Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 86. Hampir mati.


__ADS_3

Hari demi hari terlewati hingga tepat satu bulan setelah malam yang hangat dilewati oleh Nathan dan Diana.


Nathan sudah mendapatkan rumah yang diinginkan oleh istrinya itu dan tentunya Diana sangat menyukai rumah pemberian suaminya.


Namun, mereka belum menempati rumah itu karena ada beberapa bagian yang harus di renovasi sesuai keinginan Diana.


Hari ini, Diana tampak sedang mengemasi barang-barang nya di bantu beberapa pelayan. Ia akan pergi jalan-jalan ke luar negeri bersama suaminya besok.


"Biar kami saja, nona." Para pelayan merasa tak enak hati karena pekerjaan mereka dibantu oleh Diana. Mereka takut, Nathan marah dan menghukum mereka nantinya.


"Tidak apa-apa, lagi pula aku tidak ada kegiatan lain." Diana tetap dengan pendiriannya untuk membantu mengemasi barang.


Para pelayan pun hanya pasrah saja dan melanjutkan mengemasi barang-barang tuan dan nyonya mereka.


Setelah selesai mengemasi barang-barang, Diana memilih untuk mandi karena badannya berkeringat dan itu membuatnya risih.


Diana pun masuk ke kamar mandi lalu memilih berendam untuk membuat tubuhnya kembali rileks.


"Kira-kira, butuh berapa lama dan berapa kali hingga aku hamil yah?" gumam Diana sembari menikmati aroma sabun yang wangi. Wanita itu menutup matanya membuat tubuhnya lebih rileks lagi.


Di saat Diana tengah menikmati momen berendam nya, tiba-tiba saja kakinya seperti di tarik membuat wanita itu membuka matanya dan seketika tubuhnya tertarik masuk ke air.


Diana memberontak saat tubuhnya terasa di tekan, ia tak bisa bernafas. Ingin minta tolong pun ia tak bisa, tubuhnya benar-benar di tekan kebawah.


Diana sudah tak tahan lagi, rasanya ia akan mati. Namun, tiba-tiba tubuhnya sudah bisa digerakkan. Dengan cepat Diana bangun dan bernafas.


Di lihatnya sekeliling kamar mandi. Pemandangan yang membuat ia sangat muak dan juga membuat kepalanya sakit.


Dengan cepat, Diana berdiri dan meraih handuknya. Ia tak mau lagi berendam karena takut dikerjai lagi. Mungkin, jika telat beberapa detik, Diana sudah tewas.


Diana pun memilih untuk segera keluar dari kamar mandi, kepalanya sangat pusing dan wajahnya pun pucat.


"Mereka hampir saja membunuhku," gumam Diana sembari memakai pakaiannya.


"Rumah ini sangat tak aman bagi ku, banyak sekali makhluk yang mengerikan di sini. Walau hanya beberapa yang jahat, tapi aku tetap saja merasa terancam," lanjut Diana mengeringkan rambutnya.


Kieeettt.....


Diana menoleh ke arah sumber suara, dimana pintu lemari terbuka. Kalau orang yang tak bisa melihat makhluk halus, mungkin mereka akan merinding. Tapi, lain halnya dengan Diana yang bisa melihat siapa pelaku si pembuka pintu lemari itu.


Makhluk itu tersenyum lalu kembali menutup lemarinya dan menghilang dari hadapan Diana.


Setelah selesai mengeringkan rambut, Diana pun memilih untuk keluar dari kamar. Ia akan jalan-jalan untuk menenangkan pikirannya sejenak.


"Anda membutuhkan sesuatu, nona?" tanya pak Hans menghampiri Diana.


"Kapan suamiku pulang? Hubungi dia dan katakan aku merindukannya," ucap Diana duduk di halaman belakang sembari menikmati angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.


"Baik nona." Pak Hans pun mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Nathan, tak lupa pak Hans membesarkan volume ponselnya agar Diana bisa mendengar suara Nathan nantinya.


Panggilan tersambung.

__ADS_1


"Katakan!"


"Apa marah-marah, ha?" sahut Diana kesal karena mendengar nada ketus suaminya.


"Sayang, aku kira pak Hans. Ada apa? Kenapa kau menghubungi ku? Apa kau merindukanku?" tanya Nathan dengan nada lembut.


"Cepat pulang!" titah Diana lalu menekan ikon merah yang artinya panggilan pun terputus.


"Pak Hans, aku lapar. Mau makan yang pedas-pedas dan juga berkuah," pinta Diana sembari tersenyum.


"Baik, nona. Akan saya siapkan," ucap pak Hans mengangguk lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan yang diminta oleh majikannya itu.


