
Malam harinya.
Diana kini sudah selesai makan malam, tubuhnya terasa sangat lelah. Ia ingin cepat-cepat tidur, tapi sebelum itu ia harus menyusui putrinya yang tentunya kini sedang bersama Nathan.
Diana pun pergi ke ruang kerja suaminya, ia tau suaminya ada di ruang kerja dari pak Hans.
Sesampainya di ruang kerja suaminya, Diana dapat melihat Nathan tengah memeriksa beberapa berkas dengan Nara di pangkuannya. Putri kecilnya itu tampak menggeliat menarik bahkan memasukan baju Nathan ke mulutnya.
"Lapar yah," ucap Nathan sembari mengeluarkan bajunya dari mulut Nara.
"Biar aku beri susu dulu," ucap Diana membuat Nathan langsung menoleh ke arah wanita itu. Ia tak sadar jika Diana ada di ruangannya karena terlalu fokus dengan berkas-berkas yang ada di atas meja.
"Hm." Nathan pun membiarkan Diana mengambil alih Nara untuk diberi susu.
Diana memilih duduk di sofa untuk menyusui putri tercintanya.
"Anak ibu sudah semakin besar yah, cantiknya." Diana mengelus pipi putrinya. Tangan Nara pun menjulur ke atas menyentuh wajah sang ibu.
"Nara pintar, Nara cantik, Nara baik hati." Sungguh sebuah keberuntungan bagi Diana karena memiliki malaikat kecil yang cantik dan juga sehat. Diana berharap, putrinya akan berumur panjang dan selalu bahagia.
Nathan yang melihat kebersamaan Diana dan Nara pun tersenyum kecil lalu kembali fokus pada berkasnya.
Beberapa menit kemudian.
"Nara sudah tidur, kami ke kamar yah," ucap Diana berdiri.
"Ya."
Diana pun pergi ke kamar untuk meletakkan putrinya ke tempat tidur. Setelah memastikan putrinya nyaman dan aman, Diana pun menggerai rambutnya. Ia akan segera tidur karena sudah selesai menyusui putrinya.
Namun, sebelum tidur. Diana ingin mengambil air putih terlebih dahulu, ia sering merasa haus di tengah malam dan kebetulan air di kamarnya sudah habis.
Diana pun pergi ke dapur untuk mengambil sebotol air mineral, setelah itu ia kembali berjalan ke kamar.
Di perjalanan menuju kamar, Diana melihat suaminya masuk ke kamar milik Diana.
"Mungkin dia ingin melihat Nara," ucap Diana berbaik sangka.
Diana pun menunggu di luar kamar saja sampai suaminya keluar, ia tak ingin terjebak dalam satu kamar lalu terjadi hal mesum seperti biasanya.
Setelah menunggu hingga setengah jam di luar kamar, akhirnya yang di tunggu-tunggu pun muncul juga.
Nathan menatap bingung ke arah Diana, mengapa wanita itu ada di luar.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nathan menutup pintu kamar.
"Menunggu mu keluar dari kamar," jawab Diana enteng.
Nathan menyeringai kecil, ia paham maksud istrinya itu.
"Jadi, kau menungguku?" Nathan berjalan mendekat membuat Diana memundurkan langkahnya.
"I-iya, maksudnya menunggu kau keluar dari kamar agar aku bisa tidur," jawab
Diana tampak gugup karena belakangan ini suaminya sangatlah berubah.
Diana terus memundurkan langkahnya hingga akhirnya tubuh wanita itu membentur dinding.
"Eum, begitu yah." Nathan langsung mengurung tubuh Diana membuat wanita itu terkejut.
__ADS_1
"Jangan macam-macam, nanti kepalamu ku pukul!" ancam Diana sembari memperlihatkan botol minum yang ada di tangannya.
"Aku tidak takut," ucap Nathan langsung mencium bibir istrinya. Sontak saja, Diana terkejut dan refleks menjatuhkan botol minum yang ia pegang.
Ciuman itu memang singkat, tapi berhasil membuat Diana berdebar-debar.
Melihat wajah istrinya yang malu, Nathan malah semakin suka dan kembali melanjutkan aksinya.
Dari lantai bawah, Xeon dan Rayyan baru saja sampai di mansion tuannya. Mereka akan membahas sedikit strategi menangkap Baron dan juga membahas tentang perusahaan.
"Aku lapar," ucap Rayyan mengelus perutnya.
"Tidak ada jatah beras untuk mu," sahut Xeon dengan nada ledekan.
"Cih, bajingan!" umpat Rayyan.
Kini mereka berdua sedang menaiki anak tangga, seketika langkah mereka terhenti saat melihat adegan yang langka di hadapan mereka.
Terlihat kini dua insan tengah berciuman di depan pintu kamar.
