Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 63. Mulai berani.


__ADS_3

Mansion Baron.


Laki-laki itu kini tengah duduk di sofa sembari memandangi beberapa foto yang membuat bibirnya tersenyum sinis.


"Mereka sepertinya sangat bahagia, tuan. Tapi, mengapa seorang tuan Albert menjadi lalai? Bukankah, seharusnya dia mencari Anda?" tanya anak buah Baron.


"Dia sedang dimabuk cinta, itulah mengapa dia menjadi lalai. Cinta itu memanglah sangat melemahkan laki-laki," jawab Baron santai.


"Sebentar lagi, keponakan ku akan merasakan rasa sakit yang sama seperti dulu saat ia kehilangan kedua orang tuanya. Aku akan memisahkan mereka," ucap Baron merobek foto Nathan dan Diana di laut menjadi dua bagian.


"Kapan kiranya kita melakukan itu, tuan?" tanya anak buah Baron.


"Tidak akan lama lagi, biarkan dulu mereka berbahagia, karena jika mereka sudah saling mencintai, maka ketika perpisahan menghampiri, mereka akan merasakan sakit yang begitu besar."


Baron tersenyum menyeringai, ia sudah tak sabar melihat tangisan keponakannya itu.


"Kalau saja kau mau menyerahkan semua harta itu dan juga kekuasaan itu, pastinya sekarang kau akan hidup tenang. Salah sendiri, siapa yang menyuruhmu menjadi laki-laki sok hebat."


*********


Pagi harinya.


Mansion Nathan


Diana tampak menggeliat merasakan sesak, tubuhnya seperti tertindih sesuatu yang berat.


Diana pun perlahan membuka matanya dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah suaminya. Diana pun melirik ke arah tangan Nathan yang memeluknya, ternyata tangan inilah yang membuat ia merasa seperti tertindih.


Diana kembali menatap wajah Nathan yang masih tidur, sangat tampan dan juga teduh. Tak ada aura kejam maupun dingin, hanya ada wajah manis yang kini tertidur pulas.


Diana pun memilih untuk kembali tidur, ia akan bangun jika nanti suaminya sudah bangun.


Kedua insan itu tak sadar jika mereka punya anak yang pastinya sekarang sudah bangun dan lapar.


Selang satu jam kemudian, Diana kembali membuka matanya dan kini yang ia lihat bukanlah suaminya yang sedang tidur melainkan mata tajam Nathan.


Tiba-tiba saja, wanita itu merasa malu.


Diana pun memilih untuk duduk, rambutnya sangatlah berantakan, belum lagi wajahnya yang kusut.


"Ayo mandi," ucap Diana ingin turun dari ranjang, namun, Nathan menahannya.


"Ayo," sahut Nathan.


"Apanya yang ayo?" tanya Diana bingung.


"Mandi," jawab Nathan. Diana paham sekarang, suaminya ini mengira ia mengajaknya mandi bersama.


"Maksudku itu, ayo kita mandi masing-masing. Aku mandi di kamar ku, dan kau mandi di sini," jelas Diana.


"Kenapa tidak mandi bersama?" tanya Nathan menutup matanya, sepertinya laki-laki itu masih mengantuk.

__ADS_1


"Nara pasti sudah lapar," ucap Diana dengan cepat turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu.


"Kau mau kemana?" tanya Nathan.


"Mandi," jawab Diana lalu keluar dari kamar.


Nathan tampak tersenyum kecil lalu kembali tidur, semalam ia terlambat tidur karena harus menunggu Diana tidur lalu harus membahas hal penting bersama Xeon dan Rayyan.


Nathan benar-benar lelah.


******


Diana kini sudah selesai mandi, ternyata Nara sudah dimandikan oleh pak Hans. Putrinya itu tampak sudah cantik dengan stelan baju pink berpadu putih, ada-ada saja pilihan pak Hans, pikir Diana.


"Lapar yah?" tanya Diana kini mulai menyusui putri semata wayangnya itu.


