
Dua Minggu berlalu, Diana sudah di izinkan pulang lebih tepatnya sudah di perbolehkan oleh suaminya untuk pulang.
Awalnya dokter sudah memperbolehkan beberapa hari yang lalu, namun Nathan tak memperbolehkan karena takut istrinya akan kembali sakit.
Kini, dua insan itu bersama dengan baby twins mereka sudah berada di rumah.
Cuaca pagi ini tampak cerah diiringi angin yang sejuk, Diana duduk di atas ranjang sembari mengeringkan tubuh bayi laki-lakinya. Yah, bayi-bayinya itu baru saja selesai mandi dan yang bertugas memandikan bayi-bayi mungil itu adalah Nathan.
Kini, Nathan tengah membersihkan bayi perempuannya. Ia memandikan bayinya secara bergantian.
"Eum, tampan nya anak Mommy," puji Diana memberikan bedak dan juga minyak telon agak bayinya merasa nyaman.
Mereka berdua sepakat dengan panggilan Daddy dan Mommy, itu saran dari Diana. Katanya biar terlihat keren, Nathan pun setuju-setuju saja.
"Bayi terakhir sudah bersih," ucap Nathan datang dengan menggendong bayinya yang sudah selesai mandi.
"Kau memang ayah yang hebat," puji Diana memberikan dua jempol.
Nathan pun membalas dengan senyuman lalu membaringkan bayi perempuannya.
"Sini, biar aku yang memakaikan pakaiannya," ucap Diana. Nathan pun mengangguk lalu mengambil alih bayi laki-lakinya yang sudah berpakaian dan juga pakai bedak.
"Sudah tampan jagoan Daddy," ucap Nathan mencium gemas putranya.
"Acaranya akan di adakan besok, apa kau yakin sudah sehat, sayang?" tanya Nathan beralih pada istrinya.
Acara yang di maksud Nathan adalah acara pemberian nama. Mereka akan mengundang beberapa rekan kerja penting saja, lalu membagikan makanan pada orang-orang tak mampu.
"Aku sudah sehat, bahkan sangat sehat. Kau saja yang terlalu khawatir," jawab Diana sembari tersenyum saat memberikan bedak pada putrinya.
"Yah, itu karena aku sangat mencintaimu. Melihat mu sakit perut saja aku sangat takut dan sedih, apalagi melebihi itu," ucap Nathan mengerucutkan bibirnya membuat Diana tertawa.
"Ah, suamiku ini semakin romantis saja. Aku jadi bangga," goda Diana mencolek pipi Nathan dengan tangannya yang masih ada bedak. Diana pun tertawa melihat pipi suaminya yang sudah terkena bedak karena ulahnya.
"Eum, senangnya menjahili suami yah," ucap Nathan mencubit pipi istrinya itu. Diana pun tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Di saat mereka asyik bercanda, putri Diana tampak merengek. Nathan pun langsung menatap putrinya itu yang terlihat kelaparan.
"Dia mau minum susu," ucap Nathan.
"Iya, sayangku. Kita sarapan," ucap Diana menggendong putrinya lalu menyusui bayi-bayinya itu satu-persatu.
******
Setelah selesai menyusui, tentunya energi Diana terkuras. Wanita itu kini tengah sarapan dengan makanan berat namun tetap bergizi. Di saat Diana makan, Nathan pun menjaga dua buah hatinya.
Tentunya Diana makan di kamar, karena kalau turun ke bawah lagi akan repot jika anak-anaknya menangis nanti.
"Sayang, pelan-pelan makannya," tegur Nathan saat melihat istrinya makan dengan lahap.
"Aku lapar," ucap Diana.
__ADS_1
"Iya, tapi pelan-pelan. Kau bisa tersedak nanti, kalau kau tersedak, kan aku juga yang panik," ucap Nathan membuat Diana tersenyum sembari mengunyah makanan nya.
Semakin lama, suaminya ini semakin membaik saja sikapnya. Semakin romantis, perhatian dan juga hangat. Diana sangat senang akan itu.
Diana pun melanjutkan makannya dengan pelan.
Setelah selesai makan. Diana memilih untuk duduk di samping suaminya. Posisinya mereka sedang ada di balkon dengan baby twins yang ada di dalan kereta bayi. Mereka berdua tampak tertidur karena suasana sekeliling rumah yang lebih asri dan juga sejuk, di tambah lagi sinar matahari menambah suasana hangat dan nyaman.
"Kira-kira mereka ini ikut sifat siapa yah?" tanya Diana menyenderkan kepalanya di bahu sang suami.
"Entahlah, tapi semoga saja mengikuti sifatmu. Sifatku tidaklah baik, aku tak mau mereka menjadi manusia yang keras dan juga tak berperasaan," jawab Nathan mengelus-elus kepala Diana lalu sesekali mengecup kepala istrinya itu.
"Tapi, sifatku juga tak baik."
