
Satu Minggu telah berlalu, hanya ada kesunyian tanpa tawa. Setiap hari, Nathan selalu duduk di rumah sakit lalu duduk di makam putrinya setelah berkunjung dari rumah sakit.
Laki-laki itu terlalu dalam tenggelam di lembah kesedihan. Hanya ada tatapan kosong dan mulut yang selalu bungkam.
Tak peduli hujan, panas, badai, Nathan selalu datang ke makam putrinya yang berada di samping makan orang tuannya.
"Anda sudah duduk di sini selama 3 jam, tuan. Apa anda tidak lapar?" tanya pak Hans yang selalu setia menemani tuannya untuk berkunjung ke makam.
Rayyan dan Xeon di perintahkan untuk mengontrol segala bisnis tuannya karena kondisi Nathan sangatlah tidak memungkinkan untuk mengurus semua itu.
"Sebentar lagi akan hujan, tuan." Pak Hans berusaha membuat Nathan untuk bangkit dari duduknya. Seminggu ini, tuannya itu benar-benar tidak karuan.
"Saya akan mengambilkan payung," ucap pak Hans pergi ke mobil untuk mengambil payung.
Dan benar saja, hujan pun turun. Dengan cepat pak Hans berlari ke arah tuannya, membuka payung lalu melindungi tuannya dari derasnya air hujan.
Hujan yang deras tak mempengaruhi Nathan yang masih duduk di atas tanah sembari memeluk lututnya dan memandangi batu nisan putrinya.
Tetesan air hujan beriringan dengan air mata yang terus mengalir. Tangan yang memegang boneka kecil, rambut yang acak-acakan meski pak Hans berulangkali merapikan rambut tuannya itu.
Seiring dengan suara deras nya hujan, sayup-sayup terdengar isakan pilu dari Nathan. Laki-laki itu berulangkali menghela nafas panjang lalu menyeka air matanya.
"Apa Nara ku sudah bahagia di sana?" tanya Nathan dengan suara bergetar.
"Nona Nara pasti sudah bahagia sekarang, tapi, jika anda terus seperti ini, nona Nara pasti akan sedih. Anda tau kan, nona Nara paling suka jika anda tertawa dan bahagia," jawab pak Hans.
"Tertawa di saat seperti ini tidaklah mungkin, pak Hans. Istriku koma, putriku pergi meninggalkan ku. Kebahagiaan ku lenyap begitu saja, andai malam itu aku tak mengajak mereka keluar, pastinya sekarang kami masih bisa duduk bersama. Dasar bodoh!"
Nathan memukuli kepalanya membuat pak Hans langsung menahan tangan tuannya itu.
"Anda tidak boleh terus-menerus menyalahkan diri sendiri, tuan. Semua sudah takdir kehidupan, meski pun malam itu anda tidak pergi, jika takdir sudah mengatakan ini, maka inilah yang terjadi," ucap pak Hans.
"Aku ingin pulang," ucap Nathan berdiri lalu menatap pak Hans yang sudah basah kuyup.
"Mengapa kau tak memakai payung, pak Hans?" tanya Nathan.
"Hujannya tadi turun secara tiba-tiba, jadi saya panik dan hanya membawa satu payung saja," jawab pak Hans.
"Berjalanlah di sampingku!" titah Nathan.
__ADS_1
Pak Hans pun mengangguk dan berjalan di samping tuannya dengan artian berbagi payung.
Sesampainya di mobil, Nathan pun menyandarkan punggungnya lalu menutup matanya. Mobil pun melaju menembus derasnya hujan.
"Tuan Rayyan menanyakan, kapan anda datang ke markas dan menemui Baron, tuan?" tanya pak Hans menatap tuannya yang ada di kursi penumpang.
"Besok aku akan kesana, siapkan semua kebutuhan ku karena aku akan lama di sana," jawab Nathan masih menutup matanya.
"Apa anda akan membunuhnya?" tanya pak Hans.
"Tentu, tapi sebelum itu, biarkan dia menderita berminggu-minggu terlebih dahulu. Aku akan melukainya lalu membiarkan dia sembuh sendiri lalu kemudian aku akan kembali melukainya dengan cara yang berbeda," jawab Nathan membuka matanya lalu menatap pak Hans yang duduk di samping kursi pengemudi.
