
Malam semakin larut, para penghuni mansion pun sudah banyak yang pergi tidur untuk mengistirahatkan tubuh serta pikiran mereka.
Di depan kamar Nathan, Diana masih duduk sembari berharap bayi nya tidak akan menangis agar tak dilukai oleh Nathan. Sungguh, ibu mana yang sanggup berpisah dari bayi nya.
Diana tampak sangat mengantuk, matanya bengkak. Ia memilih berbaring di depan kamar Nathan, mana tau anaknya rewel nanti ia bisa dengan sigap menenangkan bayi nya.
Di dalam kamar.
Nathan tampak tertidur pulas sedangkan bayi Nara tampak terbangun sembari menggeliat gelisah.
Hingga pecah juga tangis bayi itu membuat Nathan terbangun dan menepuk-nepuk paha bayi Nara. Namun, itu tak berhasil, bayi Nara tetap menangis.
"Kenapa kau menangis?" tanya Nathan bangun dan memperhatikan bayi Nara yang tampak bergerak gelisah. Nathan pun membuka bedung bayi Nara, ternyata sudah basah. Bayi Nara memang tak memakai pampers karena kulitnya akan iritasi jika menggunakan Pampers.
Nathan menatap bingung, ia harus apa sekarang. Bagaimana cara mengganti nya?
Nathan pun berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu kamar, matanya langsung tertuju pada Diana yang tampak berbaring di lantai.
"Bangunlah, dia pipis." Nathan menyentuh kaki Diana dengan kakinya.
Diana pun terbang dan langsung duduk menatap laki-laki yang ada di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Diana.
"Bayi nya pipis, cepat bersihkan."
Diana pun mengangguk lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil bedung lain dan juga beberapa perlengkapan bayi.
Setelah itu, Diana pun dengan segera membersihkan bagian bawah bayi nya lalu mengganti bedung bayi Nara.
"Sprei nya basah," gumam Diana sudah menggendong putrinya. Ia menatap ke arah Nathan yang duduk di sofa.
"Aku akan mengganti sprei nya," ucap Diana.
"Tidak perlu, biar pak Hans saja nanti." Nathan berdiri dan berjalan ke arah Diana membuat wanita itu memundurkan langkahnya. Nathan pun mengambil kembali bayi Nara dari gendongan Diana lalu berjalan keluar dari kamar.
Diana hanya bisa pasrah dan mengikuti saja kemana suaminya itu membawa bayinya.
Tampak Nathan berjalan ke arah kamar yang di tempati Diana lalu meletakkan bayi Nara di atas ranjang dan ikut naik ke tempat tidur.
"Kau ingin tidur di sini?" tanya Diana menutup pintu kamar.
Tak ada jawaban dari Nathan, sepertinya laki-laki itu sangat mengantuk. Terbukti dari Diana yang bisa naik ke atas ranjang.
Diana memilih membaringkan tubuhnya dan menepuk-nepuk paha bayi Nara agar tertidur. Jadilah mereka seperti sebuah potret keluarga kecil yang bahagia.
*******
Pagi harinya.
Nathan mengucek matanya, ia baru saja bangun dan ternyata dua manusia yang ada di sampingnya masih tertidur.
Nathan menatap wajah bayi Nara yang imut saat sedang tidur, ia pun mencium pipi bayi Nara lalu mengelus tangan bayi mungil itu.
__ADS_1
Setelah itu, Nathan memilih untuk turun dari ranjang dan keluar dari dalam kamar. Hari ini, ia akan melihat perkembangan labirin yang di bangun di sekitaran markasnya.
Sesampainya di dalam kamar, ternyata tempat tidur Nathan sudah di ganti dengan yang baru. Nathan pun tak memperdulikan itu lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, Nathan melihat pak Hans dan Xeon sudah ada di dalam kamarnya sembari membawa sarapan pagi untuknya.
"Dimana Rayyan?" tanya Nathan duduk di sofa dan menyantap sarapan paginya.
"Sudah ada di markas, tuan."
"Bagaimana perusahaan?" tanya Nathan.
"Semua berjalan dengan baik, tuan. Oh ya, saya membakar dua perusahaan karena berusaha untuk berbuat curang, tuan." Xeon menjawab dengan santai.
