
Malam harinya.
Diana kini duduk di balkon kamar sembari memakan potongan buah yang diberikan suaminya.
"Aku ingin jalan-jalan," gumam Diana namun masih dapat di dengar oleh Nathan yang sedang mengupas buah.
"Tunggu sampai kau pulih, kita akan pergi kemanapun yang kau mau," sahut Nathan.
"Kemanapun? Ke luar negeri?" tanya Diana memastikan ucapan suaminya itu benar atau tidak.
"Iya," jawab Nathan memberikan potongan buah apel yang sudah bersih pada Diana.
"Ya ampun, senangnya punya suami kaya raya," sorak Diana membuat Nathan terkekeh.
"Kalau begitu, aku akan menulis daftar negara yang akan kita kunjungi nanti yah," lanjut Diana antusias.
"Iya silahkan, sayangku."
"Oh ya, aku penasaran mengapa aku bisa hilang ingatan? Apa aku kecelakaan?" tanya Diana membuat tangan Nathan berhenti mengupas buah.
"Ya," jawab Nathan singkat.
"Kenapa bisa kecelakaan? Dan pada saat kecelakaan, mengapa kau tak menyelamatkan ku atau kau tak ada di dekat ku saat itu?" tanya Diana semakin penasaran. Jika, ia berusaha mengingat, maka kepalanya akan sakit.
"Kau tau, aku tak suka perempuan yang banyak tanya. Jika nanti waktunya sudah tepat, maka aku akan menjawab semua pertanyaan mu," ucap Nathan meletakkan pisau buah di atas meja.
"Mengapa harus menunggu waktu yang tepat?" tanya Diana menatap wajah suaminya yang tak berekspresi itu.
"Sudah sangat larut, tidurlah." Nathan berdiri lalu berjalan menjauh dari Diana.
"Mengapa kau selalu mengelak ketika aku bertanya? Apa yang kau sembunyikan? Apa kecelakaan ku ataupun yang ku alami ini karena kesalahan mu, sehingga kau selalu saja menghindar?" tanya Diana ikut berdiri membuat langkah Nathan terhenti.
"Aku hanya bertanya karena aku tak ingat, jika aku ingat, mana mungkin aku bertanya. Apa semua ini karena mu? Kecelakaan, atau apalah itu?" lanjut Diana dengan suara pelan.
"Ya, ini semua salah ku. Aku yang bersalah, mulai dari kecelakaan, kehilangan, luka di hati ku dan luka di kepalamu, semua itu adalah salah ku. Aku yang bersalah," jawab Nathan melanjutkan langkahnya ingin keluar dari kamar.
"Kalau kau bersalah, mengapa kau menjauh? Mengapa kau selalu mencoba melarikan diri?" tanya Diana mengikuti langkah suaminya.
Nathan menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya menatap istrinya itu.
"Aku tak ingin melarikan diri atau menjauh, aku hanya ingin mengambil air," jawab Nathan membuat Diana kaget.
"Kan masih ada air di kamar," ucap Diana menatap sekeliling kamarnya.
"Habis yah," lanjutnya tersenyum kikuk.
"Tapikan, kau bisa meminta pelayan mu mengambilkan nya. Aku yakin ini hanya alasan saja untuk mengalihkan pembicaraan," ucap Diana membuat Nathan tertawa.
"Aku memang bisa meminta pelayan untuk membawa air, tapi, itu tidak romantis. Akan romantis, jika aku yang mengambil airnya sendiri," ucap Nathan mendekati istrinya lalu mengecup kening Diana.
"Aku ingin menjadi suami yang romantis untukmu," lanjut Nathan memeluk hangat tubuh Diana.
"Ya-yasudah, ambil sana." Diana melepaskan diri dari pelukan suaminya lalu pergi ke ranjang.
Melihat itu, Nathan pun tersenyum manis lalu ikut naik ke ranjang.
__ADS_1
"Tadi katanya ingin mengambil air, ambil sana. Nanti kau tidak bisa jadi suami romantis kalau tak mengambil air ke dapur," ucap Diana menatap suaminya yang ikut naik ke ranjang dan mulai mendekatkan diri padanya.
"Kan ada pelayan," sahut Nathan menekan tombol di dekat ranjangnya.
"Air!"
Setelah mengatakan itu, Nathan langsung memeluk istrinya dengan erat membuat jantung Diana berdegup kencang.
"Alasan saja," gumam Diana berusaha menetralkan wajahnya yang mulai memerah.
"Aku mencintaimu, sayang."
"Aku tau itu," sahut Diana cepat.
"Apa yang kau tau?" tanya Nathan menatap intens wajah Diana.
"Kalau kau mencintaiku, aku sudah mendengar itu berkali-kali setiap jam nya," jawab Diana santai.
