
Sudah hampir satu jam Diana berputar-putar di labirin yang menyesatkan itu, Diana tampak lelah dan memilih untuk duduk terlebih dahulu.
"Haus," lirih Diana lemah. Wajahnya sudah pucat, bajunya pun sudah basah karena keringat.
Di saat Diana tengah beristirahat dan menenangkan detak jantungnya yang berdetak kencang. Suara berisik terdengar dari atas, Diana pun mendongakkan kepalanya melihat sebuah helikopter yang kini jauh di atasnya.
Terlihat sebuah tali yang mengikat keranjang menjulur ke bawah tepat ke arah Diana.
Diana pun langsung menerima keranjang itu lalu melepas ikatan tali yang ada di keranjang. Helikopter pembawa keranjang pun terbang meninggalkan Diana yang kebingungan.
Diana membuka penutup keranjang itu, matanya membulat sempurna, senyumannya pun terbit begitu saja. Ternyata, isi keranjang itu adalah makanan dan minuman. Diana pun memilih untuk kembali duduk dan menikmati makanan serta minuman yang diberikan oleh helikopter itu.
Setelah selesai makan dan minum, Diana tampak beristirahat menunggu makanan turun ke lambung terlebih dahulu. Ia menatap dinding labirin yang terbuat dari batu bata, matanya memperhatikan satu persatu batu bata itu, hingga Diana menangkap ada yang aneh dari batu bata itu.
Diana berdiri dan mendekati dinding lebih tepatnya ujung dinding. Semua batu bata berwarna pucat, hanya satu yang berwarna menyala dan itu berada di bawah.
Diana pun memutar tubuhnya lalu melihat ujung dinding yang lain, ia tak menemukan batu bata yang sama di bawah batu bata berwarna pucat lainnya.
"Apa jangan-jangan ini petunjuk?" gumam Diana bertanya-tanya.
Ia pun memilih masuk ke lorong yang terdapat batu bata berwarna merah itu, Diana mencari-cari letak batu bata merah lainnya.
"Aku yakin ini sebuah petunjuk." Diana pun akhirnya menemukan satu batu bata berwarna merah lagi, ia pun mengikuti kemana batu itu membawanya nanti.
Di sisi lain, Nathan tersenyum kecil melihat layar monitor dimana Diana kini tengah berjalan dan hampir mendekati markas.
"Sepertinya, nona Diana akan segera sampai, Tuan." Pak Hans ikut senang melihat Diana yang akan tiba di markas.
"Untuk perjalanan ke markas, tandanya memanglah mudah untuk di ingat. Tapi, menuju ujung labirin, ia pasti akan kesulitan," sahut Nathan sembari meneguk segelas air mineral.
Nathan menatap Nara yang sudah tertidur, bayinya itu suka sekali tidur.
__ADS_1
"Saya yakin, nona Diana pasti bisa."
"Hm, ku harap begitu."
Kembali pada Diana, wanita itu terlihat bersemangat mengikuti jejak batu bata berwarna merah terang. Ia bahkan mengabaikan rasa lelahnya.
"Aku pasti bisa," ucap Diana menyemangati dirinya.
"Aw," lirih Diana ketika kakinya memijak kerikil tajam, ia yang hanya menggunakan sendal jepit kini harus merasakan tusukan dari kerikil tajam yang bahkan sudah melubangi sendalnya.
"Haduh, sakitnya."
Diana membuang batu kerikil itu ke sembarang arah lalu kembali melanjutkan perjalanannya menuju kebebasan.
Hampir setengah jam Diana berjalan mengikuti batu bata berwarna merah terang hingga ia pun tiba di depan markas utama yang sangat besar.
Diana bersorak riang karena berhasil melewati tantangan, ia pun berjalan dengan semangat menuju markas anak buah Nathan.
"Rayyan." Diana langsung berlari mendekati Rayyan dan memeluk laki-laki itu membuat mata Rayyan melotot begitu juga dengan anak buah Nathan yang ikut terkejut.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, aku merindukanmu. Kau jarang sekali melihat ku dan anakku, katanya aku adik mu." Diana memasangkan wajah sendu membuat Rayyan tak tega.
Ia pun mengelus kepala Diana dan menyingkirkan rasa kaget serta takutnya akan kemarahan Nathan nantinya.
"Aku juga merindukanmu, maaf karena jarang menemui mu. Belakangan ini aku sangat sibuk," ucap Rayyan tersenyum hangat ke arah Diana yang masih terlihat sedih.
"Aku berhasil, Rayyan. Aku berhasil melewati tantangan nya, aku hebat kan?"
"Iya, kau sangat hebat. Kau adalah wanita terhebat," sahut Rayyan menggenggam tangan Diana dan mengajak Diana masuk ke dalam markas.
"Dimana putriku, Rayyan?" tanya Diana tak melihat keberadaan Nathan dan Nara. Bukankah laki-laki itu mengatakan akan ada di ujung labirin jika Diana berhasil.
__ADS_1
"Tuan muda dan juga keponakan ku berada di ujung. Setelah ini, kau harus bisa melewati tantangan berikutnya," jawab Rayyan.
"Jadi, aku belum berhasil?" tanya Diana dengan wajah sendu.
"Kau sudah berhasil, tinggal selangkah lagi keberhasilan mu akan menjadi sempurna," jawab Rayyan.
"Baiklah, aku akan lebih bersemangat." Rayyan tertawa kecil melihat antusias Diana, walau wajah wanita itu terlihat lelah, tapi semangatnya tak kunjung pudar.
Di sisi lain, Nathan tampak menatap datar pemandangan yang ada di layar monitor. Tangannya tampak mengepal serta rahangnya yang tiba-tiba saja mengeras.
"Mungkin nona Diana merindukan tuan Rayyan karena nona Diana sudah menganggap tuan Rayyan seperti kakak kandungnya," ucap pak Hans.
"Apa peduliku!"
_
_
_
_
_
_
_
_
...Apa peduliku? lah, tangan mengepal itu apa Bambang 😂😂...
__ADS_1
tbc.