
Keesokan harinya.
Setelah selesai sarapan, Nathan pun bersiap-siap untuk pergi ke markas. Tangannya sudah tak sabar menyentuh kulit paman nya itu.
Namun, sebelum pergi, Nathan mencium kening Diana berkali-kali lalu mencium pipi istrinya.
"Setiap detiknya aku berharap kau sadar, sayang. Apapun yang terjadi nanti, rasa cintaku semakin bertambah untuk mu." Setelah mengatakan itu, Nathan pun pergi meninggalkan Diana yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Di dalam mobil, Nathan sudah menghubungi Rayyan untuk menyiapkan apa yang ia perlukan nantinya, ia benar-benar tak sabar ingin bertemu dengan paman nya itu.
Setelah menempuh hampir setengah jam perjalanan, akhirnya Nathan pun tiba juga di markas utama.
Dengan langkah santai ia masuk ke markas, tak lupa pula ekspresi yang menggambarkan kemarahan membuat para anak buah Nathan hanya bisa menunduk hormat saja.
"Selamat datang, tuan. Semua perintah anda sudah di jalankan," ucap Rayyan langsung ke intinya.
Nathan tak merespon dan melanjutkan langkahnya menuju sebuah ruangan tempat Baron di kurung.
"Dia masih terlihat kuat, tuan. Meski kami tak memberinya makanan layak seminggu ini," ucap Rayyan.
"Bangunkan dia!" titah Nathan. Anak buahnya pun langsung menyiram Baron dengan air dingin membuat laki-laki itu terkejut.
"Nyenyak sekali tidurmu, Paman. Apa kau tak takut kematian menghampiri mu?" Nathan berjalan ke arah Baron sembari memegang sepotong kayu yang besar.
Baron tampak menyeringai licik, tak ada raut ketakutan dari wajah laki-laki tua itu.
"Bagaimana rasanya kehilangan lagi, Nathan? Apa kau suka hadiah dari ku?" tanya Baron tersenyum mengejek.
Bugh!
Kayu itu melayang menghantam kepala Baron dengan keras hingga mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
"Kau tidak akan mati dengan mudah, Paman. Aku akan menyiksamu hingga kau memohon untuk segera di bunuh!" tekan Nathan sembari memukul tubuh Baron. Nathan tak akan memukul kepala Baron lagi, karena tak mau Baron mati. Sangat tidak menyenangkan jika paman nya itu cepat mati tanpa merasakan derita.
"Hari ini, kau hanya mendapatkan pukulan dari kayu saja. Esok, kau akan mendapatkan lebih," ucap Nathan sembari menempelkan kayu itu di luka Baron lalu menggesek kayu itu membuat Baron kesakitan. Teriakan kesakitan ketika kayu itu merobek kulitnya dan menyentuh dagingnya.
Nathan menyudahi siksaannya sementara, masih ada esok untuk melakukan hal yang lebih ekstrim.
********
Keesokan harinya.
"Arghhhh!"
Teriakan demi teriakan terdengar lantang keluar membuat anak buah Nathan merinding.
Di ruangan, Nathan tampak tengah menyayat kulit paha Baron menggunakan pisau yang sudah berkarat dan tidak tajam lagi.
__ADS_1
"Seharusnya kau tidak melakukan kesalahan fatal, Paman. Kalau saja kau tak membunuh anakku dan melukai istriku, mungkin kau akan mati dengan mudah," ucap Nathan berdiri dengan tangan yang berlumuran darah.
"Aku tidak menyesal telah membunuh putri mu itu! Aku senang, meski aku mati nanti, aku akan tetap senang karena berhasil merebut kebahagiaan mu lagi!" balas Baron dengan nafas yang tak beraturan.
"Tidak lama lagi istrimu juga akan mati!" lanjutnya tersenyum mengejek.
Nathan pun mengkode anak buahnya untuk menyirami luka di paha Baron dengan air perasan jeruk nipis.
Seketika laki-laki itu itu kembali berteriak dengan urat yang menegang.
