Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 34. Malu.


__ADS_3

Sore harinya.


Diana tampak duduk dengan wajah tercengang melihat penampakan yang ada di hadapannya. Kini, ia tengah duduk di ruang keluarga bersama dengan Nathan dan juga bayinya, dengan posisi Diana yang berada di sofa samping Nathan dan laki-laki itu duduk sembari menggendong bayi Nara dengan tangan kirinya lalu tangan kanan memegang sepotong pizza.


Tampak tangan bayi Nara bergerak-gerak menarik bedung nya lalu memakan kain bedung itu. Nathan pun langsung menjauhkan kain itu dari mulut bayi Nara.


"Mungkin dia lapar melihatmu makan," ucap Diana memberanikan diri untuk membuka suaranya setelah sekian menit hanya duduk diam.


"Mau," tawar Nathan memberikan pizza-nya pada bayi Nara dan Diana pun langsung mencegahnya.


"Bayi belum bisa makan," ucap Diana membuat Nathan melihat ke arahnya.


"Kalau dia tak makan lalu mengapa dia buang air besar?" tanya Nathan dingin.


"Eum, karena dia minum susu. Jadi, kalau kau ingin memberikan Nara pizza, berikan saja padaku biar aku yang memakannya dan Nara akan bisa merasakannya lewat ASI nanti," jawab Diana sembari memberikan saran.


Nathan pun menaikan sebelah alisnya lalu memberikan sepotong pizza yang ada di tangannya. Diana pun menatap potongan pizza yang sudah di gigit oleh Nathan.


"Untuk apa ini?" tanya Diana.


"Kau bilang kurcaci ini akan merasakan pizza jika kau yang memakannya, jadi makanlah."


"Kurcaci? Siapa yang kurcaci?" tanya Diana tak terima anaknya di sebut kurcaci.


"Bayi mu sangat kecil jadi dia pantas dipanggil kurcaci, cepat makan!"


"Tidak mau! Enak sekali memanggil bayiku dengan sebutan kurcaci, dia kan memang kecil karena baru lahir. Memangnya ada bayi yang baru lahir langsung sebesar dirimu!" ketus Diana tak terima.


"Makan ini atau aku masukkan ke dalam mulutmu dengan kasar!" tekan Nathan membuat Diana takut dan akhirnya menerima potongan pizza yang sudah digigit Nathan.


Diana pun memakan potongan pizza itu sembari memasang wajah masam karena masih belum terima anaknya di panggil kurcaci. Kan perkataan adalah doa, jadi berkata lah dengan baik.

__ADS_1


"Sudah?" tanya Nathan sembari memberikan segelas air pada Diana.


Diana mengangguk sembari menerima segelas air dari Nathan lalu meneguk habis air itu.


"Susui dia!" titah Nathan memberikan bayi Nara pada Diana.


"Tapikan belum turun makanan nya, sabar dulu."


"Makanan itu sudah masuk ke mulutmu lalu turun lewat tenggorokan mu dan ke lambung mu, jadi cepat susui dia di sini!"


"Di sini?" tanya Diana terkejut.


"Iya, di sini. Aku ingin melihat dia minum susu," jawab Nathan membuat pipi Diana memerah.


"Cepat!"


Diana terkejut ketika Nathan mendesaknya, apalagi putrinya sudah merengek. Diana pun perlahan membuka kancing baju tidurnya, lagi pula mereka sudah suami istri, tidak apa-apa kan jika suaminya melihat bagian dadanya.


Mata Nathan terus memperhatikan mulut bayi Nara yang menyusu dengan lahap. Sangking dekatnya Nathan, Diana bisa mencium aroma tubuh Nathan yang wangi, hal itu semakin membuat Diana salah tingkah.


"Apa yang keluar dari sini?" tanya Nathan memegang pay*udara Diana membuat wanita itu ingin berteriak namun Nathan langsung menutup mulut Diana.


"Aku bertanya kenapa kau ingin berteriak, ha?"


"Eum..


"Apa yang keluar dari sini?" tanya Nathan penasaran apa yang di minum bayi Nara, apa memang benar yang keluar itu adalah susu. Nathan pun kembali memegang pay*dara Diana lalu menjauhkan bayi Nara dari situ dan terlihatlah air susu yang keluar dari pay*dara Diana membuat Nathan mengangguk dan kembali membiarkan bayi Nara minum ASI.


"Jangan terlalu percaya diri, aku tak berselera melihat mu!" tekan Nathan membuat Diana mendengus kesal. Siapa juga yang berharap Nathan tertarik, ia kan hanya malu karena tubuhnya dipegang-pegang.


"Siapa juga yang ingin di sentuh oleh mu? Dasar laki-laki tak normal," gumam Diana dan Nathan masih bisa mendengar itu.

__ADS_1


"Jaga kata-kata mu! Aku yang kau katakan tak normal ini bisa membuat mu hamil sebanyak sepuluh kali ataupun lebih! Jangan coba-coba mengata-ngatai ku. Kau belum pernah melihat ku marah, bukan?"


Glek!


Diana dengan susah payah menelan ludahnya mendengar perkataan Nathan. Bagaimana bisa laki-laki itu mengatakan kalimat yang mengerikan.


Lalu apa itu? Diana belum pernah melihat Nathan marah? Jadi, selama ini apa? Apa itu masih terbilang biasa-biasa saja.


Berarti, hanya dengan perasaan biasa-biasa saja atau sedikit buruk Nathan bisa menghilangkan nyawa orang dengan sesuka hatinya. Lalu bagaimana jika laki-laki itu marah besar? Apa yang akan terjadi nanti.


Diana berharap semoga ia tak pernah membuat Nathan marah besar.


_


_


_


_


_


_


_


...Oh, Nathan. Anda terlalu penasaran dan juga garang....


typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.


tbc

__ADS_1


__ADS_2