
Sudah beberapa Minggu terlewatkan dan akhirnya makam ayah Diana sudah di pindahkan. Hari ini Nathan akan mengajak Diana untuk melihat makam ayahnya, hanya makam ayahnya yang ia tahu, kalau makam yang lain ia tak tau.
"Aku pakai baju apa yah?" tanya Diana sibuk memilih baju terbaik untuk bertemu keluarga nya. Yah, Nathan memang belum memberitahukan Diana bahwa keluarga istrinya itu sudah tiada. Biarlah nanti Diana tau sendiri.
"Pakai yang nyaman saja, sayang."
"Aku bersemangat sekali," ucap Diana antusias membuat Nathan tersenyum kecut.
Setelah selesai berpakaian, Diana dan Nathan pun langsung turun ke bawah untuk sarapan. Mereka akan pergi setelah sarapan.
"Kenapa kau tampak tak bersemangat?" tanya Diana menatap suaminya yang tampak lesu.
"Apa aku menganggu jam kerja mu? Kalau kau sibuk hari ini tak apa, kita pergi lain kali saja," lanjut Diana.
"Tidak, sayang. Aku hanya sedikit lelah. Kita akan tetap pergi hari ini," ucap Nathan tersenyum ke arah istrinya.
"Maaf yah kalau aku menyusahkan mu," lirih Diana menunduk.
Nathan menggeleng lalu meminta Diana untuk segera menghabiskan sarapannya.
Setelah selesai sarapan, Nathan dan Diana pun masuk ke mobil menuju tempat yang akan membuat kesedihan baru bagi Diana.
Cuaca tampak tak begitu cerah, bisa jadi akan hujan nantinya. Nathan pun meminta supir agar menambah kecepatan mobil karena tak ingin kesempatan kali ini gagal.
Diana masih tampak antusias, ia menatap jalanan yang sepertinya pernah ia lewati.
"Bukankah ini jalan menuju makam Nara?" tanya Diana menatap betul-betul jalanan yang ia lewati. Nathan hanya diam karena ia tak tau harus mengatakan apa, ia ingin Diana tau sendiri.
"Sayang, kenapa kita ke makam?" tanya Diana menatap suaminya yang sedari tadi hanya diam.
Nathan masih tak menjawab dan memilih memalingkan wajahnya.
"Apa keluargaku juga sama seperti keluargamu?" tanya Diana dengan suara bergetar.
Lama Nathan tampak berpikir lalu laki-laki itu mengangguk membuat Diana menunduk.
Air matanya lolos begitu saja, tak ada hati yang senang dan hangat lagi, hanya ada hati yang terluka saat ini.
"Jadi, ini alasanmu selalu mengelak setiap kali aku bertanya tentang keluargaku," gumam Diana mulai terisak.
Nathan pun menghela nafas berat lalu memeluk sang istri.
"Aku melakukan itu karena tak ingin kau bersedih, cukup dengan kepergian Nara kau membuat ku sangat khawatir. Tapi, hari ini aku harus memberitahu semuanya, agar kau pun bisa selalu mengunjungi ayahmu," ucap Nathan menghapus air mata istrinya.
"Apa hanya ayahku?" tanya Diana.
"Aku tidak tau, sayang. Aku sedang mencari tau dimana makam keluarga mu yang lainnya. Kita bertemu saat kau tak memiliki siapapun," jawab Nathan semakin membuat hati Diana terluka.
__ADS_1
"Aku akan berusaha mencari makam ibu mu ataupun keluarga mu yang lain. Aku berjanji, sayang. Tapi, aku mohon untuk tetap baik-baik saja."
Diana pun mengangguk lalu menghapus air matanya. Wanita itu tampak mengulas senyum ketegaran.
"Aku kuat," ucap Diana kembali menghapus air matanya yang kembali mengalir.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit. Mobil pun tiba juga di area pemakaman. Nathan menggenggam tangan Diana dengan erat mencoba menguatkan sang istri akan keterpurukan hati.
Tibalah di makam yang masih terlihat segar karena baru di pindahkan. Diana ingin bertanya mengenai itu, tapi pikirannya mendadak kacau karena sangat sedih.
Ternyata nasibnya dan nasib suaminya sama. Sama-sama tak punya orang tua.
