
Sore harinya, Diana kini sudah selesai mandi begitu juga dengan Nara. Sepanjang hari, ia selalu tersenyum dan memeluk anaknya yang sangat ceria hari ini.
Suaminya mengajak makan malam, bukankah itu hal yang sangat romantis. Ada lagi yang lebih romantis, ternyata suaminya sudah membelikan satu gaun cantik untuknya dan juga untuk Nara. Diana benar-benar bahagia, ia harap kebahagiaan ini terus berlanjut.
"Kalian sudah mandi?" tanya Nathan yang baru saja saja masuk ke kamar.
"Sudah," jawab Diana sembari mengeringkan rambutnya.
"Ayo ikut aku, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan," ucap Nathan menggendong putrinya yang sudah wangi. Dengan rambut yang belum di sisir, Diana pun mengikuti Nathan yang entah kemana membawanya.
Sampailah mereka di depan pintu berwarna pink. Nathan membuka pintu lalu masuk ke ruangan rahasia itu.
Diana menatap kagum dan penuh haru melihat isi dari ruangan berukuran sedang itu.
Tangannya menyentuh salah satu foto yang menempel di dinding, foto saat ia sedang hamil. Ternyata, diam-diam ada yang memotretnya.
"Kau yang membuat ini semua?" tanya Diana dengan mata berkaca-kaca. Fotonya, foto Nara dan juga foto ketika mereka bertiga jalan-jalan memenuhi ruangan itu.
"Bukan, aku hanya punya beberapa foto saja. Sisanya dari pak Hans, dia yang diam-diam memotret mu. Katanya untuk kenang-kenangan," jawab Nathan duduk sofa mini yang ada di ruangan itu.
"Terimakasih," ucap Diana benar-benar terharu. Sungguh, ia tak bisa membayangkan sedikit pun bahwa ia akan merasakan kebahagiaan yang berlipat ganda seperti ini.
"Ruangan ini belum sepenuhnya terisi, jadi, kita harus banyak-banyak berfoto agar ruangannya penuh," ucap Nathan tersenyum manis membuat hati Diana luluh.
"Eum, iya. Kita berfoto saat mau tidur, mandi berdua, makan, jalan-jalan, duduk bersama, semuanya harus di foto," sahut Diana antusias.
"Jadi, kau mau mandi berdua denganku?" goda Nathan. Diana langsung menutup mulutnya, bisa-bisanya ia memancing singa kelaparan.
"Belum mau," jawab Diana malu.
"Kalau belum mau, kapan kita bisa mengambil foto saat mandi berdua?" goda Nathan lagi sembari berdiri dan mendekati istrinya.
"Yah nantilah," jawab Diana cepat sembari pura-pura fokus pada fotonya dan juga Nara yang sedang naik ayunan.
"Nanti itu kapan?" tanya Nathan berbisik membuat Diana merinding.
"Kalau sudah anu-anu," jawab Diana pelan.
"Anu-anu apa?" tanya Nathan tersenyum jahil.
"Ck, aku tidak tau. Aku mau keluar saja, takut dimakan," ucap Diana memilih melarikan dirinya dari perangkap suaminya.
"Malam ini kau tak bisa melarikan diri lagi," gumam Nathan pelan sembari tersenyum kecil.
"Ummmachhh, anak Daddy yang cantik. Sayangnya Daddy sama Nara," ucap Nathan mencium pipi putrinya sembari keluar dari ruangan istimewa itu.
*******
Malam harinya.
Diana kini sudah siap berpakaian, dengan dress pemberian suaminya, ia tampil cantik dan juga manis.
"Anak ibu cantik sekali," puji Diana sangat senang melihat putrinya yang cantik setiap harinya.
Tiba-tiba saja, Diana merasakan jantungnya berdenyut nyeri. Ia memilih duduk di tepi ranjang sembari memandang putrinya. Mengapa ia merasa gelisah?
__ADS_1
Mungkin hanya perasaan saja, bisa jadi, karena ini efek terlalu bahagia hingga takut kejadian menyakitkan terjadi.
"Nona, tuan muda sudah menunggu di bawah," ucap pak Hans yang membuka pintu kamar sedikit.
"Iya, kami akan turun." Diana pun mengambil tas sampingnya lalu menggendong Nara.
"Cantik sekali putri ibu ini," puji Diana lagi tak henti-hentinya mencium pipi Nara. Rasanya, ia sangat merindukan pipi putrinya, padahal setiap hari mereka selalu bersama.
Diana turun ke lantai bawah menghampiri Nathan yang sudah berpakaian rapi, stelan yang selaras dengan pakaian Diana.
"Kau tampan sekali," puji Diana tulus. Suaminya benar-benar tampan jika memakai pakaian rapi.
"Kau juga cantik," balas Nathan mengambil alih Nara lalu mengajak Diana masuk ke mobil.
Kali ini, Nathan tak memakai supir. Ia akan mengemudi sendiri, sebelum itu pun, ia sudah mengatakan pada anak buahnya agar tak mengganggu nya malam ini. Ia ingin malam ini hanya ada mereka bertiga saja.
Di dalam mobil.