"Apa besok saya boleh ikut, tuan?" tanya pak Hans ingin menyaksikan penderitaan Baron juga.
"Tidak," jawab Nathan cepat.
"Maaf atas kelancangan saya, tapi mengapa saya tidak boleh ikut?" tanya pak Hans.
"Karena aku tak ingin tanganmu kotor. Aku tau kau pasti akan ikut serta nantinya jika sudah di sana. Kau adalah orang yang menyiapkan makanan ku dan juga Diana, aku tak ingin orang dengan tangan kotor yang menyiapkan makanan istriku," jelas Nathan membuat pak Hans mengangguk mengerti.
"Lagi pula kau sudah tua, lebih baik kau di mansion saja. Jangan membuatku kesusahan karena nanti kau sakit ataupun terluka," lanjut Nathan.
Mendengar itu, pak Hans pun tersenyum kecil, ia tau tuannya ini begitu menghormatinya walau terkadang masih saja kurang ajar dengan sikap dinginnya.
Nathan tak menjawab, ia memilih mengalihkan pandangannya ke luar kaca mobil. Meski ia terbilang semena-mena pada pak Hans, tapi ia masih ingat jasa laki-laki tua itu yang merawatnya ketika ayah dan ibunya tiada.
"Maaf lancang, tuan. Kalau boleh saya tau, tujuan kita sekarang kemana?" tanya supir sembari fokus pada jalanan.
"Ke mans...
"Rumah sakit," jawab Nathan cepat menyela ucapan pak Hans.
"Aku ingin tidur bersama istriku," lanjut Nathan kembali menutup matanya.
"Baiklah, tuan."
*******
Sesampainya di rumah sakit.
__ADS_1
Nathan masuk ke ruang rawat istrinya dan meminta pak Hans untuk pulang saja.
Nathan duduk di kursi sebelah ranjang istrinya lalu memegang tangan Diana. Lama Nathan menatap wajah Diana sembari sesekali menciumi punggung tangan istrinya itu.
"Kata dokter kau akan melupakan ku nanti jika kau sudah sadar. Bukan hanya aku, Nara kita, pak Hans, Rayyan, Xeon, kau akan melupakan kami semua." Nathan mencium punggung tangan istrinya lalu berusaha untuk tidak menangis lagi.
"Aku tidak masalah kalau kau melupakan semua kenangan kita, karena aku akan membuatmu jatuh cinta dengan caraku seperti dahulu," lanjut Nathan tersenyum sendu sembari menatap wajah pucat istrinya.
"Cepatlah bangun, apa kau tak kasihan padaku? Aku kesepian, tak ada Nara dan kau juga tak mau bangun. Aku merindukan Nara kita. Putri kita yang penurut dan juga cantik. Aku juga merindukanmu, perempuan yang cerewet dan juga ceroboh. Bangunlah, sayang. Setidaknya, beri aku belas kasihmu dengan tak akan pernah meninggalkan aku," lirih Nathan menyeka air matanya.
"Kau tau, aku jadi cengeng belakangan ini. Waktu aku umur 10 tahun juga aku cengeng sekali," ucap Nathan terkekeh kecil diiringi air matanya.
"Aku mencintaimu, Diana. Aku mencintaimu."
"Kau dengar itu kan? Kalau kau sadar nanti, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku akan mengurung mu sehingga hanya aku yang bisa melihat kecantikan mu." Nathan tersenyum lalu mencium kening Diana.
"Aku akan membalaskan semua rasa sakit yang aku rasakan, yang kau rasakan dan yang putri kita rasakan. Kau tenang saja, sayang. Semua rasa sakit itu akan terbayarkan secara perlahan."
_
_
_
_
_
_
_
_
...Ayo, eps selanjutnya butuh waktunya review berapa jam yah😂 atau mungkin di suruh revisi ulang karena terlalu keras😁🤧🤣...
...Pantau saja esok harinya atau esoknya lagi😁😁...
Maaf yah telat update, baru hari ini lah author punya waktu luang. Terimakasih juga bagi reader's yang udah nyariin😁😁 senang banget pas baca komen ada yang nyariin😘
__ADS_1
jangan lupa beri support yah biar author bisa update setiap harinya
tbc