"Apa aku sedang bermimpi?" tanya Rayyan menepuk-nepuk pipinya.
"Tidak, ini bukan mimpi," sahut Xeon.
Tampak Nathan menyadari keberadaan dua anak buahnya, Nathan pun mengangkat tubuh Diana lalu pergi ke kamarnya membuat Rayyan dan Xeon bertepuk tangan.
"Sungguh perubahan yang mengejutkan," ucap Rayyan masih tak habis pikir dengan apa yang ia lihat tadi.
Seorang tuan Albert berciuman? Yang benar saja.
"Kira-kira, bagaimana yah rasanya ciuman?" tanya Xeon antusias.
"Jika tuan-tuan ingin tau, menikahlah." Rayyan dan Xeon terkejut mendengar suara dari belakang mereka.
Ternyata pak Hans, laki-laki itu tampak memakai celana pendek selutut dan kaos lengan pendek.
"Pak Hans, apa yang anda lakukan di sini? Mengapa anda tidak beristirahat?" tanya Xeon.
"Malam ini saya akan menjadi penjaga bayi tidur," jawab pak Hans berjalan menuju kamar Diana lalu masuk ke kamar itu.
"Wah, apakah kita akan mendapatkan keponakan baru?" tanya Rayyan.
"Sepertinya begitu," jawab Xeon menepuk pundak Rayyan.
*******
Di dalam kamar Nathan.
Kini Nathan sudah membaringkan istrinya di atas ranjang, melakukan apapun yang ia mau pada istrinya.
Diana pun tampak pasrah, jika malam ini suaminya meminta, ia akan bersedia.
"Apa kita akan melakukannya?" tanya Diana pelan.
Nathan menghentikan aktivitasnya lalu menatap mata Diana.
"Apa kau sudah siap?" tanya Nathan.
"Kalau kau memintanya, aku tak apa-apa," jawab Diana tersipu malu membuat suaminya itu tertawa kecil.
__ADS_1
Nathan mengecup pipi kanan Diana lalu membaringkan tubuhnya di samping wanita yang berstatus istrinya itu.
"Kita tak jadi melakukannya?" tanya Diana.
"Tidak sekarang, jangan terburu-buru." Nathan membelai rambut istrinya. Sebuah kehangatan dan juga kebahagiaan yang berarti bagi seorang tuan Albert.
"Kenapa begitu?" tanya Diana memiringkan tubuhnya menghadap Nathan.
"Akan ada saatnya kita melakukan itu dengan suka rela, di mana kau akan bahagia ketika pagi harinya dan aku pun begitu," jawab Nathan menyentuh hidung Diana.
Diana pun tampak terdiam, ia sendiri sebenarnya masih ragu untuk melakukan itu. Mungkin hasrat lah yang mendorongnya menginginkan lebih.
"Tidurlah," ucap Nathan duduk. Diana pun langsung menarik tangan suaminya itu, bagaimana pun ia ingin mendekatkan diri lagi dengan suaminya.
"Mau kemana?" tanya Diana.
"Aku ingin membahas sesuatu dengan Rayyan dan Xeon," jawab Nathan.
"Jangan sekarang, nanti saja kalau aku sudah tidur." Diana menarik tangan suaminya agar kembali berbaring.
"Baiklah," ucap Nathan kembali berbaring.
"Kau banyak berubah yah," ucap Diana memeluk tubuh kekar suaminya. Tak ada rasa takut malam ini, hanya ada rasa ingin dicintai dan di manja.
"Apa itu salah?" tanya Nathan mengelus punggung istrinya.
"Tidak, itu tidak salah. Aku sangat senang karena kau berubah, walau kadang-kadang kau itu menjengkelkan," jawab Diana mendongakkan kepalanya.
"Hm."
"Tuh kan, baru saja di puji sudah cuek lagi," ucap Diana cemberut.
"Aku tak bisa merubah keseluruhan sifat ku karena memang begitulah aku. Aku tak ingin berpura-pura ramah dan baik pada mu agar kau senang, biarlah sikap jelekku ini yang membuatmu merasa nyaman di dekat ku," ucap Nathan mulai terbuka pada istrinya. Bukankah, awal hubungan yang baik dan sehat itu adalah sebuah keterbukaan.
"Yah, kau benar. Perlahan aku nyaman dengan sikap cuek, galak dan sikap dingin-mu. Kau itu sangat tampan kalau sedang serius, tapi bertambah manis jika kau tertawa. Aku suka kau tertawa," ucap Diana membenamkan wajahnya di dada Nathan.
"Terimakasih karena sudah menerima kami, terimakasih karena sudah mencintai Nara walau dia bukan darah dagingmu. Terimakasih banyak, suamiku."
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Typo bertebaran di mana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
tbc.
__ADS_1