
Matahari semakin naik dan menyinari bumi dengan terang, cuaca yang panas sangat cocok jika pergi ke pantai.
Hari ini sesuai dengan janji, Nathan membawa Diana jalan-jalan mengitari sebuah tempat pariwisata yang ada danau nya.
Sebenarnya, Diana meminta ke pantai, hanya saja menurut Nathan ke pantai itu sudah terlalu umum, ia ingin menikmati suasana lainnya.
"Anginnya sangat menyegarkan," gumam Diana duduk di pondok-pondok yang memang ada di danau sebagai tempat beristirahat dan tentunya tidak gratis.
Nathan memesan beberapa jenis makanan dan minuman yang pastinya menyegarkan dan mengenyangkan.
"Apa kita boleh berenang di danau itu?" tanya Diana sangat tertarik melihat danau yang bersih dan sepertinya sangat menyegarkan jika berenang di sana saat siang hari.
"Ada buaya di sana," jawab Nathan membuat Diana menatap serius suaminya itu.
"Yang benar saja? Di tempat wisata ada buaya?" tanya Diana heran.
"Hm, Kalau mau berenang kan ada kolam yang sudah disediakan. Kenapa harus di danau, kita tidak tau apa isi danau itu. Mungkin ada ular yang besar, buaya, atau lintah," jawab Nathan asal.
"Berarti belum tentu ada buaya kan? Kenapa tadi bilang ada buaya nya, kan aku jadi takut," ucap Diana kembali menatap danau yang indah dengan air yang jernih.
"Hm, bisa jadi ada buaya nya. Aku hanya memperingati mu saja, buaya di danau atau sungai atau laut atau darat itu sama-sama berbahaya," ucap Nathan fokus dengan minumannya.
"Hehehe, contohnya kau kan. Buaya darat yang tampan," goda Diana mencolek pipi suaminya itu.
"Aku bukan buaya, aku tak suka menggombal ataupun memberikan janji manis. Aku adalah aku dengan sikapku yang sebenarnya," ucap Nathan menatap hangat istrinya yang kini tengah tertawa.
"Iya, iya. Kau bukan buaya, kau adalah singa." Diana mengedipkan sebelah matanya sembari tersenyum genit.
"Aku ini manusia, sayang."
"Iya, iya. Manusia yang tampan," sahut Diana memilih menyantap makanan yang sudah datang.
"Setelah ini, kita mau kemana lagi?" tanya Nathan.
"Kemana saja, yang penting bersamamu," jawab Diana masih dengan kegenitan nya.
"Ke tempat tidur?" tanya Nathan tersenyum nakal.
__ADS_1
"Itu, nanti malam saja yah. Kalau siang kita harus jalan-jalan," jawab Diana malu-malu.
"Kenapa tidak siang malam saja di kasur, kan lebih nyaman dan enak?" tanya Nathan terus menggoda istrinya.
"Nyaman untuk mu, sakit pinggang untukku," jawab Diana mengerucutkan bibirnya.
Nathan pun hanya bisa tertawa kecil saja lalu melanjutkan makannya. Setelah ini, mungkin mereka akan pergi berfoto untuk mengabadikan momen bahagia.
******
Malam harinya.
Seperti biasa, Diana sudah dengan baju dinasnya sedangkan Nathan sudah dengan senyuman manisnya.
Melihat sang istri begitu memanjakan nya membuat Nathan sangat bahagia. Pernikahan yang awalnya hanya untuk menarik perhatian lawan, kini berubah menjadi pernikahan yang hangat. Sungguh, Nathan tak pernah terpikirkan untuk memiliki keluarga kecil. Yang ada di pikirannya hanya balas dendam dan berkuasa.
"Anggap saja kita tidak mengenal dan aku berjalan di depan mu. Sebagai laki-laki yang nakal, kau harus menggodaku," ucap Diana memberikan ide yang lucu bagi Nathan.
"Baiklah."
"Aktingnya di mulai. Satu, dua tiga."
"Mau kemana, nona cantik?" tanya Nathan menghalangi jalan Diana.
Diana pun menampakkan ekspresi seolah-olah terkejut.
"A-aku ingin pulang," jawab Diana gugup.
"Kalau begitu, pulanglah bersamaku. Cuacanya dingin sekali, akan sangat bagus jika kau memberikanku kehangatan," ucap Nathan menyeringai nakal lalu memegang tangan Diana.
"Ah, jangan, tuan. Jangan culik aku!" teriak Diana memberontak.
"Ayolah gadis kecil, ikutlah denganku. Kau akan merasakan kenikmatan dunia yang sesungguhnya." Nathan pun membopong tubuh istrinya itu ke arah ranjang dengan Diana yang berusaha menahan tawa.
Nathan pun menjatuhkan tubuh Diana di atas ranjang lalu membuka kancing celananya.
"Jangan, tuan. Ampuni aku," rengek Diana membantu Nathan membuka kancing celana. Hal itu membuat Nathan langsung tertawa dan mencubit gemas pipi istrinya itu.
__ADS_1
"Malam ini tak ada kata ampun untukmu, gadis kecil. Kau akan menjadi milikku," ucap Nathan masih melanjutkan drama konyol mereka.
"Jangan, tuan. Aku takut, nanti sakit."
"Tidak akan sakit, sayang."
Nathan pun naik ke atas tubuh istrinya lalu mengecup kening Diana.
"Tidak akan kubiarkan sesuatu menyakitimu, jadi, jangan takut."
Diana terkekeh geli lalu mengelus rambut suaminya itu.
"Lakukanlah, tuan. Aku pasrah," ucap Diana membuat Nathan kembali tertawa.
Selain cerewet, istrinya ini pandai sekali membuat ia tertawa. Hari-hari yang ia lewati kini menjadi lebih berwarna dengan lelucon istrinya.
"Terimakasih," bisik Nathan lalu mencium pipi Diana dengan gemas. "Istriku yang cantik dan juga seksi," lanjut Nathan.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
...😁...
Tbc.