Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 52. Ternyata.


__ADS_3

Malam yang dingin dan menakutkan telah berlalu dan kini berganti dengan pagi yang dingin dan juga mengejutkan.


Hujan masih membasahi bumi dengan derasnya, orang-orang pun memilih untuk beraktivitas di dalam rumah saja daripada terkena air hujan yang bisa membuat tubuh menggigil.


Di dalam kamar, Diana perlahan membuka matanya ketika sebuah tangan menyentuh wajahnya.


Diana menatap tangan yang menyentuh wajahnya itu, ternyata itu adalah tangan mungil Nara yang kini berada di sampingnya.


"Selamat pagi putri ibu yang cantik sejagat raya," ucap Diana pelan sembari mengelus pipi bayinya.


"Mau susu?" tawar Diana berusaha duduk, tapi kepalanya masih pusing.


"Tidurlah, kau masih demam." Diana langsung mengalihkan pandangannya ke arah Nathan yang datang membawa sebotol air putih.


"Tapi Nara butuh susu," sahut Diana memperhatikan Nathan yang memasukan air putih itu ke dalam botol susu Nara.


"Kau sedang demam jadi, jangan dekat-dekat dengan putriku," ucap Nathan membuat Diana langsung jengkel.


"Lalu kau ingin memberikan putriku air putih saja? Tega sekali dirimu!"


"Ini bukan air putih, ini air gula!" ketus Nathan menggendong Nara lalu memberikan air gula itu pada Nara.


"Aku masih sehat dan masih bisa menyusui, kasihan anakku harus minum air gula!" balas Diana tak kalah ketus.


"Ini bukan sembarang gula, bodoh! Gula ku itu berbeda dengan gula milik mu!"


Mendengar itu, Diana memilih diam saja. Diana pun kembali membaringkan tubuhnya sembari memperhatikan interaksi antara Nara dan Nathan.


Kalau di pikir-pikir mereka bertiga punya sebutan nama yang sama-sama menggunakan huruf N. Nathan, Nana dan Nara. Unik sekali bukan.


"Apa lihat-lihat?" tanya Nathan membuat Diana langsung tersadar dari lamunannya.


"Aku tidak melihat mu, aku hanya melihat putri tercintaku," jawab Diana enteng.


"Cih, katakan saja kalau kau ingin melihat wajahku, bukan. Seperti yang kau katakan waktu itu, dasar pecicilan!" ketus Nathan membuat Diana langsung duduk dan menatap kesal ke arah laki-laki itu.


"Baiklah, itu terakhir kalinya aku mengatakan kau tampan! Selanjutnya aku tak akan memuji mu lagi, lebih baik aku memuji pak Hans saja," ucap Diana penuh penekanan. Diana pun memilih pergi ke kamar mandi, ia ingin makan jadi, ia pun harus membersihkan wajah dan mulutnya terlebih dahulu.


Setelah selesai membersihkan wajahnya, Diana pun keluar dari kamar mandi. Hanya ada Nathan di sana, tak ada Nara membuat Diana mencari-cari keberadaan putrinya itu.


"Dimana Nara?" tanya Diana berjalan ke arah Nathan yang duduk di sofa.


"Sudah aku buang ke kolam," jawab Nathan serius membuat Diana langsung membelalakkan matanya.


"Anakku!" teriak Diana ingin keluar dari kamar, namun pintu kamar di kunci.


"Buka pintunya!" bentak Diana marah.


Nathan pun berjalan mendekati Diana membuat wanita itu memundurkan langkahnya. Nathan terus berjalan hingga menyudutkan Diana ke dinding.

__ADS_1


Karena tak ingin menatap wajah Nathan, Diana pun membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya itu.


"Kau membuatku kesal hari ini, tapi tenang saja, se-kesal apapun aku, aku tak akan menyakiti putri ku, kecuali dirimu," bisik Nathan menyentuh perut Diana membuat wanita itu langsung melotot.


"Jangan sentuh aku, mesum!"


"Eum, aku akan menyentuhmu jika kau mengatakan itu. Katakan saja hari ini adalah hari kebalikan, jika kau mengatakan jangan, maka aku akan melakukannya, begitupun sebaliknya," ucap Nathan dengan tangan kanan menyentuh perut Diana dan tangan kiri mengelus leher Diana.


