Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 56. Syaratnya.


__ADS_3

Sesampainya di mansion, Nathan langsung masuk ke kamarnya sedangkan Diana dan Nara masuk ke kamar mereka sendiri.


Di dalam kamar.


Setelah selesai mengganti pakaian dan membersihkan wajah, Diana duduk di atas ranjang sembari menatap putrinya.


Diana masih was-was jika suaminya benar-benar serius ingin membunuh Juna. Bisa-bisa, ia akan dihantui rasa bersalah nantinya.


"Oh, Nara. Bujuk ayah mu itu untuk bertaubat," ucap Diana sembari mencium pipi putrinya.


"Jangan mau lepas dari ayah mu, agar dia tak membunuh orang yang tak bersalah," lanjut Diana.


Tok


Tok


Tok


"Masuk."


Pak Hans masuk dengan senyuman tulus seperti biasanya.


"Waktunya makan malam, nona. Saya akan menjaga nona Nara," ucap pak Hans.


"Baiklah," sahut Diana memberikan Nara kepada pak Hans. Diana pun turun ke bawah untuk makan malam, sedangkan pak Hans akan menjaga Nara selama Diana makan.


"Selamat malam, nona Diana." Xeon menyapa dengan Rayyan di sampingnya.


"Malam," balas Diana tersenyum ke arah dua orang itu.


Diana berjalan ke arah Rayyan lalu menggandeng tangan laki-laki itu.


"Aku merindukanmu, kak Rayyan." Rayyan tertawa kecil mendapat panggilan kakak, ia juga sebenarnya merindukan Diana dan Nara. Namun, pekerjaan nya semakin bertambah jika ia meminta cuti sebentar.


"Aku juga merindukanmu, adikku. Aku sangat senang karena kau memanggilku kakak," ucap Rayyan mengelus kepala Diana.


"Iya, kakak."


"Ekhem," tegur Xeon menggerak-gerakkan bola matanya. Diana dan Rayyan pun langsung mengikuti lirikan mata Xeon, mereka berdua pun terkejut ketika melihat Nathan sudah berdiri di dekat mereka.


Tampak Nathan berjalan ke meja makan lalu duduk di kursinya.


Nathan tak memperdulikan tiga orang yang masih berdiri mematung, ia memulai makannya tanpa beban.


"Ayo duduk," ajak Xeon memecah kecanggungan.


Mereka pun duduk dan menyantap makanan yang di hidangkan dengan keheningan, hanya ada suara dentingan sendok dan piring saja.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian.


Nathan sudah selesai makan, tapi tidak dengan Diana dan Rayyan serta Xeon yang masih makan dengan lahap.


"Malam ini aku akan keluar, siapkan senjata!" titah Nathan menatap ketiga manusia yang asyik dengan makanan mereka.


"Anda hendak kemana, tuan?" tanya Xeon mengambil tisu lalu membersihkan mulutnya.


"Aku ingin membunuh seseorang," jawab Nathan sembari berdiri.


Uhuk


Uhuk


Uhuk


Diana tersedak mendengar jawaban Nathan, dengan cepat ia meneguk air putih.


"Makanlah dengan benar sebelum kau mati karena tersedak," ucap Nathan menepuk pelan kepala Diana membuat wanita itu semakin syok.


"Lanjutkan makan kalian!"


Melanjutkan makan, Diana bahkan sudah tak bisa meneguk air putih lagi. Bagaimana, jika suaminya benar-benar akan membunuh Juna. Tidak boleh, itu tak boleh terjadi. Juna tak melakukan kesalahan apapun itu, lagi pula atas dasar apa suaminya marah pada Juna, tidak mungkin kan karena cemburu.


******


Benar saja, ternyata Nathan berada di kamarnya dan kini tengah mengganti pakaian putrinya.


"Kenapa di ganti?" tanya Diana.


"Nona Nara buang air kecil, jadi pakaiannya harus di ganti agar tak bau," jawab pak Hans.


"Oh."


"Saya pamit keluar, nona, tuan."


"Iya, pak. Terimakasih," ucap Diana.


Kini tinggal mereka bertiga yang ada di kamar, Diana harus mencegah suaminya membunuh Juna.


"Aku ingin....


"Aku tau apa yang ingin kau katakan, kau ingin melindungi pria itu, bukan?" sela Nathan.


"Iya, aku mohon jangan lukai kak Juna, dia tak bersalah. Dia tak melakukan apapun yang menggangu mu atau membuat marah," ucap Diana.


"Ku tanya pada mu, mengapa kau begitu membelanya? Apa kau menyukainya?" tanya Nathan masih fokus pada putrinya.

__ADS_1


"Aku membelanya karena dia tak melakukan kesalahan apapun, hanya karena itu, tak ada maksud yang lain," jawab Diana.


"Baiklah, aku akan membatalkan rencana ku, tapi dengan satu syarat." Nathan menatap Diana sembari tersenyum kecil.


"Apa itu?" tanya Diana takut jika Nathan minta yang aneh-aneh.


"Aku akan mengatakan nya jika kau menanyakan apa syaratnya. Tapi, setelah kau bertanya dan aku memberikan jawabannya, kau tak bisa menolak atau membatalkan syaratnya. Kau harus melakukan apa yang ku pinta," ucap Nathan membuat Diana semakin takut.


"Bagaimana," tanya Nathan.


Diana menelan ludah kasar, ia menjadi bingung. Syarat apa yang dimaksud suaminya, ia jadi takut. Tapi, jika ia menolak, seumur hidup Diana akan merasa bersalah atas kematian Juna.


"Baiklah, apa syaratnya?" tanya Diana ragu-ragu.


"Hm, sebegitu suka nya kau pada laki-laki itu?" tanya Nathan dingin.


"Aku bukan suka, aku hanya tak ingin dihantui rasa bersalah karena kematiannya," sahut Diana berkata dengan jujur bahwa ia tak menyukai Juna. Ia melakukan ini, semata-mata karena hati nurani.


"Baiklah, syaratnya adalah berikan hak ku sebagai suami malam ini!"


Deg!


"A-apa?"


Jantung Diana serasa berhenti berdetak sejenak, ia sangat takut jika suaminya meminta hak itu. Diana masih trauma dengan pelecehan yang ia alami di masa lalu. Tapi, Diana juga tak bisa menolak atau mengatakan tidak, karena itu semua akan sia-sia.


Sekarang, ia harus apa?


_


_


_


_


_


_


_


...Hayooo neng Diana😂 ada yang nuntut hak asasi suami tuh😂🤣 siapkan mental mu!😁...


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2