kasar.


Cuih!


Zeno meludah tepat di wajah Diana lalu tertawa puas melihat Diana yang mengusap wajahnya.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita bermain kuda-kudaan terlebih dahulu?" tanya Zeno membuka satu persatu kancing bajunya membuat Diana langsung syok, ingatan akan masa lalu membuat ia ketakutan.


"Tidak! Jangan! Ampun!" teriak Diana memeluk lututnya.

__ADS_1


Zeno tertawa puas melihat Diana yang ketakutan, Zeno pun membuka kemejanya dan menaruh pistolnya di atas bajunya lalu beralih ke resleting celananya.


Diana masih belum mengangkat kepalanya, ia sangat takut.


"Mari bermain, sayang. Lalu mari kita lihat, apakah suamimu masih menerimamu dalam keadaan kotor seperti ini," bisik Zeno.


Diana berusaha berdiri lalu mendorong tubuh Zeno dengan keras membuat laki-laki itu terjatuh ke lantai.


"Sialan kau!" bentak Zeno marah.


Diana pun langsung panik, mata Diana menangkap sebuah pistol yang ada di atas kemeja Zeno. Pasti itu, adalah pistol milik Zeno.


Dengan cepat, Diana mengambil pistol itu lalu mengarahkan nya pada Zeno.


"Oh, baby. Jangan bermain pistol, itu sangat berbahaya. Kemari kan pistolnya," pinta Zeno berdiri lalu melangkah mendekati Diana.


"Diam di sana sebelum kau ku tembak!" teriak Diana sembari masih menodongkan senjatanya ke arah Zeno.


"Kau tidak akan berani, sayangku. Aku tau itu, kau tak akan berani membunuh orang lain. Kemari kan pistol itu lalu mari kita bersenang-senang," bujuk Zeno terus melangkah.


"Aku, aku akan membunuhmu! Aku tidak main-main! Lebih baik kau diam saja disana!" ancam Diana dengan tangan yang bergetar.


Zeno tampak tertawa sinis sembari menatap tajam Diana.


"Tersisa satu peluru di pistol itu, jika kau menembak ku, aku yakin, aku tak akan mati. Aku masih bisa menangkap mu lalu menghukumu!" sinis Zeno.


"Kalau begitu, biar aku saja yang mati." Diana menodongkan pistol itu ke dadanya.


"Jangan bodoh!" hardik Zeno.


"Jangan bodoh! Aku tidak akan mati semudah itu," sinis Zeno terus melangkah mendekati Diana.


Doorr!


"Arghhhh!" teriak Zeno memegangi perutnya yang sudah terkena tembakan. Diana tak menyia-nyiakan kesempatan, wanita itu langsung berlari dengan kaki yang terluka. Diana berharap tak ada penjaga di depan pintu.


Diana membuka pintu, ternyata sangat gelap di luar ruangan. Diana pun berjalan menelusuri lorong yang ia sendiri tak tau kemana lorong itu membawanya.


"Kemari kau sialan!" teriak Zeno keras membuat para anak buah Baron langsung berkumpul dan pergi ke ruangan penyekapan Diana.


Diana langsung berlari sekencang-kencangnya, namun tiba-tiba tangannya di tarik memasuki sebuah ruangan. Diana ingin berteriak, namun mulutnya sudah ditutup oleh tangan yang sangat dingin.


Diana menatap pintu ruangan yang kembali tertutup, pintu yang terbuat dari batu. Jadi, ketika kita melewatinya, kita tak akan menyangka bahwa itu adalah pintu rahasia.


"Bagaimana bisa kabur? Cari dia! Jika kalian tak bisa menemukannya, maka bersiaplah untuk mati!"


Terdengar suara Baron yang sangat marah karena mendengar Diana berhasil lari.


"Dan kau, bocah ingusan! Tamatlah riwayat mu jika wanita itu tak ditemukan! Dasar sampah!" lanjut Baron.


Mendengar itu, Diana sedikit bernafas lega karena bisa lari dan bersembunyi. Sangking fokusnya dengan suasana di luar, Diana sampai lupa dengan orang yang menariknya tadi. Diana pun membalikkan badannya lalu menatap wanita yang ada di hadapannya sekarang, ternyata wanita yang tadi memberikannya air minum. Diana juga memperhatikan ruangan yang sekarang ia tempati, ruangan itu seperti sebuah kamar karena ada tempat tidur.


"Kau siapa?" tanya Diana menatap wanita itu yang tampak hanya diam saja.

__ADS_1


Wanita itu memegang tangan Diana lalu mengajaknya ke sisi lain ruangan. Wanita itu, tampak melirik dinding yang berada dekat dengan lampu, Diana pun langsung menyentuh dinding itu dan mendorongnya dengan keras. Tiba-tiba saja, dinding itu bergeser dan menampakkan sebuah lorong kecil.


Wanita itu tampak berjalan masuk ke lorong, Diana pun mengikutinya. Diana merasa sesak karena tak ada ventilasi di lorong sempit itu.


Hingga Diana dapat mendengar suara hujan, sepertinya Diana akan keluar dari tempat aneh ini. Akhirnya, Diana pun sampai di ujung lorong. Diana kembali mendorong dinding yang ada di depannya hingga memperlihatkan kondisi alam saat ini. Ternyata memang benar di luar sedang hujan lebat.


"Kita akan kemana?" tanya Diana pada wanita itu.


"Pergilah," ucap wanita itu menunjuk labirin yang penuh dengan lorong-lorong.


"Lalu kau? Apa kau tidak akan pergi?" tanya Diana menyentuh tangan dingin wanita itu.


"Aku tak akan pergi, tempat ku memanglah di sini," jawab wanita itu pelan.


"Ayo pergi bersamaku."


"Aku sudah meninggal dan jasad ku ada di sini. Pergilah sebelum mereka menemukan mu."


"Terimakasih," lirih Diana menatap sendu wanita itu yang kembali masuk ke dalam lorong rahasia. Pintu lorong pun tertutup dan kembali menjadi dinding.


Diana pun membalikkan badannya lalu menatap labirin yang pastinya sangat membingungkan.


Tak ada cahaya yang bisa memperlihatkan batu bata merah dan tak ada hawa panas untuk merasakan dinding dingin. Lalu apa yang harus Diana lakukan? Apakah labirin ini sama seperti labirin yang ia lewati waktu itu.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


...Eum, apakah Diana berhasil melewati labirin itu🤔...


...Terus, apakah Nathan bakalan jemput Diana nantinya?🤔...


Tetap di pantau 🤭


...Yg bilang mengapa mudah sekali konfliknya, karena ini bukan konflik utama yah guys. Ini hanya pemanasan saja🤭🤭 biar gak panas😂...


Semangat 💪

__ADS_1


tbc.


__ADS_2