Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 32. Tidur dengan bayi Nara


__ADS_3

Malam harinya.


Di sebuah pulau terdapat sebuah villa yang mewah, villa itu terdapat di tengah-tengah labirin yang besar dan juga panjang. Sehingga, siapapun yang bukan penghuni villa akan tersesat dan akhirnya mati dengan sendirinya.


Di dalam villa, dentuman musik terdengar kencang diiringi beberapa wanita seksi yang menari mengikuti musik itu.


Terlihat di sofa seorang pria tua tengah duduk di temani beberapa wanita seksi dan juga rekan bisnis nya.


"Kita harus segera membalas dendam ku, tuan." Zeno putra dari keluarga Sanjaya duduk bersama pria tua itu.


"Tenang saja anak muda, mari kita bersenang-senang dulu. Biarkan dia menghabiskan masa-masa hidupnya dengan kebahagiaan, anak itu belum pernah bahagia seumur hidupnya," sahut pria tua itu yang bernama Baron.


"Membiarkan dia bahagia sedangkan aku di sini menyimpan dendam karena dia dengan seenak jidatnya membunuh kekasihku!" tekan Zeno Tak terima.


Brakk!


Baron tampak mengebrak meja pertanda ia kesal. Musik pun berhenti dan para wanita itu menjauh dari Baron.


"Sekarang aku bertanya siapa yang membutuhkan siapa di sini?" tanya Baron menatap tajam Zeno.


"Sa-saya yang membutuhkan anda, tuan," jawab Zeno mendadak takut, terbukti dari kosa kata nya yang kembali baku.


"Nah, sekarang kau tau siapa yang membutuhkan di sini, jadi jangan banyak perintah. Ikuti saja rencana ku!"


"Baik tuan."


Setelah mengatakan itu, Baron pun berdiri dan meninggalkan ruang bersenang-senang nya lalu berjalan menuju ruang kerja diikuti oleh asisten pribadinya.


Sesampainya di ruang kerja.


Baron tampak duduk di meja kerjanya lalu mengambil rokok. Usia laki-laki itu berkisaran 56 tahun, walau begitu tubuhnya masih bugar dan juga kuat.


"Menurut saya kita buang saja anak si Sanjaya itu, tuan. Dia menjengkelkan," saran asisten pribadi Baron yang bernama Vera. Seorang wanita cantik berusia 30 tahun, memiliki badan tegap dan juga kecerdasan dia atas rata-rata.


"Jangan dulu, Vera. Kita bisa memanfaatkan bocah ingusan itu untuk rencana kita," sahut Baron.


Baron tampak mengeluarkan sebuah foto dari laci mejanya, lalu meletakkan foto itu di atas meja.


"Keluarlah!" titah Baron. Vera pun keluar dari ruang kerja Baron meninggalkan laki-laki itu sendirian.


Baron tampak tersenyum sinis menatap dua foto dalam satu bingkai. Satu foto pernikahan laki-laki yang mirip dengannya dan satu lagi foto anak dari laki-laki itu.


"Bagaimana Johan? Kau suka dengan alam baru mu?" tanya Baron mengelus foto laki-laki yang mirip dengannya.


"Johannes Albert, kakak ku tersayang." Baron tertawa lepas mengingat ketika tragedi itu melenyapkan nyawa kakak laki-lakinya beserta dengan istrinya.

__ADS_1


"Namamu sangat bagus, Johan. Berbeda dengan namaku, yah mungkin karena ayah lebih menyayangi mu yang pintar dan juga penurut," ucap Baron menghembuskan asap rokoknya ke udara.


"Kau bukan hanya merebut kasih sayang ayah dan hartanya, tapi kau juga merebut wanita yang aku sukai. Dasar laki-laki bajingan!"


"Sekarang kau sudah berkumpul dengan istrimu yang paling kau sayangi itu di neraka, bukan?" Baron kembali tertawa. Ia sangat terhibur dengan dua foto pernikahan yang ada di depannya.


"Sekarang putramu yang bodoh itu sudah menikah dan dia pun sudah punya anak. Aku sudah tak sabar ingin merenggut kedua orang tua dari anak yang baru saja dilahirkan itu," ucap Baron begitu ambisius.


"Kalau aku tak bisa merenggut orang tua nya, maka aku akan merenggut anak itu dari orang tua nya," lanjut Baron lalu tertawa lagi.


