
Hari sudah berganti malam, Nathan masih berada di luar kamar karena bingung harus melakukan apa nantinya.
Bukan takut ataupun malu, hanya saja, Nathan belum bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti di sana.
Belum pernah ia terlihat seperti ini sebelumnya, kalau dulu apa yang ingin ia lakukan pasti tanpa ragu ia lakukan, tapi sekarang ia tampak kebingungan.
"Apa anda butuh sesuatu, tuan?" tanya pak Hans yang sedari tadi bingung melihat Nathan mondar-mandir di depan pintu kamar.
Nathan tak menjawab, ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Tuan." pak Hans merasa aneh melihat Nathan yang tampak gelisah.
"Hm!" Nathan menghentikan langkahnya lalu menghela nafas panjang. Ia melirik Pak Hans lalu mengkode laki-laki tua itu agar pergi, pak Hans pun mengangguk.
Nathan pun memberanikan diri membuka pintu kamar, baru kali ini ia takut masuk kamarnya sendiri.
Setelah masuk kamar, Nathan menutup kembali pintu lalu menatap setiap sudut kamar. Tidak ada istrinya di sana, lalu di mana Diana?
Nathan pun berjalan mendekati ranjang, kamarnya sangat wangi dan juga rapi. Apa ini efek ingin malam pertama.
Di saat Nathan memperhatikan ranjang, sebuah tangan memeluknya dari belakang.
"Sayang," Ternyata Diana lah yang memeluknya dari belakang, entah darimana istrinya itu datang atau Nathan memang tak menyadari kehadiran istrinya itu.
"Kau darimana?" tanya Nathan ingin membalikkan badannya namun Diana mengikuti gerakan Nathan, alhasil laki-laki itu tak bisa melihat istrinya yang bersembunyi di belakangnya.
"Aku bersembunyi tadi, kau lama sekali masuk kamarnya. Apa kau tak mau anu-anu dengan ku, atau kau memang tak suka padaku," jawab Diana merajuk.
"Bukan begitu, aku tadi ada keperluan dengan pak Hans." Nathan terlihat sangat tenang, walau jantungnya terus berdetak kencang.
"Jangan bersembunyi dibelakang ku, aku ingin melihat mu," lanjut Nathan memutar tubuhnya, tapi Diana tetap mengikuti gerakan suaminya itu.
"Katakan dulu, bagian mana yang kau suka?" tanya Diana.
"Bagian apanya?" tanya Nathan bingung.
__ADS_1
"Dariku," jawab Diana pelan.
"Semuanya, aku suka semuanya." Memang benar, Nathan suka semua yang ada pada Diana.
"Jangan bersembunyi lagi, aku ingin melihat mu."
"Tapi baju ku tembus pandang dan robek-robek," ucap Diana membuat Nathan menelan Saliva dengan kasar.
"Kenapa kau memakai baju itu kalau tak suka?" tanya Nathan lembut.
"Tapikan kita mau anu-anu, yah harus pakai baju robek-robek lah," jawab Diana manja.
"Kalau begitu, biarkan aku melihatmu," ucap Nathan penasaran dengan pakaian apa yang dipakai istrinya itu. Walau ia sudah sering melihat wanita penggoda yang memakai pakaian minim di depannya, tapi ia tetap penasaran karena kali ini istrinya lah yang menggodanya.
Perlahan Diana melepas pelukannya, Nathan pun membalikkan badannya menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta.
"Aku seksi kan? Menggoda kan? Menarik tidak?" tanya Diana malu sembari sesekali menutup dadanya.
Nathan masih terdiam memperhatikan istrinya yang menunduk malu dengan memakai lingerie warna merah, jadi ini yang dimaksud merah atau hitam, pikir Nathan. Laki-laki itu pun mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya.
Diana pun memberanikan diri untuk menatap suaminya lalu tersenyum manis, tangan Diana melingkar di pundak suaminya itu.
"Hanya padaku, tunjukkan semua ini hanya padaku saja." Nathan memberikan kecupan singkat di bibir Diana lalu kembali tersenyum dan melanjutkan ciuman menjadi lebih dalam lagi.
Dua insan itu tampak menikmati pemanasan sebelum melakukan sesuatu yang belum pernah lakukan sebelumnya.
"Kau belum pernah mengatakan cinta padaku," bisik Nathan sembari menggigit daun telinga istrinya.
"Malam ini, kau harus mengatakan bahwa kau mencintaiku," lanjut Nathan beralih ke leher istrinya.
"Aku, aku mencintaimu," ucap Diana pelan.
Nathan menjatuhkan istrinya ke ranjang lalu ikut naik dan kembali melakukan aktivitas nya tadi.
"Sekali lagi," pinta Nathan.
__ADS_1
"Aku mencintaimu," ucap Diana disela d*s*h*nnya.
"Sebut juga namaku," pinta Nathan. Laki-laki itu terlihat sangat menikmati apa yang ia lakukan. Sungguh malam ini, ia sangat dibuat gila oleh istrinya ini.
"Aku mencintaimu, Nathan."
Nathan tersenyum kecil mengecup kening Diana.
"Aku juga mencintaimu, Diana. Malam ini, aku tak akan melepaskan mu," ucap Nathan lembut lalu mencium pipi istrinya itu.
Malam ini semua terbayarkan, segala penantian dan juga kesedihan, semua terobati secara perlahan-lahan.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...setelah 83 bab😁...
Terimakasih
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
__ADS_1
tbc.