Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 91. Hadiah


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Nathan tampak lebih membaik sekarang, walau masih belum mau periksa ke dokter. Laki-laki itu malah tak mau jauh dari istrinya dan sangat suka bau keringat Diana.


Setiap hari, Diana harus berjalan di halaman belakang agar mendapatkan keringat. Dengan begitu, Nathan akan merasa lebih baik.


"Kau seperti orang hamil," ucap Diana mengelus kepala suaminya yang kini tertidur sembari memeluknya.


"Jangan-jangan kau hamil, sayang." Diana mencium rambut Nathan membiarkan suaminya itu tertidur setelah muntah-muntah dan juga mogok makan.


"Ah, laki-laki kejam ini sangat lemah ternyata," lanjut Diana masih terus mengoceh.


"Apa jangan-jangan kau ngidam yah, kan ada tuh istri yang hamil suami yang ngidam," tebak Diana.


Terlihat Nathan menggeliat lalu mengeratkan pelukannya.


"Kalau iya, setiap hari harus ku rekam. Agar nanti, ketika kau ingin marah aku perlihatkan saja rekaman tingkah konyol mu itu," lanjut Diana tersenyum geli.


"Sayang, kita periksa ke dokter yah." Nathan tampak menggeleng membuat Diana tersenyum manis. Tak apa jika Nathan tak mau ke dokter, ia sendiri yang akan ke dokter untuk memeriksa apakah ia hamil atau memang tingkah suaminya itu begitu.


"Padahal ini masih jam delapan pagi, tapi kita sudah terkapar di tempat tidur. Hm, Aku lapar, aku ingin makan mie pedas," gumam Diana memang belum sarapan karena harus mengumpulkan keringat terlebih dahulu agar rasa mual suaminya itu menghilang.


"Sayang, apa kau tidak lapar?" tanya Diana dan mendapat respon gelengan dari suaminya.


"Apa ada makanan yang ingin kau makan?" tanya Diana.


"Aku ingin tidur," ucap Nathan pelan.


Diana pun mengangguk membiarkan suaminya itu tertidur, mungkin ia akan makan setelah Nathan tidur nantinya.


Beberapa menit kemudian.


Nathan sudah tertidur dan pelukan pun merenggang. Diana perlahan turun dari ranjang lalu pergi ke kamar mandi.


Di saat Nathan tertidur, maka di situlah waktunya Diana makan dan juga pergi ke dokter nantinya.


Ia harus segera mengetahui apa penyebab suaminya menjadi seperti itu.


Setelah dari kamar mandi, Diana langsung mengganti pakaiannya. Ia tak akan menyia-nyiakan waktu karena jika suaminya bangun, maka ia harus ada di samping Nathan setiap waktu.


Setelah selesai mengganti pakaian, Diana langsung turun ke bawah dan meminta makan pada pak Hans.


"Anda terlihat rapi sekali, nona. Apa anda akan bepergian?" tanya pak Hans.


"Iya, aku ingin ke dokter." Diana menjawab dengan nasi yang masih ada di mulutnya.


"Apa anda sakit? Saya bisa memanggilkan dokter kemari tanpa harus pergi ke rumah sakit, nona."


"Tidak, tidak perlu, pak Hans. Aku akan pergi ke sana saja," jawab Diana.


"Apa anda pergi dengan tuan muda?" tanya pak Hans.


"Tidak, tapi dia sudah mengizinkan ku untuk pergi asalkan dengan pengawasan," jawab Diana berbohong.


Jika ia mengatakan pergi tanpa izin, maka pak Hans pastinya tak akan mengizinkannya untuk pergi.


"Baiklah, nona. Saya akan siapkan mobil dan beberapa pengawal," ucap pak Hans.

__ADS_1


******


Setelah selesai makan dan juga berhasil membohongi pak Hans. Diana kini sudah di perjalanan menuju rumah sakit.


Ada sedikit rasa takut karena berbohong, takutnya Nathan bangun dan mencarinya.


Semoga saja pemeriksaan nya nanti tidak lama.


Sesampainya di rumah sakit, Diana langsung menuju ruang pemeriksaan. Kebetulan banyak ibu-ibu juga yang ingin memeriksa kandungan sehingga Diana harus mengantri.


Kalau ada suaminya, sudah pasti ia tak akan mengantri.


Ah, belum beberapa jam berpisah saja Diana sudah merindukan suaminya.


