
Satu Minggu sudah berlalu. Semuanya berjalan dengan baik, tak ada gangguan dari Nathan ataupun orang lain, Diana merasa lega karena bisa merawat anaknya dengan baik.
Pagi ini, Diana sudah selesai sarapan dan kini tengah menimang-nimang putrinya yang lucu.
"Aduh perutku sakit sekali," gumam Diana ingin buang air besar. Ini adalah pertama kalinya Diana merasakan mulas, sebelumnya ia belum juga buang air besar setelah melahirkan, lebih tepatnya takut.
Diana pun mengambil telepon rumah yang ada di atas nakas, ia akan menghubungi pelayan untuk menjaga putrinya yang terbangun.
"Aduh, bisa keluar di sini kalau lama begini," gumam Diana tak tahan.
Dua orang pelayan wanita pun datang dan masuk ke kamar Diana. Akhirnya, Diana bisa juga ke kamar mandi walau ia takut akan sakit atau apalah itu.
"Saya akan membantu anda, nona." Salah satu pelayan menawarkan untuk membantu Diana masuk ke kamar mandi. Adapun kamar mandi tersebut sangatlah luas dan terdapat dua pintu lagi di dalamnya dimana ada toilet dan satunya lagi untuk mandi. Takutnya Diana akan kesulitan nantinya.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Namun, Diana akhirnya tetap di bantu juga. Orang-orang di rumah ini sangatlah keras kepala.
Sepeninggalan Diana, tampak pelayan itu dengan telaten menimang-nimang bayi majikan nya itu.
"Sangat cantik dan imut," gumam pelayan itu sembari berdiri dan mengajak bayi Nara jalan-jalan di dalam kamar.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nathan masuk ke dalam kamar bersama dengan Xeon. Sontak pelayan itu langsung tegang dan takut.
"Sa-saya sedang menjaga bayi nona Diana, tuan. Nona sedang di kamar mandi," jawab pelayan itu gugup.
"Apa kau sudah cuci tangan? Baju mu bersih atau tidak? Jangan-jangan baju yang kau kenakan sekarang adalah baju yang kau gunakan untuk memotong bawang lalu kau menggendong putri satu-satunya di mansion ini!" cerca Xeon tampak garang membuat pelayan itu ketakutan dan segera meletakkan kembali bayi Nara di atas ranjang.
"Keluar sekarang!" titah Xeon.
Pelayan itu pun menunduk lalu keluar dari dalam kamar Diana meninggalkan Xeon dan Nathan yang masih terdiam menatap bayi Nara yang menggeliat.
Ini adalah pertama kalinya Nathan melihat secara dekat bayi Nara itu, sebelumnya ia tak tampak memiliki niat untuk melihat bayi mungil itu. Nathan pun berjalan ke arah ranjang lalu menatap bayi mungil itu yang tampak menggeliat tak nyaman.
__ADS_1
"Seperti cacing," gumam Nathan menyentuh hidung bayi Nara dengan telunjuknya.
Tiba-tiba saja bayi Nara menangis saat Nathan menarik kembali tangannya membuat laki-laki itu langsung memundurkan langkahnya.
"Apa yang anda lakukan, tuan? Apa anda mematahkan tulang hidungnya?" tanya Xeon panik.
"Aku hanya menyentuhnya sedikit," jawab Nathan terus menatap bayi Nara yang menangis dengan suara nyaring.
"Berisik sekali!" bentak Nathan membuat Xeon terkejut dan alhasil bayi Nara semakin menangis kencang.
Karena tak berhenti menangis membuat Nathan geram dan mengeluarkan senjatanya dari dalam sakunya membuat Xeon langsung terbelalak kaget.
"Apa yang ingin anda lakukan, tuan? Jangan gila!" teriak Xeon mengambil alih senjata itu.
"Kau mengatakan aku apa tadi!" geram Nathan menatap tajam ke arah Xeon.
"Maafkan saya, tuan. Tapi, anda tak boleh melakukan itu. Kasihan bayi ini, sebaiknya anda menenangkan nya," ucap Xeon menundukkan kepalanya.
"Mengapa bukan kau saja yang menenangkan nya, ha?"
"Kau pikir aku tau!" geram Nathan semakin jengkel apalagi mendengar tangisan bayi Nara yang semakin kencang.
"Saya pernah melihat pak Hans menepuk-nepuk bokongnya, tuan. Coba anda lakukan," ucap Xeon.
"Kau memerintah ku?" tanya Nathan geram namun tetap berjalan ke kembali ke arah ranjang dan duduk di tepi ranjang.
"Maafkan saya, tuan."
Nathan pun menepuk-nepuk paha bayi Nara, awalnya sedikit keras membuat Xeon langsung menegur Nathan dan membuat laki-laki itu semakin emosi.
Setelah beberapakali tepukan yang lembut, akhirnya bayi Nara diam dan tampak menguap.
__ADS_1
"Dia mengantuk," gumam Nathan masih menepuk paha bayi Nara.
Di saat Nathan tengah menenangkan bayi Nara, Diana pun keluar dengan tergesa-gesa. Ia sangat panik mendengar anaknya menangis kencang, tapi ia juga sedang ada di pertengahan jalan dalam mengeluarkan zat-zat berbahaya dari tubuhnya. Di bantu oleh pelayan tadi, Diana pun berjalan mendekati ranjang dengan raut wajah panik.
"Apa yang terjadi?: tanya Diana membuat Xeon dan Nathan langsung menoleh. Nathan pun langsung bangkit dan menatap Diana tajam.
Laki-laki itu pun langsung pergi dari kamar Diana begitu juga dengan Xeon yang meninggalkan Diana dengan banyak sekali tanda tanya.
"Sayang, apa kau baik-baik saja? Mereka tak menyakitimu kan?" tanya Diana mengelus bayi nya yang sudah tertidur.
Entah apa yang dilakukan kedua laki-laki itu tadi sehingga bayi Nara tertidur setelah menangis, pikir Diana. Karena biasanya bayi Nara tak akan tidur sebelum ditimang terlebih dahulu.
_
_
_
_
_
_
_
...Wah, udah bisa jadi baby sitter nih papah Nathan. Ada yang mau nyewa baby sitter Nathan buat ngerawat anak bunda²😂...
Konfliknya ada, kan sudah author bilang konfliknya ada. Di tunggu saja, untuk sekarang fokus pada pendekatan Nathan dan bayi Nara saja dulu. Beberapa bab kedepan bakalan kelihatan kok musuhnya, cuma itu belum masuk konflik.
Nikmati saja alurnya dulu, jangan tergesa-gesa 😁
__ADS_1
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
tbc.