"Kau sangat baik, sayang. Kau adalah wanita hebat dan kuat, meski kau cerewet, ceroboh, cengeng, tapi bagiku kau adalah yang terbaik setelah ibuku," ucap Nathan membuat Diana terharu.
"Kalau begitu, kau juga yang terbaik. Kau tampan, bijaksana, meski kau ini jahat sebenarnya, tapi kau tetap yang terbaik bagiku setelah ayahku," balas Diana membuat Nathan tertawa kecil.
"Eum, so sweet," ucap Nathan mencubit hidung Diana. Kedua insan itu kembali tertawa sembari menikmati matahari pagi yang menyehatkan.
*******
Malam harinya.
"Sudah kenyang yah, anak Mommy sudah mengantuk." Diana meletakkan putranya ke dalam boks bayi yang sudah ada putrinya juga di sana. Setelah menyusui kedua anaknya, Diana pun membaringkan keduanya di dalam boks bayi.
Setelah itu, Diana pun menunggu hingga bayinya tertidur sembari berdendang kecil. Saat itu, Nathan pun masuk ke kamar dengan membawa beberapa kue dan juga segelas susu. Ia yakin, istrinya pasti merasa lapar setelah menyusui, jadi, ia berinisiatif untuk membawakan kue.
"Baru saja tidur," jawab Diana pelan.
"Mau kue?" tawar Nathan duduk di tepi ranjang.
"Mau," jawab Diana. Nathan pun memberikan kue itu pada istrinya lalu langsung di lahap Diana dengan tenang.
"Aku ada sedikit pekerjaan, tidurlah kalau sudah mengantuk," ucap Nathan pelan, takut anaknya akan bangun.
"Tapi, kau tetap di kamar kan?" tanya Diana.
"Iya, aku akan mengerjakannya di kamar."
"Baiklah, jangan-jangan bergadang yah. Aku tak mau kau kelelahan," ucap Diana.
"Siap, istriku."
Nathan pun memberikan kecupan singkat di bibir Diana yang masih ada selai dari kue lalu mengelus kepala istrinya itu. Setelah itu, Nathan langsung ke meja dekat sofa dengan membawa laptopnya. Ia akan mengurus pekerjaan bisnis gelapnya yang sedikit terganggu oleh orang-orang usil.
_
01.05
Suasana kamar sudah senyap, lampu kamar pun tampak sudah dimatikan sebagian. Kamar tampak remang-remang, karena memang lampu kamar tak boleh mati semuanya. Diana sedikit takut jika lampu kamar dimatikan semuanya, jadi akan ada satu sisi kamar yang hidup lampunya sehingga kamar tidak terlalu gelap.
__ADS_1
Nathan sudah tertidur sedari jam sebelas sedangkan Diana sudah tidur dari jam sembilan.
Kelopak mata Diana tampak bergerak-gerak merasakan hembusan angin yang sejuk menyentuh kulit wajahnya. Bulu kuduknya tampak berdiri membuat wanita itu membuka matanya.
Diana mengucek matanya menetralkan penglihatannya. Di tatapnya sang suami yang sudah tidur lalu beralih pada boks bayi anaknya.
Mata Diana menangkap sosok wanita yang berdiri di dekat boks bayinya, Diana pun langsung duduk takut terjadi sesuatu pada bayinya.
Diana berdiri dan berjalan mendekati sosok itu, melihat dengan jelas wajahnya yang tampak pucat dan ada sedikit darah di sana.
Wanita itu tanpa tersenyum lalu menghilang, jantung Diana benar-benar di buat copot.
Apa wanita itu penghuni rumah ini? Pikir Diana. Tapi, kenapa ia baru melihat wanita itu setelah beberapa bulan tinggal di rumah ini?
"Sayang?"
Tubuh Diana terguncang kaget saat Nathan memanggilnya, Diana pun langsung membalikkan badannya dan menatap suaminya yang sudah duduk.
"Ada apa?" tanya Nathan ikut berdiri dan menghampiri istrinya yang tampak syok.
"Tadi ada wanita yang datang kemari, dia melihat anak kita. Aku takut dia menggangu anak kita nanti," jawab Diana dengan keringat membasahi wajahnya.
Nathan pun menatap kedua bayinya yang tertidur pulas lalu beralih memeluk Diana.
"Semua akan baik-baik saja, jangan panik yah. Bukankah itu hal yang biasa?"
"Iya, tapi aku takut saja. Kalau dulu itu karena anak kita belum lahir, tapi sekarang kan beda."
"Sayang, berpikir positif, oke. Semua akan baik-baik saja," ucap Nathan mengelus-elus punggung Diana agar tetap tenang.
"Iya, semua akan baik-baik saja. Mungkin itu hanyalah penghuni di sini yang penasaran," sahut Diana mencoba untuk berpikir positif.
Semoga semuanya benar baik-baik saja.
_
_
_
_
_
_
_
_
...Aduh, ada yang datang tuh😁 Tolong dong di sembur biar hilang mereka😂...
__ADS_1
tbc.