Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 97. Menenangkan.


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu. Bermacam-macam kejadian pun terjadi, mulai dari Nathan yang kerepotan karena dua anaknya, Diana yang marah karena Nathan pernah ceroboh hingga membuat baby Leo terjatuh dan menangis seharian.


Semuanya terlewati dengan beragam momen yang tak akan pernah bisa dilupakan.


Kini, bayi Diana dan Nathan semakin sehat. Kedua bayi itu terlihat sudah mulai aktif menggerakkan tangan mereka dan memakan apa saja yang ada di tangan.


Sudah beberapa hari Nathan tidak pergi ke perusahaan karena sibuk menjaga buah hatinya. Apalagi Diana tampak kurang sehat dan terbaring lemah di atas ranjang.


Sudah dua hari Diana demam dan kini demam nya sudah sedikit menurun. Tentunya, hal itu membuat Nathan sangat kewalahan. Anak-anak yang butuh perhatian dan juga susu, lalu istrinya yang sedang sakit dan butuh perhatian.


Nathan tak memperkerjakan baby sitter karena ia tak ingin anaknya jauh dari Diana. Ia tak ingin, jika anaknya akan lebih dekat dengan pengasuh daripada ibu mereka sendiri.


Lagi pula, ia bisa menjaga anaknya tanpa bantuan pengasuh.


"Sayang, makan sedikit yah," bujuk Nathan menyodorkan sesendok bubur. Diana tampak menggeleng lemah, tenggorokan nya terasa kering hingga ia tak berselera untuk makan apapun itu. Ia hanya ingin minum saja walau sebenarnya tenggorokannya sakit sewaktu meneguk air.


"Kalau kau tidak makan, kapan sembuhnya?"


"Nanti muntah," ucap Diana pelan.


"Justru itu yang bagus, sayang. Kalau sudah muntah nanti dadamu terasa lapang, kepalamu juga tidak akan terlalu pusing," ucap Nathan masih terus berusaha membujuk istrinya untuk makan. Keadaan Diana sungguh membuat ia sangat khawatir dan rasanya tak ingin makan juga jika istrinya tak makan.


Diana pun akhirnya menurut dan membuka mulutnya.


"Telan saja."


Diana menelan bubur tanpa mengunyah lalu meneguk air putih. Baru beberapa sendok, Diana langsung memuntahkan bubur tadi dan mengenai celana suaminya.


"Tidak apa-apa, sayang. Muntah kan saja," ucap Nathan memijit leher belakang Diana.


Air mata Diana keluar karena merasa pusing dan juga mual, apalagi ia sudah mengotori pakaian suaminya.


Terasa sudah berhenti, Diana pun membersihkan mulutnya lalu meminum air putih.

__ADS_1


"Pakaian mu kotor, maaf."


"Tidak masalah. Sudah merasa lebih baik?" tanya Nathan.


Diana mengangguk pelan, ia merasa sedikit lega dan sakit di kepalanya berangsur membaik.


"Makan lagi yah, aku akan membersihkan diri."


Diana pun kembali mengangguk lalu menerima semangkok bubur tadi, sedangkan Nathan langsung membersihkan diri ke kamar mandi.


******


Setelah selesai makan, Diana pun kembali membaringkan tubuhnya. Ditatapnya boks bayi dimana kedua buah hatinya tengah berbaring sembari memasukan mainan mereka ke mulut.


"Hei, jangan dimakan yah." Nathan langsung merebut mainan dari kedua anaknya itu, sontak saja dua bayi mungil itu langsung memasang wajah sedih dan akhirnya menangis.


Melihat itu, Nathan hanya diam saja dan memandangi wajah kedua bayinya yang sedang menangis.


"Eum, kasihan."


Nathan tertawa lepas melihat bayinya masih menangis, hal itu membuat Diana menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalian ini lucu sekali," ucap Nathan akhirnya memberikan mainan itu pada dua bayinya.


Putranya pun langsung diam dan memasukkan mainan itu ke mulutnya, sedangkan putrinya itu masih menangis meski Nathan sudah memberikan mainannya


"Ini sayang mainannya, jangan menangis lagi yah." Walau sudah diberikan mainan, tetap saja putrinya itu menangis.


"Hayo!" ledek Diana tersenyum geli melihat ekspresi suaminya yang kebingungan.


"Pipis yah?" Nathan pun memeriksa apakah putrinya itu kebocoran, ternyata tidak.


"Tidak pipis, tapi kenapa menangis? Ini mainannya, sayang. Jangan menangis yah, nanti hidungnya hilang," bujuk Nathan akhirnya mengangkat anaknya itu lalu menimang-nimang agar Adel segera berhenti menangis.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi, sayang." Namun, anak perempuannya itu masih saja menangis meski Nathan sudah menggendongnya.


Nathan menatap istrinya meminta bantuan, tapi Diana malah menggeleng.


"Sayang jangan menangis yah, nanti Daddy marah." Nathan memilih duduk di tepi ranjang lalu mengelus-elus pipi putrinya.


"Mau Daddy buang ke kolam?" tanya Nathan saat putrinya sudah mulai berhenti menangis. Ternyata putrinya itu hanya ingin di elus saja.


"Tidak mau kan di buang ke kolam? Jadi, jangan menangis yah, nanti Daddy khilaf," lanjut Nathan mendapatkan cubitan kecil di pahanya.


"Sakit sayang," ucap Nathan mengerucutkan bibirnya ke arah sang istri.


_


_


_


_


_


_


_


Hari ini author mau berlayar lagi menuju perantauan, jadi besok mungkin gak bisa update.😁


tapi tetap di usahakan.


typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2