Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 87. Membeli ponsel baru.


__ADS_3

Malam harinya.


Diana kini tengah duduk di depan televisi sembari menonton drama, sedangkan Nathan kini berada di kamar mandi.


"Sayang, ayo tidur." Nathan yang baru saja keluar dari kamar mandi pun langsung naik ke ranjang.


"Ini kan masih jam delapan, cepat sekali tidurnya," sahut Diana menoleh sekilas ke arah suaminya yang sudah berbaring di ranjang.


"Aku lelah dan mengantuk, besok juga kita harus pergi, jadi lebih baik kita tidur lebih cepat," ucap Nathan menepuk-nepuk sisi ranjang yang kosong.


"Aku belum mengantuk, tidur saja duluan."


"Hm."


Setelah itu, tak ada lagi obrolan diantara dua insan itu. Nathan perlahan menutup matanya dan segera meluncur ke alam bawa sadar, sedangkan Diana masih asyik dengan drama horor yang ia tonton.


Beberapa menit kemudian.


Diana sudah selesai dengan tontonan nya, kini wanita itu pun pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi nya. Setelah itu, Diana langsung naik ke atas ranjang dimana suaminya sudah tertidur pulas.


Diana menarik selimut hingga ke dada suaminya, matanya tak lepas dari wajah Nathan yang terlihat kelelahan.


Diana tersenyum manis, bahagia karena ialah wanita yang mendampingi suaminya dan menjadi wanita pertama yang di cintai suaminya.


Diana mengecup kening Nathan lalu mengelus-elus kepala Nathan dengan lembut.


"Aku mencintaimu," bisik Diana lalu mengecup bibir suaminya.


Nathan yang merasakan tubuhnya di sentuh pun membuka matanya, laki-laki itu sangat cepat terbangun jika ada yang menyentuhnya karena sikap waspada akan kehadiran musuh.


"Apa, sayang?" tanya Nathan pelan dengan suara khas orang mengantuk, bahkan matanya saja merah karena menahan kantuk.

__ADS_1


"Tidak ada, maaf yah karena membangunkan mu." Diana mengelus pipi Nathan lalu menciumi pipi suaminya itu.


"Tidur lagi, biar aku mengelus kepalamu." Nathan pun mengangguk lalu memeluk Diana membenamkan wajahnya di dada istrinya itu.


"Kau pasti sangat lelah karena menghadapi ku, maafkan aku yah."


******


Keesokan harinya.


Diana dan Nathan akan pergi ke luar negeri untuk jalan-jalan. Diana terlihat sangat antusias karena ini adalah pertama kalinya ia jalan-jalan ke luar negeri. Ia penasaran, bagaimana rasanya naik pesawat dan juga seperti apa negara orang lain.


Sebelum ke bandara, Nathan membawa Diana ke tempat penjualan handphone terlebih dahulu. Laki-laki itu sudah memiliki niat membelikan ponsel untuk istrinya dari dulu, tapi ia selalu lupa sehingga ia tak bisa dengan leluasa menghubungi Diana kapanpun itu.


"Kau mau yang mana?" tanya Nathan membiarkan istrinya memilih tipe ponsel yang diinginkan.


"Sama seperti mu saja, aku tak paham tipe ponsel yang bagus," jawab Diana antusias.


"Suka?" tanya Nathan tersenyum kecil melihat Diana yang sangat bahagia.


"Iya, suka." Diana mengangguk lalu mengecup bibir Nathan sebagai balasan terimakasih.


Nathan tertawa kecil karena Diana menciumnya di tempat umum, berani juga istrinya itu.


Nathan menangkap sosok yang tengah berdiri tak jauh dari posisi mereka. Seorang laki-laki yang menatap ke arah mereka dengan tatapan kecewa. Nathan seperti pernah melihat laki-laki itu, tepatnya di taman.


Nathan pun tersenyum menyeringai lalu mengecup mesra bibir istrinya itu.


"Balasan," bisik Nathan membuat Diana terkekeh lalu memeluk suaminya itu.


"Ayo masuk ke mobil, sebentar lagi jadwal penerbangan kita. Kau tak mau kita gagal jalan-jalan kan," lanjut Nathan sembari mencubit hidung Diana.

__ADS_1


"Ayo." Nathan dan Diana pun masuk kembali ke mobil lalu meninggalkan tempat itu.


Sepeninggalan mereka, laki-laki yang tengah berdiri mematung tadi pun terlihat tersenyum kecut.


"Juna, ayo kita pulang." Laki-laki itu menoleh ke arah ibunya lalu mengangguk dan mengikuti langkah ibunya itu.


"Ternyata kau sudah bahagia, Nana. Aku turut senang melihat itu."


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


tbc.


__ADS_2