"Setelah ini kita ketemu Daddy, mau?" lanjut Diana sembari mengelus pipi putrinya.


"Mau dong," sahut Diana sembari tertawa. Ia yang bertanya, ia juga yang menjawab.


Setelah selesai menyusui, Diana pun membawa Nara pergi ke kamar Nathan. Ia akan mengajak suaminya sarapan, pastinya Nathan sudah mandi sekarang.


Sesampainya di kamar, Diana menggeleng melihat suaminya yang masih tidur. Ternyata, Nathan kembali tidur, bukan pergi mandi.


Diana pun mendekat lalu meletakkan anaknya di samping suaminya yang tengah tertidur pulas.


Tampak Diana mengangkat tangan suaminya lalu membiarkan Nara memegang jari-jari Nathan.


"Eh, jangan di makan," ucap Diana pelan menarik tangan Nathan, namun Nara langsung menangis membuat Diana salah tingkah.


Mendengar suara tangisan Nara yang kencang, membuat Nathan terbangun dari tidurnya.


"Kau membuatnya menangis?" tanya Nathan langsung menepuk-nepuk paha Nara.


"Dia ingin memakan tangan mu, tangan mu kan kotor," ucap Diana dan alhasil mendapatkan tepukan di bibirnya.


"Aw, sakit tau!" kesal Diana memegang bibirnya yang di tepuk Nathan.


"Katakan pada pak Hans untuk membawa sarapan ke kamar!" titah Nathan bangun dari baringnya.


"Daddy mandi dulu yah, sayang. Nanti kita main lagi, jangan nangis yah," ucap Nathan menoel hidung putrinya itu.


"Apa lihat-lihat? Sana ke bawah!" ketus Nathan lalu pergi ke kamar mandi meninggalkan Diana yang memasang wajah cemberut. Semalam manis, sekarang jutek.


Diana pun menggendong Nara lalu pergi memanggil pak Hans.


********


Beberapa menit kemudian.


Nathan sudah selesai mandi dan berpakaian, kini tengah duduk di balkon sembari memangku putrinya yang cantik, tak lupa Diana yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Dulu ketika aku hamil, aku ingin ketika anakku lahir, dia menggigit pipi mu dengan keras," ucap Diana sembari tersenyum geli mengingat dendamnya pada Nathan.


"Eum, mungkin itulah mengapa Nara sangat suka memakan tangan ataupun bajuku, ternyata kau lah biang kerok nya," ucap Nathan menatap tajam ke arah istrinya.


"Itukan salah mu juga, kau sangat suka marah-marah padaku. Padahal, aku tak punya salah apapun," sahut Diana tak terima di salahkan sepihak.


"Itu karena kau jelek," ucap Nathan.


"Jelek-jelek begini tapi kau suka kan?" goda Diana.


"Terlalu percaya diri."


Diana tampak tertawa kecil lalu berdiri dan mendekati suaminya.


Kini tangan Diana sudah memegang kedua pipi suaminya.


"Aku memang percaya diri karena aku sudah melihatnya, kau suka bibirku, leherku, dadaku, semua yang ada padaku, kau pasti sangat menyukainya," ucap Diana menatap bola mata Nathan yang berwarna hitam itu.


"Kenapa diam? Kau suka kan?" tanya Diana tersenyum meledek. Diana pun mengecup singkat bibir Nathan lalu kembali duduk di kursinya.


Nathan yang diperlakukan seenak hati istrinya itu hanya tertawa kecil saja, bagaimana bisa ia tak marah setelah diperlakukan seperti itu.


"Kau suka kan?" tanya Diana ikut tertawa juga, ia saja cukup mengangumi keberaniannya mencium laki-laki yang ada di hadapannya ini.


Nathan tampak kembali tertawa dan mengangguk membuat Diana langsung menutup wajahnya karena malu.


"Lagi," pinta Nathan membuat mata Diana melotot.


_


_


_


_


_


_


_


_


...Ummmmm, ada yang klepek-klepek 😘...


Maaf yah agak telat.


typo bertebaran di mana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2