"Keponakan ku, Nathan. Bersiaplah kehilangan untuk kesekian kalinya," sinis Baron lalu menyimpan kembali bingkai foto itu dan menatap layar laptopnya menunjukkan gambar labirin yang mengelilingi villa mewahnya.


*****


Di mansion Nathan.


Diana tampak duduk di sofa sembari menatap nanar pemandangan yang ada di depannya. Kini ia berada di kamar Nathan dengan memakai baju tidur.


Terlihat di atas ranjang, bayi mungilnya tengah berbaring dengan Nathan dan mengabaikan keberadaan Diana. Sudah beberapa kali Diana ingin mengambil bayi nya, tapi Nathan malah melotot ke arahnya.


"Aku ingin tidur," ucap Diana menguatkan suaranya agar Nathan dapat mendengarkan bahwa Diana sudah sangat mengantuk.


Namun, yang di harapkan tak kunjung terjadi. Diana menghela nafas berat saat melihat Nathan sudah menutup matanya sembari berbaring menyamping dan tangannya memeluk bayi Nara.


Perlahan Diana mendekat dan menyentuh tangan bayi Nara namun tangan Diana langsung di cengkram kuat oleh tangan Nathan.


"Ah, sakit." Diana langsung menarik tangannya dan memasang wajah cemberut.


"Aku ingin tidur," ucap Diana.


"Tidur saja di bawah."


"Aku tidak mau, aku ini baru saja melahirkan mana baik tidur di lantai," tolak Diana.


"Apa peduliku?"


"Kalau tidak peduli juga tidak apa-apa, tapi aku ingin bayi ku," ucap Diana ingin mengambil kembali bayinya.


"Keluar dari kamarku!" usir Nathan dengan nada dingin. Diana merasakan atmosfer di dalam kamar tiba-tiba saja berubah. Ia menjadi takut.


"Aku akan keluar tapi dengan bayi ku!"


"Baiklah, kalau kau tak ingin keluar maka jangan salahkan aku jika menyakitimu!"


Nathan bangun dari baringnya lalu berdiri dan mengambil pistol yang ada di laci nakas.

__ADS_1


"Keluar!" usir Nathan sembari menodongkan pistol itu ke arah Diana.


"Tapi, bayiku...


"Keluar aku bilang!" hardik Nathan semakin emosi.


Diana pun berjalan dengan mata yang sudah berkaca-kaca, sesekali ia menatap bayi nya yang tampak tenang tidur di ranjang manusia kejam itu.


"Kalau dia menangis bagaimana?" tanya Diana takut anaknya akan di lukai oleh Nathan jika rewel.


"Dia tak akan menangis karena dia tau jika dia menangis, maka dia akan ku buang ke kolam," jawab Nathan semakin membuat Diana ketakutan.


"Jangan lakukan itu," lirih Diana dengan air mata yang sudah mengalir.


"Kalau begitu keluar dari kamarku sebelum aku melakukan hal itu!" tegas Nathan. Diana pun perlahan keluar dari kamar Nathan dengan perasaan sedih. Ia juga ingin tidur dengan bayi nya, ia tak ingin tidur sendirian.


Di depan pintu kamar Nathan, Diana duduk sembari menangis. Perasaan nya sangat sedih karena ia tidak akan tidur dengan anaknya.


Di dalam kamar, Nathan meletakkan kembali pistolnya ke dalam laci nakas lalu duduk di tepi ranjang dan menatap bayi mungil yang ada di atas tempat tidurnya.


Ia kembali berbaring dan memiringkan tubuhnya lalu memeluk bayi itu dengan posesif. Hanya dengan satu hari saja, bayi nara mampu memikat hati seorang tuan Albert.


_


_


_


_


_


_


_


...Wah, kasihan yah Diana bobok di luar karena pengen bobok juga sama bayi nya....


...Nathan sih, kalau udah suka maunya cuma dia yang memiliki dan tak boleh di sentuh orang lain๐Ÿ˜‚...


...sabar yah Nana, nanti ada masa nya....


Maaf yah telat up, soalnya banyak banget kegiatan. Ini aja nulisnya di sela-sela kegiatan ๐Ÿ˜


tbc.

__ADS_1


__ADS_2