Tubuh Diana menjadi tegang, jika ia membalikkan badannya, itu akan semakin buruk. Kabur? Itu ide buruk karena Nathan benar-benar menghimpitnya ke dinding.


"Aku bilang jangan macam-macam!" teriak Diana merinding ketika tangan kanan Nathan merayap masuk ke dalam bajunya.


"Aku akan macam-macam," bisik Nathan tersenyum kecil.


"Matilah aku," gumam Diana.


"Kira-kira bagaimana rasanya menyentuh tubuh kurus dan pendek ini yah, kita sudah menikah tapi kita belum malam pertama, bagaimana jika kita melakukannya sekarang saja. Tapi, namanya bukan malam pertama, melainkan pagi pertama," ucap Nathan mengelus-elus perut Diana.


"Aku belum siap," ucap Diana takut.


"Apa? Kau sudah siap, kalau begitu ayo." Nathan langsung menggendong Diana membuat wanita itu langsung berteriak memberontak.


"Turunkan aku!" teriak Diana.


"Tidak mau di turunkan ternyata, baiklah kalau begitu."


Nathan pun menurunkan Diana tepat di atas ranjang.


Diana berusaha memutar otaknya, apa ia harus melanjutkan permainan ini. Ia harus mengatakan mau agar tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


Nathan terlihat membuka bajunya membuat Diana panik, apa yang harus ia lakukan sekarang?


"Apa kita harus melakukan itu?" tanya Diana ragu-ragu.


"Tidak," jawab Nathan tapi sudah membuka bajunya dan kini tengah membuka tali pinggang nya.


"Bilangnya tidak tapi celananya di buka juga," gumam Diana geli.


"Baiklah Diana, mari ikuti peraturannya."


"Baiklah, ayo kita lakukan," ucap Diana mantap membuat Nathan menghentikan aktivitas tangannya yang sedang membuka resleting celana.


"Ayo," sahut Nathan langsung menindih Diana membuat wanita itu berteriak.


"Katanya tadi kebalikan, tapi kenapa kau ingkar!" teriak Diana berusaha untuk kabur. Tubuh Nathan terasa sangat ringan, tapi tetap Diana tak bisa melepaskan diri dari suaminya itu.


"Tolong! Tolong!" teriak Diana keras.


"Tolong aku! Tolong ada suami mesum, tolong aku!"

__ADS_1


"Nona, nona." Samar-samar Diana mendengar suara pak Hans.


"Pak Hans, tolong aku. Ada laki-laki kurang ajar di sini, dia ingin meniduri ku. Pukul kepalanya, pak!"


"Pak Hans! Pukul kepala laki-laki ini!"


"Nathan brengsek! Laki-laki kurang ajar! Mati saja kau!"


"Nona sadar, nona. Apa yang anda katakan?"


Dengan cepat Diana membuka matanya lalu menatap wajah pak Hans yang tampak ketakutan. Diana kembali memperhatikan benda yang tengah ia peluk, pantas saja terasa ringan, ternyata ia memeluk guling.


"Anda baik-baik saja, nona? Anda bermimpi buruk yah?" tanya pak Hans menatap Diana yang masih kebingungan.


Diana menatap satu persatu orang yang ada di kamarnya, ada pak Hans, Rayyan, Xeon dan juga suaminya yang tengah menggendong Nara.


Apa ia tadi bermimpi mesum? Jika benar, habislah dirinya ini, apalagi ia tadi berteriak-teriak tak jelas. Bahkan ia mengumpat suaminya sendiri.


Diana menatap wajah Nathan yang terlihat dingin, berbeda dengan Rayyan dan Xeon yang sedang menahan tawa.


"Aku akan dikuliti," gumam Diana putus asa.


"Anda mengatakan apa, nona?" tanya pak Hans.


Diana tertawa kecil lalu menggeleng, "aku tidak mengatakan apapun, pak Hans."


"Dasar gila," ucap Nathan dan Diana bisa mendengar itu.


_


_


_


_


_


_


_


_


...Owalah mimpi ternyata 🤭🤭🤭 hampir aja para pembaca terlena 😂😂😂...


Untuk novel bukan salah takdir update nya siang yah😁 maaf telat❤️


tbc.

__ADS_1


__ADS_2