Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 80. Kebenaran yang menyedihkan


__ADS_3

Masa lalu itu tak akan pernah bisa diperbaiki maupun di ulang. Semuanya sudah terjadi, entah karena itu timbul rasa bahagia ataupun penyesalan, semuanya itu tak akan bisa mengubah apapun yang terjadi di masa lalu.


Yang bisa kita lakukan adalah, memperbaiki apa yang kita lakukan hari ini. Karena, apapun itu yang kita perbuat di masa kini, akan kita tuai di esok hari atau esoknya lagi.


____


Keesokan paginya.


Diana terbangun dalam keadaan yang lemah, wajahnya tampak begitu pucat, matanya juga sembab.


Setelah selesai membersihkan wajahnya, Diana pun sarapan bersama Nathan di kamar. Tak ada obrolan diantara mereka, dua-duanya diam dan fokus pada pikiran masing-masing.


"Setelah sarapan, aku akan menunjukkan sesuatu padamu," ucap Nathan memecah keheningan.


Diana menatap suaminya dengan mata yang berair, sedari tadi ia hanya mengaduk-aduk sarapannya tanpa niat untuk memakan nasi goreng buatan pak Hans.


"Apa ini lebih menyakitkan?" tanya Diana lirih.


"Iya," jawab Nathan memilih untuk menyudahi sarapannya lalu menatap mata istrinya itu.


"Kau yang ingin terluka dengan semua kebenaran inj, jadi, persiapkanlah hatimu. Aku tak ingin kau kenapa-kenapa, jangan sampai kau sakit. Aku akan membenci diriku karena tak bisa menjadi suami yang baik dari dulu hingga sekarang," lanjut Nathan semakin membuat Diana takut. Sungguh, ia menyesal telah mengorek masa lalu, tapi, jika ia tak mengetahui masa lalu, maka ia akan hidup dalam sebuah kebohongan dan tak akan tau tentang anaknya.


Setelah selesai sarapan, Nathan mengajak Diana pergi ke sebuah ruangan yang berpintu kan warna pink.


"Apa kau siap?" tanya Nathan. Diana pun mengangguk, mau tak mau ia harus mengetahui masa lalunya.


Nathan membuka pintu itu lalu mengajak Diana masuk. Ruangan yang di penuhi foto dan ukiran nama. Barang-barang Nara pun tertata rapi di ruangan itu membuat suasananya semakin lebih menyakitkan.


"Itu, itu anak kita. Nara kita," ucap Nathan mencoba menahan tangisnya. Ia terlalu sensitif jika berhubungan dengan bayi kecilnya itu yang membuat ia bisa merasakan cinta.

__ADS_1


Diana berjalan mendekati satu foto yang di bingkai dengan ukuran besar. Foto ia, suaminya dan anaknya. Diana pun menyentuh foto itu, merasakan bagaimana bahagia nya mereka saat itu. Berfoto bersama dengan suka rela.


"Nara," lirih Diana dengan tangis yang coba ia tahan membuat dadanya sesak.


"Nara, bayiku." Diana akhirnya melepaskan tangisannya yang sudah ia coba tahan. Ternyata ini yang ia lupakan dan membuat hatinya sakit. Nara, bayinya yang tak ia ingat dan kini sudah pergi untuk selamanya.


"Putriku," tangis Diana terduduk lemas di lantai. Diana menyentuh foto yang ada di dinding, begitu banyak foto-foto mereka, bahkan fotonya waktu hamil saja ada di sana.


"Mengapa ibu tak mengingat mu, nak? Mengapa kau meninggalkan ibu?" tangis Diana sesegukan. Memang ia tak bisa mengingat kenangan manis mereka, tapi dengan melihat fotonya dan juga putrinya, Diana tau, ia pasti sangat bahagia karena memiliki Nara dalam hidupnya.


"Nara!" teriak Diana histeris. Ibu mana yang sanggup mendengarkan ataupun melihat putrinya meninggalkan nya untuk selamanya, begitulah Diana yang sangat terpukul dengan kepergian putrinya.


"Jangan seperti ini, sayang! Jangan seperti ini," ucap Nathan mendekati istrinya lalu memeluk Diana. Mereka berdua kini sangatlah lemah, buah hati yang membuat mereka tertawa sudah pergi dan tenang di alam sana.


"Nara ku," tangis Diana semakin membuat Nathan terluka.


"Maafkan, aku. Ini semua salahku, jika saja aku bisa melindungi kalian, pasti Nara masih ada dan kau tak harus melupakan segalanya," lirih Nathan dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Sayang, jangan begini. Kau bisa sakit nanti," ucap Nathan memegang kedua pipi Diana.


"Nara ku," ucap Diana pelan.


"Nara sudah bahagia di sana, dia pasti akan sedih kalau melihat ibunya yang cantik ini menangis. Jangan menangis lagi yah, kau bisa sakit. Aku tak mau kau sakit," ucap Nathan lembut.


"Aku ingin Nara ku," ulangi Diana. Perlahan matanya tertutup dan akhirnya Diana pun tak sadarkan diri. Hal itu, membuat Nathan panik, dengan cepat Nathan menggendong istrinya itu dan membawa Diana ke kamar.


"Aku sudah bilang, jangan sampai sakit, sayang. Aku akan membenci diriku karena air mata dan juga rasa sakit yang kau alami."


_

__ADS_1


_


_


_


_


_


_


_


_


...Masih gak bisa move dari Nara yang lengket banget sama Nathan😞...


Author lihat, teman-teman pada fokus dengan kata "penghujung"


Maksud author itu, bukan berarti penghujung itu satu bab lagi tamat. Bukan, neng.


Maksudnya itu, tidak ada lagi konflik, yang ada itu yah alur biasa atau alur romantis.


Kalau masalah bab, author aja gak tau ini tamat nya bab berapa karena author kalau nulis itu pas mau update aja😁


Jadi, bukan tamat yah. Tapi, bab nya udah bersih dari konflik berat. Kalau author sih nyebutnya penghujung.


Ada bab pengenalan/awal, bab konflik dan bab penghujung.

__ADS_1


Terimakasih 😘


tbc


__ADS_2