"Apa kau bosan dengan kata-kata cintaku?" tanya Nathan membenamkan wajahnya di leher Diana.
"Tidak, aku tidak bosan." Diana tersenyum malu karena memang ia sangat senang jika suaminya terus mengatakan cinta.
"Kalaupun kau bosan, aku akan tetap mengatakan bahwa aku mencintaimu, sayangku." Nathan mengelus-elus punggung istrinya sembari sesekali mengecup leher Diana membuat wanita itu geli.
"Kalau air nya datang dan kita sudah tidur, bagaimana? Kan malu kalau di lihat orang lain," tanya Diana mengalihkan pembicaraan.
"Tak apa-apa, yang mengantarkan air itu pak Hans. Dia sudah terbiasa melihat kita seperti ini, bahkan lebih," jawab Nathan membuat mata Diana terbelalak.
"Apa? Lebih bagaimana?" tanya Diana benar-benar tak bisa berpikir jernih sekarang. Lebih? Apa maksudnya tidur yang intim atau bagaimana?
*******
Keesokan paginya.
Malam sudah berganti menjadi pagi yang sejuk, cuaca pun terlihat mendung, sepertinya akan turun hujan hari ini.
Nathan masih terlelap sembari memeluk guling, sedangkan Diana sudah tak ada di sampingnya. Mungkin, wanita itu sedang di kamar mandi.
Hembusan angin pagi masuk ke kamar melalui ventilasi menambah suasana sejuk. Nathan menarik selimutnya agar merasakan kehangatan.
Dari arah kamar mandi, Diana keluar dengan rambut yang berantakan dan wajah pucat nya. Diana berjalan setengah berlari ke ranjang lalu mengguncang-guncang tubuh suaminya itu.
"Bangun, pak suami," ucap Diana tak tau harus memanggil Nathan dengan sebutan apa.
"Hm," gumam Nathan perlahan membuka matanya.
"Ada apa?" tanya Nathan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku hamil," ucap Diana dengan raut wajah antara sedih dan bingung.
"Oh," sahut Nathan kembali menutup matanya. Beberapa detik kemudian, Nathan kembali membuka matanya dan menatap wajah Diana dengan ekspresi terkejut.
"Hamil?" tanya Nathan duduk dari baringnya.
"Iya, tadi aku mual-mual. Jangan-jangan aku hamil, kan kita sudah lama menikah," jawab Diana dengan wajah serius.
__ADS_1
"Tapi, bagaimana bisa?" tanya Nathan bingung.
"Bisa lah, mana tau sebelum kecelakaan kita melakukan itu. Jadi, sekarang aku hamil," jawab Diana cepat.
"Tapi, kita.....
"Aduh, kepalaku pusing. Sepertinya kita harus ke dokter kandungan," sela Diana memotong ucapan suaminya itu.
"Kau dengarkan, pak suami? Panggilkan dokter, mana tau aku hamil anak kembar." Diana menoel perut Nathan yang masih terdiam dan berusaha berpikir positif.
"Pak suami," panggil Diana.
"I-iya, aku panggilkan." Dengan cepat, Nathan mengambil ponselnya lalu menghubungi pihak rumah sakit untuk mengirimkan dokter kandungan.
Ia masih belum percaya, apa benar istrinya hamil? Tapi, bagaimana bisa? Mereka saja belum pernah melakukan itu walau sekali.
Beberapa menit kemudian.
Dokter kandungan pun akhirnya datang juga dan langsung memeriksa keadaan Diana. Nathan duduk di tepi ranjang sembari memperhatikan istrinya yang tengah diperiksa. Semoga saja, dugaan-dugaan negatif di pikirannya tak terjadi.
"Bagaimana? Apa istriku hamil?" tanya Nathan datar.
Dokter itu tampak tersenyum kecil membuat Nathan semakin was-was.
"Istri anda tidak hamil, tuan. Melainkan hanya masuk angin saja," jawab dokter membuat Nathan menghela nafas lega, sedangkan Diana menutup mulutnya karena ingin tertawa.
"Apa semalam, istri anda tidak makan?" tanya dokter.
"Iya, dia hanya makan buah saja. Dia tak mau makan nasi," jawab Nathan sembari menatap istrinya yang tengah cengengesan karena berhasil membuat semua orang panik.
"Hehehehe, masuk angin ternyata, kupikir masuk bayi," ucap Diana tertawa sembari memegang tangan suaminya yang menatapnya dengan tatapan tak bisa diartikan lagi.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...ck, ck, ck, hampir aja jantungan pak suaminya 😂...
Review nya cuma sebentar, tapi muncul notif nya lama banget sampai dua jam lebih😁 maaf yah kalau telat🥺
tbc.
__ADS_1