"Hanya gedungnya saja?" tanya Nathan.
"Bersama karyawan-karyawan nya, tuan."
"Bagus."
Setelah selesai sarapan, Nathan pun berjalan keluar dari kamar. Ia berjalan ke arah kamar Diana sembari diikuti oleh Xeon.
Nathan membuka pintu kamar lalu berjalan ke arah ranjang, tampak Diana dan bayi Nara masih tertidur.
"Katakan pada pak Hans untuk memperketat lagi penjagaan mansion, jangan biarkan orang asing masuk ke dalam tanpa seizin ku!" titah Nathan sembari mengelus pipi bayi Nara.
"Baik tuan."
Setelah itu, Nathan dan Xeon pun pergi dari kamar Diana lalu menuju mobil yang sudah di siapkan untuk perjalanan menuju markas melihat perkembangan pembangunan labirin.
******
Di luar kamar Diana.
Dua orang anak buah Nathan tampak berjaga di depan pintu kamar.
"Mau apa kau?" tanya penjaga itu pada seorang pelayan wanita.
"Saya ingin mengantarkan makan siang untuk nona Diana, tuan."
Dua penjaga itu langsung memeriksa makanan yang di bawa pelayan wanita itu.
Tampak penjaga itu mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang, setelah itu ia mengkode satu temannya untuk melakukan sesuatu.
"Ikut kami!" penjaga itu menarik tangan pelayan wanita dengan kasar.
"Apa yang anda lakukan, tuan? Apa kesalahan saya?" tanya pelayan itu memberontak.
Plak!
"Diam dan menurut lah!" hardik penjaga itu menyeret paksa pelayan wanita menuju lantai bawah. Pelayan wanita itu di seret dengan kasar menuruni anak tangga hingga menyita perhatian pelayan lainnya.
Terlihat pak Hans sudah menunggu di lantai bawah sembari memegang sebuah cambuk.
__ADS_1
Penjaga itu pun langsung mendorong pelayan wanita hingga jatuh tersungkur ke lantai.
"Perhatikan ini semua para pekerja!" teriak penjaga menunjuk pelayan wanita yang masih terduduk di lantai.
"Jika diantara kalian ada yang mencoba untuk berkhianat, maka kalian tidak akan mati dengan mudah! Bukan hanya kalian saja yang akan tersiksa, tapi keluarga kalian juga akan ikut kami siksa!" tegas penjaga kamar Diana.
Pak Hans pun memberikan cambuk itu pada penjaga lalu mengkode agar segera melakukan tugasnya.
Suara cambukan menggema di penjuru ruangan membuat para pelayan merinding.
"Ampun, ampuni saya, tuan!" teriak pelayan wanita itu histeris.
"Katakan siapa bos mu!"
"Ampun, tuan. Saya tidak berkhianat." Penjaga itu masih tak berhenti mencambuk pelayan wanita yang terus saja menjerit kesakitan.
"Kau pikir kami bodoh, ha! Kau datang mengantarkan makanan ke kamar nona muda, padahal makanan nona muda maupun tuan muda selalu pak Hans yang mengantarkan. Kau pasti penghianat!"
Puas dengan cambukan, penjaga itu pun meminta tongkat bisbol lalu memukul pelayan wanita itu dengan sadis.
"Katakan siapa bos mu!" bentak penjaga itu.
Pelayan wanita pun tampak sudah sangat lemah dengan darah yang keluar dari mulut serta hidungnya.
"Sa-sanjaya."
Setelah mengatakan itu, tampak pelayan wanita tak bergerak lagi. Sepertinya kematian sudah menghampirinya membuat penjaga yang memukulinya pun tersenyum puas.
"Bersihkan mayatnya lalu kembali bekerja!" titah pak Hans.
"Baik pak."
_
_
_
_
_
_
_
_
Oh ya kawan-kawan, sistem NT sedang eror, nah jadi ketika author update satu bab baru,maka di atas bab 1 akan ada bab 1 lagi yang judulnya sama seperti bab 2.
gak usah di baca itu, karena itu hanyalah kesalahan sistem.
Maaf yah telat dan juga kurang seru, sebab author memang lagi sibuk banget😁
__ADS_1
...semoga dapat dimaklumi....
tbc.