Melihat para ibu hamil, Diana tersenyum senang. Ia juga ingin hamil seperti mereka, melahirkan dan menyusui lalu mendengarkan kata pertama yang diucap buah hatinya.


Andai ia ingat akan masa lalu, mungkin ia akan ingat kata apa yang pertama kali di ucap Nara. Sayangnya, semua kenangan itu hilang.


Beberapa menit kemudian.


Nama Diana pun di akhirnya di panggil juga, Dian langsung masuk ke ruangan dengan jantung yang berdetak kencang.


Khawatir jika ia belum juga hamil.


Selama pemeriksaan, Diana tampak tegang. Semoga saja hasilnya memuaskan, jika tidak, Diana akan tetap bersabar menunggu hingga waktunya tiba.


******


Di mansion.


Nathan terbangun sembari mencari kesana-kemari istrinya. Mulai dari kamar mandi, ruang ganti dan balkon kamar.


Laki-laki itu memilih untuk membersihkan dirinya, setelah itu barulah ia mencari keberadaan Diana.


"Anda ingin sarapan, tuan?" tanya pak Hans. Walau jam sudah menunjukkan pukul 10, tetap pak Hans setia menunggu tuannya bangun dan sarapan.


"Dimana istriku?" tanya Nathan tak menjawab pertanyaan pak Hans.


Kening pak Hans berkerut dan seketika matanya melotot membuat Nathan menatap tajam laki-laki tua itu.


"Nona Diana pergi ke rumah sakit, tuan. Katanya anda sudah memberikan izin, makanya saya menyiapkan mobil dan juga beberapa pengawal," jawab pak Hans dengan perasaan yang was-was karena sepertinya ia sudah salah melangkah.


"Apa kau bertanya padaku? Apa aku memberikan izin secara langsung, ha? Sejak kapan aku membiarkan Diana pergi sendiri saat aku di rumah? Sejak kapan!" tanya Nathan dengan suara rendah namun penuh penekanan.


"Maafkan saya, tuan. Saya lalai dan ceroboh. Saya akan segera menjemput nona, tuan." Pak Hans menundukkan kepalanya tak ingin menatap mata tuannya yang sedang marah.


"Pergi dari cari istriku! Kalau sampai dia kenapa-kenapa, maka aku.....


"Sayang," panggil Diana memotong ucapan Nathan.


Nathan langsung menoleh ke arah istrinya yang berjalan sembari memegang sebuah kotak dan memasang senyuman yang manis.


Nathan langsung mengendalikan amarahnya dan mendekati Diana.


"Kau lancang...


"Shuuttt! Ayo ke kamar," potong Diana menarik tangan suaminya menuju kamar.

__ADS_1


Nathan pun menurut saja mengikuti kemana istrinya itu membawanya.


Sesampainya di kamar.


Diana meminta Nathan untuk duduk dan suaminya itu menurut.


"Aku tau aku salah karena tak meminta izin padamu, aku juga berbohong pada pak Hans. Tapi, aku yakin kau tak akan marah setelah melihat ini." Diana memberikan kotak yang ia beli setelah pemeriksaan tadi pada suaminya.


"Apa ini?" tanya Nathan dingin.


"Buka saja."


Nathan pun membuka kotak itu, keningnya berkerut melihat sepasang sepatu kecil berwarna putih.


Nathan mengangkat sepatu itu lalu menatap sang istri meminta sebuah penjelasan.


"Coba tebak," pinta Diana antusias.


Nathan kembali menatap sepasang sepatu putih itu, matanya menangkap kertas yang ada di dalam kotak. Dengan cepat Nathan mengambil surat itu lalu membaca isi kertas itu.


"Apa ini benar?" tanya Nathan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Diana mengangguk mengiyakan pertanyaan Nathan.


Laki-laki itu meletakkan kotak hadiah dari istrinya lalu memeluk sang istri dengan erat.


"Kau tidak sedang bercandakan?" tanya Nathan memastikan.


"Tidak, aku tidak bercanda. Semua itu benar," jawab Diana ikut menangis karena terharu.


"Jadi, aku akan kembali menjadi seorang ayah?" tanya Nathan kembali memastikan.


Diana mengangguk sembari menyeka air matanya.


"Terimakasih," lirih Nathan benar-benar terharu dengan hadiah yang diberikan padanya. Amarahnya tadi kini sudah berganti menjadi sebuah kebahagiaan tanpa batas.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


...Congratulation neng Diana dan akang Nathan 🥺🤭...

__ADS_1


tbc.


__ADS_2