Di sisi lain, Nathan yang baru saja menerima telepon dari istrinya pun langsung membatalkan semua rapat karena ia ingin segera pulang.


Hal itu, membuat beberapa rekan kerja kesal, namun mereka hanya bisa diam dan menurut jika ingin hidup.


Nathan berjalan tergesa-gesa menuju parkiran tanpa menunggu Xeon. Ia tak ingin Diana menunggu lama dan akhirnya terjadilah tuduhan-tuduhan tak berdasar dan istrinya itu akan merajuk.


*****


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya Nathan pun tiba di mansion. Laki-laki itu langsung mencari keberadaan istrinya dengan menanyai pelayan.


Mengetahui, bahwa istrinya ada di halaman belakang, Nathan langsung menuju tempat istrinya itu berada.


"Sayang," panggil Nathan menghampiri Diana yang tengah menikmati semangkuk mie kuah pedas.


"Aku merindukanmu," bisik Nathan mencium pipi Diana lalu duduk di samping istrinya itu.


"Kau bisa pergi!" titah Nathan pada pak Hans.


"Apa aku punya salah?" tanya Nathan berusaha tetap lembut. Sungguh, kepribadiannya sudah sangat bertolakbelakang dengan aslinya. Semua itu, karena istri tercintanya.


"Banyak," jawab Diana.


"Apa salahku?" tanya Nathan.


"Entah," jawab Diana cuek.


Kalau sudah merajuk, pasti susah untuk membujuk istrinya ini.


Nathan pun memilih untuk diam karena percuma saja ia bicara kalau tak di anggap oleh istrinya itu.


"Kenapa diam? Kenapa tidak bertanya lagi?" tanya Diana kesal menatap tajam suaminya itu.


"Percuma saja aku bertanya, kau juga tak akan menjawab." Nathan menjawab dengan kesal juga.


"Oh, sudah merajuk yah. Seharusnya kan yang merajuk itu aku, bukan kau. Ah, malas." Diana langsung meletakkan sendok yang ada di tangannya lalu menjauhkan mangkok mie nya.


"Sayang, apa salahku? Aku tak tau jika kau tak mengatakan nya," tanya Nathan memeluk Diana dari samping.


"Kau tau, hari ini aku hampir saja mati." Nathan tertegun mendengar ucapan istrinya itu. Apa itu benar?

__ADS_1


"Bagaimana bisa, sayang? Apa ada orang yang mencoba melukaimu?" tanya Nathan khawatir.


"Banyak yang ingin melukai ku di rumah ini, aku hampir mati tadi."


"Coba ceritakan dengan jelas, sayang." Nathan masih belum bisa mencerna ucapan istrinya itu.


"Tadi aku berendam, tapi tiba-tiba kaki ku di tarik dan tubuhku seperti ditekan. Aku tak bisa bergerak dan bernafas, aku hampir saja mati." Diana menceritakan semuanya dengan mata yang sudah berair.


"Untungnya, aku bisa bergerak kembali walau nafas ku hampir habis. Aku takut saat itu, aku pikir akan mati," lanjut Diana benar-benar membuat Nathan khawatir sekaligus emosi.


"Apa kau terluka, sayang?" tanya Nathan menyeka air mata istrinya. Diana menggeleng membuat Nathan bisa bernafas lega.


"Aku mungkin bisa membunuh orang yang mencoba mengganggu mu, sayang. Tapi, untuk makhluk seperti itu, aku tak bisa. Maafkan aku," ucap Nathan mengelus pipi istrinya.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Melihatmu sudah membeli rumah untuk kita nanti saja aku sudah sangat bahagia," sahut Diana tersenyum manis.


"Aku akan meminta mereka untuk mempercepat renovasinya agar kita bisa segera pindah," ucap Nathan mengecup kening Diana.


"Terimakasih, sayangku."


"Iya, maafkan aku yah karena belum bisa menjadi pelindung untukmu," ucap Nathan membuat Diana tertawa kecil.


"Kau adalah suami yang sempurna bagiku, aku mencintaimu."


"Aku juga."


"Oh ya, jalan-jalan nya besok jadikan?" tanya Diana mendongakkan kepalanya menatap mata Nathan.


"Jadi, sayang. Mana mungkin suamimu ini ingkar janji," jawab Nathan menoel hidung Diana.


"Yeah, jalan-jalan. Mudah-mudahan, nanti ketika kita pulang aku sudah berbadan dua," ucap Diana antusias. Nathan pun tersenyum kecil lalu mencium bibir Diana.


"Semoga saja."


_


_


_


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


_


Tbc.


__ADS_2