"Ayah, maafkan Diana karena baru menemui ayah," lirih Diana menyentuh batu nisan ayahnya.
"Diana pikir kalian masih hidup dan kalian tak ingin bertemu dengan anak kalian ini," ucap Diana menahan Isak tangisannya. "Ternyata ayah dan ibu sudah tenang di sana, maafkan Diana karena telat berkunjung," lanjut Diana menarik nafas dalam-dalam.
"Ayah, Diana sudah menikah. Diana memiliki suami yang baik dan juga sempurna, ayah jangan khawatir yah, karena Diana akan aman dan bahagia bersamanya," tangis Diana.
Berharap sang ayah masih ada dan menggenggam tangannya lalu mengatakan "jangan menangis", tapi itu hanyalah hayalan semata.
Rintikan hujan mulai berjatuhan membasahi permukaan bumi. Nathan mendekati istrinya mengajak Diana untuk segera ke mobil.
"Kita akan berkunjung di lain waktu, sayang. Ayo kita pulang," ucap Nathan. Diana pun dengan berat hati meninggalkan makam ayahnya walau ia sebenarnya ingin melihat arwah ayahnya, tapi tak kunjung ia temukan.
Di dalam mobil.
"Kehidupan ini sangatlah unik, bukan? Kita di pertemukan dalam kondisi tak memiliki keluarga satupun," ucap Nathan memeluk istrinya yang sudah tampak mulai tenang.
"Terimakasih karena sudah menerimaku. Walau kau tak punya keluarga, tapi, kau punya segalanya. Kau bisa mendapatkan wanita yang lebih dariku, kau bahkan bisa mendapatkan lebih dari satu wanita. Tapi, kau malah memilih ku, aku si wanita miskin yang tak punya apa-apa. Terimakasih, sayang."
Nathan hanya mengangguk lalu tersenyum tulus, setidaknya semua sudah terungkap kecuali kisah cinta masa lalu mereka. Nathan memang tak ingin mengungkapkan itu semua, biarlah waktu berjalan semestinya.
******
Keesokan harinya.
Keadaan kembali membaik, Diana sudah bisa menerima semuanya berkat mendengar kata-kata bijak suaminya.
Tumben sekali suaminya ini bijak, pikir Diana.
"Pergi kerja?" tanya Diana melihat suaminya sudah rapi.
"Melihat rumah baru," jawab Nathan membuat Diana langsung kegirangan.
"Ikut."
"Boleh."
__ADS_1
Yah, Nathan akan pergi melihat renovasi rumah yang sudah berbulan-bulan. Tentunya karena renovasinya pun besar-besaran dan juga harus maksimal.
"Rumahnya belum siap yah?" tanya Diana merapikan rambutnya.
"Sudah siap, tinggal pindah saja,"
"Yang benar?"
"Iya, sayangku."
"Yes, akhirnya." Diana pun langsung memeluk suaminya. Ia sangat senang karena sebentar lagi ia akan pindah rumah, itu berarti ia tak akan di ganggu lagi.
Diana sempat takut karena pernah sekali waktu malam perutnya seperti dielus. Ia pikir Nathan lah yang mengelus, ternyata bukan. Para makhluk itu lebih sering menampakkan wujud mereka membuat Diana khawatir jika itu akan mempengaruhi bayinya nanti.
"Akhirnya pindah juga, selamat tinggal makhluk jelek," gumam Diana sembari tersenyum senang.
_
_
_
_
_
_
_
...Wah❤️...
Thor, jangan berbelit-belit yah ceritanya.
...Ini gak berbelit-belit yah, sayang. Karena kalau berbelit-belit itu, contohnya author kasih pelakor lah, pebinor lah. Nah itu mah memperpanjang eps dan sudah keluar dari inti yang sesungguhnya nya😂 kecuali memang author ngangkat tema velakor🤭...
...Ini tuh ceritanya ngalir aja sampai anak Diana lahir. Setelah itu, tak ada lagi penghambat....
...Nah, sebelum lahir, biarlah terlebih dahulu dua insan ini menikmati masa-masa kehamilan Diana, kelahiran sang buah hati, dan merawat buah hatinya....
ngoghey 😁
Maaf yah kalau bosan🤭😁
terimakasih.
tbc.
__ADS_1