"Kita mau makan malam di mana?" tanya Diana masih menatap suaminya. Ketampanan dan kharisma suaminya membuat ia tak bisa mengalihkan pandangannya. Apalagi melihat suaminya yang sedang mengemudi.
"Di mana saja yang penting bisa makan," jawab Nathan asal membuat Diana langsung mengerucutkan bibirnya.
"Kau mulai menyebalkan lagi," ucap Diana mencubit punggung tangan suaminya.
"Kau semakin menggoda," balas Nathan tersenyum kecil lalu kembali fokus mengemudi.
"Kita mau makan malam, sayang. Daddy mu mengajak kita makan, kira-kira kita makan apa yah? Daging, kue, mie goreng, atau gorengan?" Diana mengoceh sendiri sembari menoel-noel pipi putrinya.
"Kita makan rumput," sahut Nathan sembari tertawa kecil.
"Kau pikir kami kambing, apa!" ketus Diana pura-pura marah.
"Ah, kan aku jadi malu," gumam Diana menahan senyumannya.
Beberapa menit kemudian.
Mobil pun akhirnya sampai juga di area sebuah restoran yang sudah di hias dengan sedemikian rupa. Restoran itu tampak sepi, hanya ada beberapa pelayan saja yang menyiapkan makanan.
"Wah, cantiknya." Diana berdecak kagum melihat hiasan bunga yang elegan dan cantik.
"Cantikan dirimu," sahut Nathan dan sekali lagi berhasil membuat pipi Diana merona.
Nathan membimbing istrinya dan juga Nara yang sudah ada di gendongan nya masuk ke restoran.
Berbagai macam bunga serta karpet merah menyambut mereka. Satu meja bulat dengan dua kursi serta beberapa makanan mewah sudah tertata rapi.
"Nara duduk di mana nanti?" tanya Diana tak melihat kursi lebih, apa anaknya nanti akan dipangku selama makan.
"Kereta bayi," jawab Nathan. Selang beberapa menit, kereta bayi itu datang dan Nathan pun meletakkan Nara di sana.
"Diam di sini yah, sayang. Jangan menangis, nanti kau tidak akan mendapatkan adik bayi," bisik Nathan mencium pipi Nara sembari menoel hidungnya.
"Ayo makan," ucap Nathan menarik kursi untuk istrinya. Diana yang diperlakukan seperti itu pun merasa sangat bahagia.
Bayangkan saja, seorang tuan Albert yang suka membunuh orang tanpa pikir panjang, memperlakukan Diana seperti ratu malam ini.
__ADS_1
"Terimakasih, sayang." Apa salahnya membalas perlakuan suaminya dengan panggilan sayang, Diana benar-benar sangat berani sekarang.
Mendapat panggilan sayang lagi, Nathan pun tak kalah bahagia nya. Ia pun ikut duduk lalu mempersilahkan istrinya untuk menyicipi hidangan mewah yang ada di hadapan mereka sekarang.
"Untuk apa pisau?" tanya Diana pelan agar orang-orang tak mendengar nya dan suaminya tidak malu.
"Untuk memotong dagingnya," jawab Nathan menarik piring Diana lalu mengiris daging dengan telaten.
"Makanlah," ucapnya memberikan irisan daging yang tampak menggugah selera.
"Terimakasih, sayang."
"Setelah ini, apa kau mau berdansa denganku?" tawar Nathan menatap lekat istrinya yang tengah mengunyah.
"Tapi aku tidak tau berdansa," jawab Diana dengan suara tak jelas karena mulutnya masih di penuhi potongan daging.
"Habiskan makanan di mulut mu dulu baru bicara, kalau kau begitu, kau bisa mati tersedak," ucap Nathan mengambil tisu lalu membersihkan bibir Diana.
"Kau makan seperti anak kecil, padahal di rumah kau selalu makan daging," lanjutnya berdecak heran.
"Daging yang ini aku tak pernah makan, yang ini enak."
"Mintalah pada pak Hans kalau kau mau," ucap Nathan membuat bola mata Diana langsung berbinar.
"Terimakasih, sayangku."
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, kau mau berdansa atau tidak?" tanya Nathan.
"Tidak romantis, biasanya kalau pria mengajak istrinya berdansa, pria itu akan berlutut," ucap Diana memberikan asumsi konyol.
Nathan pun tersenyum menyeringai lalu berdiri dan mendekati kursi Diana.
"Jadi kau ingin aku berlutut?" bisik Nathan sembari memegang kedua pundak Diana dari belakang.
"Eum, tidak juga. Tapikan kalau begitu romantis," jawab Diana pelan. Ia takut suaminya itu marah karena ia sudah memerintah sesuka hatinya.
"Baiklah." Nathan pun akhirnya berlutut membuat Diana terkejut, ia pikir suaminya itu tak akan mau berlutut. Jangan sampai orang lain melihat tingkah romantis suaminya ini. Biarlah hanya ia saja yang melihat ini.
"Sayangku, maukah kau berdansa denganku malam ini?"
_
_
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
...Hati-hati Diana, jangan sampai kaki Nathan tepijak😂 bisa patah kaki mu nanti di buatnya ðŸ¤...
tbc.