
Setelah kejadian bayi Nara menangis, Diana memilih lebih waspada agar tak ada yang menggangu anaknya, contohnya Nathan lah si pengganggu itu.
Pagi ini Diana tampak terlihat sangat lelah karena semalaman tak tidur, bayi Nara terus menangis dan tangisannya itu sangatlah keras membuat ia harus lebih berkerja keras untuk menidurkan bayi nya.
Diana kini masih berbaring di atas ranjang, bayi Nara sudah mandi dan kini hanya menggeliat saja di atas ranjang, Diana sengaja membebaskan tangan bayi Nara agar bergerak kesana-kemari.
"Waktunya sarapan, nona." Pak Hans datang bersama beberapa pelayan membawa sarapan untuk Diana.
Diana pun duduk, ia juga sangat lapar karena tubuhnya lelah. Mungkin setelah makan tenaganya akan kembali lagi.
"Saya akan membawa jalan-jalan putri anda sebentar, nona." Diana menatap pak Hans yang menggendong bayi Nara.
"Kemana?" tanya Diana.
"Hanya di sekitar sini," jawab pak Hans. Diana pun tampak ragu-ragu, tapi ia tetap mengizinkan pak Hans. Toh pak Hans tak mungkin berbuat jahat pada putrinya nanti, selama ini pak Hans lah yang membantunya merawat putrinya.
Pak Hans keluar dari dalam kamar Diana sembari menimang bayi mungil yang ada di gendongan nya. Bayi Nara tampak tak rewel sama sekali saat pak Hans membawanya entah kemana.
Pak Hans terus berjalan hingga tiba di depan pintu kamar tuan nya. Ia pun mengetuk pintu itu lalu membuka pintu kamar Nathan, tampak Nathan duduk di balkon sembari menatap ke arah halaman belakang dimana anak buahnya tengah berlari mengelilingi halaman belakang yang luas.
Nathan pun menoleh ke arah pak Hans lalu menatap bayi Nara yang ada di gendongan pak Hans.
"Untuk apa kau membawanya kemari?" tanya Nathan kembali fokus pada anak buahnya.
"Saya hanya ingin memastikan anda sudah sarapan, tuan."
Nathan tampak diam lalu sesekali melirik bayi Nara yang tangannya sibuk menarik baju pak Hans.
"Anda tak ingin menggendong bayi anda, tuan?" tanya pak Hans.
__ADS_1
"Dia bukan bayi ku, aku tak mau menggendongnya. Nanti dia menangis," jawab Nathan membuat pak Hans tersenyum kecil.
"Apa kau akan menangis putri kecil kalau di gendong oleh ayah mu?" tanya pak Hans pada bayi Nara.
"Sepertinya dia tak akan menangis, tuan." Pak Hans pun menyerahkan bayi Nara pada Nathan, laki-laki itu pun langsung menatap tajam pak Hans yang terlalu lancang.
"Ck, kau lancang sekali!" ketus Nathan mengambil alih bayi Nara lalu menggendongnya walau terlihat sangat kaku.
"Maafkan saya, tuan."
Setelah itu, tak adalagi pembicaraan diantara kedua laki-laki itu. Pak Hans tampak menatap sesekali ke arah Nathan yang memperhatikan bayi Nara.
"Bagaimana dia bisa hidup dalam perut?" gumam Nathan menyentuh pipi bayi Nara yang tampak tenang.
"Kau sudah boleh pergi!"
Pak Hans pun mengangguk lalu meninggalkan bayi Nara bersama dengan Nathan. Pak Hans yakin, Nathan tak akan melukai bayi Nara. Namun, ia tetap waspada dengan menunggu di depan pintu kamar.
"Wangi," gumam Nathan berdiri lalu berjalan ke arah ranjang. Nathan menurunkan bayi Nara dan meletakkannya di atas ranjang, tangannya pegal kalau lama-lama menggendong bayi mungil itu.
"Mengapa lidah mu keluar-keluar? Kau mengejekku?" tanya Nathan menyentuh hidung bayi Nara.
"Nara," bisik Nathan pelan.
"Jangan pipis yah! Kalau pipis aku akan membuang mu ke kolam nanti!" ancam Nathan menunjuk bayi Nara dengan gaya mengancam.
Nathan pun membaringkan tubuhnya lalu menatap ke sampingnya, ia memiringkan tubuhnya lalu memberikan jari telunjuk untuk di genggam oleh bayi Nara.
Bukan bayi namanya kalau tidak memakan apa saja yang ada di tangannya, jari telunjuk Nathan di genggam lalu dimasukkan ke dalam mulut bayi mungil itu membuat Nathan tertawa kecil.
__ADS_1
Tawa yang manis yang pernah hilang.
"Kau ingin memakan ku, ha? Apa kau memakan manusia?" tanya Nathan menarik kembali tangannya dari mulut bayi Nara. Bagaimanapun, ia tau itu tak baik untuk bayi walau tangannya bersih.
"Kau sangat kecil, kalau aku mencekik mu mungkin kau langsung mati," gumam Nathan mengelus pelan tangan bayi Nara.
Setelah itu Nathan sibuk berbicara sendiri sembari memegang tangan bayi mungil itu hingga bayi Nara tertidur. Nathan tidak tau, jika ada pak Hans yang sudah lama menunggu di depan kamar dan juga Diana yang sedari tadi menunggu kedatangan pak Hans yang membawa bayinya.
_
_
_
_
_
_
_
_
Hm, perlahan namun pasti, Nathan bakalan lembut sendiri kalau sama bayi Nara, lain hal nya sama Diana, dia tetap bakalan dingin tapi memberikan perhatian lewat sifat dinginnya itu.
Tetap di ikuti yah biar tau keseruan kisah Nathan dan Diana 🥰🥰
lanjut?
__ADS_1
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
tbc.