"Mungkin aku terlalu baik padamu, Paman. Kau masih bisa bicara dengan mudah, sepertinya aku harus menaikkan tingkat penyiksaan nya," ucap Nathan dengan wajah datarnya.
Baron tampak masih menahan kesakitan, laki-laki itu berharap segera mati daripada harus terus merasakan rasa sakit yang mengerikan.
Entah apa penyiksaan yang akan ia terima esok harinya.
Setelah hari itu, setiap harinya Nathan datang dengan membawa penyiksaan yang lebih menyakitkan untuk Baron.
Bahkan pernah sekali, Baron memohon untuk di bunuh karena tak sanggup lagi menerima rasa sakit yang diberikan keponakan nya itu.
Tepat hari ini, sudah seminggu Nathan menyiksa paman nya itu hingga wujud Baron tak karuan dan ajaibnya, Baron masih hidup sampai sekarang.
Nathan begitu puas, ia tampak sangat mengerikan. Bahkan, Rayyan dan Xeon saja takut membuka suara mereka hanya sekedar untuk bertanya. Sebuah sisi lain dari tuan mereka yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Hari ini adalah hari terakhir penyiksaan. Nathan memerintahkan anak buahnya untuk membawa Baron ke halaman depan.
Sudah ada satu kuali besar dengan air mendidih dengan tungku api yang membuat mereka tegang.
Belum pernah mereka melihat hal seperti ini sebelumnya, walau mereka sering membunuh orang.
Tampak Baron di seret paksa menuju halaman depan diikuti Nathan dan yang lainnya dari belakang.
Semua anak buah langsung menunduk hormat.
"Dengar semuanya!"
"Di depan kalian ini adalah contoh orang yang mengusik kehidupan Tuan Albert, tak peduli siapapun itu, mereka akan mendapatkan siksaan yang mengerikan di sini!" ucap Rayyan dengan nada tegas sembari menunjuk Baron yang sudah sangat lemah.
"Masukkan dia ke air mendidih!" titah Rayyan.
Sontak semuanya langsung mengangkat kepala mereka untuk melihat adegan kekerasan yang langka mereka lihat sebelumnya.
"Ada kata-kata terakhir?" tanya Nathan pada Baron, pamannya.
Baron tampak tertawa lemah dengan wajahnya sudah rusak dan mata yang rusak sebelah.
"Aku tak menyesal," ucap Baron pelan.
__ADS_1
Setelah itu, tubuh Baron pun di masukkan ke dalam kuali besar yang berisikan air mendidih.
Teriakan kesakitan terdengar jelas hingga teriakan itu pun tak terdengar lagi.
Kejam bukan?
Bahkan itu saja belum cukup mengobati luka yang ada di hati Nathan.
Setelah menyaksikan kematian Paman nya, Nathan pun memerintahkan agar jasad Baron di buang ke kolam buaya.
Tak ada perlakuan layak untuk seorang bajingan seperti itu.
Selesai sudah urusannya dengan Baron, kini hanya perlu menghadapi takdir kehidupan yang entah itu membahagiakan atau justru menyedihkan.
_
_
_
_
_
_
_
Kenapa kemarin gak up Thor?
Penjelasan nya yah, author sudah nulis malam tuh dan ngatur waktu update nya di jam 00.00.
Pas subuh, author cek balek ternyata belum lolos.
Jadi, harus revisi lagi, tapi author kuliah sampai jam 5 sore.
Malam nya author revisi lagi, tapi gak bisa menyeluruh karena ngantuk.
Dan paginya baru author tulis ulang dengan memperhalus alur dan adegan serta kata-kata nya.
Itulah mengapa alurnya kalau di baca kurang kejam, jadinya kurang puas gitu loh😂 Tapi, mau kekmana lagi pula.
memang susah kalau udah berhubungan dengan kekerasan, pastinya sangat sensitif.
Setelah ini, tak ada lagi kekerasan. hanya ada sebuah perjuangan dan juga ke uwuwan😁 biar terobati ke galauan kalian yang nangisi baby Nara😘
terimakasih
__ADS_1
tbc.