Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 38. Mengalah.


__ADS_3

"Ayah, Nana pulang."


Suara tangisan bayi Nara membuat Nathan kewalahan, bayi itu sudah diberikan susu formula tapi tetap saja menangis, malahan bayi Nara memuntahkan kembali susu formula itu.


"Berikan nona kecil pada nona Diana, tuan. Nona kecil pastinya sangat lapar," saran pak Hans dan tentunya Nathan merasa keberatan.


"Ck, tak bisakah dia minum susu formula saja? Aku tak suka bayi ku di pegang orang lain," gerutu Nathan membuat pak Hans menghela nafas panjang.


"Nona Diana adalah ibu kandung dari nona Nara, tuan. Sejauh apapun bahkan sekuat apapun usaha anda menjauhkan mereka, mereka berdua akan tetap memiliki kontak batin. Sebaiknya berikan nona Nara ke pelukan ibunya sebelum hal-hal yang tak kita inginkan terjadi," jelas pak Hans memberikan nasehat agar tuannya ini mengerti bahwa ibu dan anak tak bisa di pisahkan.


Dengan perasaan kesal, Nathan pun berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar Diana. Ia menepuk-nepuk paha bayi Nara agar berhenti menangis.


Nathan pun masuk ke dalam kamar Diana, bayi Nara pun sudah tak rewel lagi membuat Nathan semakin kesal.


"Ck, ternyata pak Hans benar."


Nathan mengedarkan pandangannya, ia mencari keberadaan Diana tapi tak menemukan wanita itu di dalam kamar. Nathan pun berjalan ke arah ranjang lalu meletakkan bayi Nara di atas tempat tidur.


Terdengar suara isakan tangis dari kamar mandi, Nathan pun berjalan ke arah sana dan mengintip siapa yang tengah menangis di dalam kamar mandi.


Di sana terlihat Diana tengah berdiri sembari memegang sebuah pisau. Wanita itu tampak ragu-ragu menancapkan pisau itu di tangannya.


"Sakit tidak yah?" lirih Diana takut merasakan sakit, tapi niatnya bunuh diri belum pudar juga.


Melihat itu, tanpa sadar Nathan tertawa kecil.


Nathan pun memilih masuk ke kamar mandi membuat Diana terkejut dan langsung menatap benci ke arah Nathan.


"Ayo cepat lakukan," ucap Nathan membuat Diana salah tingkah.


"Tidak jadi bunuh dirinya?" tanya Nathan berjalan mendekat.


"Jadi," jawab Diana mantap sembari mengangkat pisaunya. Diana tampak menutup matanya, semoga semuanya berjalan dengan cepat tanpa meninggalkan rasa sakit.


Saat Diana ingin menancapkan pisau itu ke perutnya, tangan Diana langsung di tahan dan di cengkram dengan kuat membuat wanita itu terkejut. Tampak Nathan sudah berdiri dekat dengannya dan memegangi tangan Diana dengan kuat.


Nathan mengambil pisau itu dengan paksa lalu membuangnya ke sembarang arah.


"Lain kali kalau mau bunuh diri, jangan sampai ketahuan yah."


"Mengapa kau ikut campur? Biarkan aku mati saja!" teriak Diana pilu.


"Kalau kau mati siapa yang menyusui bayi ku?" sahut Nathan membuat Diana semakin histeris. Wanita itu kini memukul dada Nathan dengan kuat karena merasa sakit hati.


"Aku ibunya, aku yang melahirkannya, mengapa kau yang berhak terhadap bayiku!" teriak Diana sembari menangis histeris.

__ADS_1


Nathan pun langsung menangkap tangan Diana yang memukuli dadanya lalu menggendong wanita itu seperti mengangkat karung beras.


"Lepaskan aku!" teriak Diana memberontak.


"Diam atau aku akan membanting mu di lantai!" ancam Nathan membuat Diana ketakutan dan memilih diam.


Nathan pun menurunkan Diana di dekat ranjang lalu membiarkan wanita itu bersama anaknya. Sepertinya Nathan sudah membuat wanita itu sedikit gila sehingga berniat bunuh diri, tapi Nathan juga tak rela untuk melepaskan bayi Nara karena ia sudah terlalu suka dengan bayi mungil itu.


Untuk kali ini, Nathan memilih mengalah.


******


Malam harinya.


Seharian Nathan tak menggendong bayi Nara membuat emosi laki-laki itu tak terkendali, buktinya hari ini Nathan sudah membunuh empat orang pelayan karena tidak becus dalam bekerja. Sungguh hari yang sangat mengerikan bagi para pekerja mansion.


Nathan kini tampak duduk diam di dalam kamarnya, ia memegangi sarung tangan bayi Nara sembari menatap kosong ke arah depan.


"Sedang apa dia sekarang? Apa dia sudah tidur?" gumam Nathan mencium sarung tangan bayi Nara.


Tok


Tok


Tok


"Dokter Doni berkunjung, tuan." Kening Nathan berkerut mendengar perkataan pak Hans.


"Untuk apa dia datang?" tanya Nathan menyimpan sarung tangan bayi Nara ke dalam saku celana nya.


"Saya tidak tahu, tuan. Sekarang beliau ada di ruang kerja anda," jawab pak Hans.


Nathan pun mengangguk lalu berjalan keluar dari kamar menuju ruang kerja nya. Ia akan menemui seorang dokter muda yang sudah lama bekerja dengannya.


Dokter itu pun bukan sembarang dokter.


Dokter Doni adalah, dokter yang menangani pembedahan pada saat Nathan akan melakukan transaksi organ tubuh.


Jadi, dokter itu sama mengerikan nya dengan anak buah Nathan yang lainnya.


Sebelum ke ruang kerja, Nathan menyempatkan diri untuk ke kamar Diana. Nathan pun melihat dua insan itu sudah tertidur pulas, ia tersenyum kecil lalu mengelus pipi bayi Nara yang mulus.


"Selamat tidur bayi Daddy," bisik Nathan mencium kening bayi Nara. Setelah itu, Nathan pun mengalihkan perhatiannya pada Diana yang tampak lelah, tangannya terulur mengelus kepala Diana pelan.


"Bodoh." Setelah mengatakan itu, Nathan memilih pergi dari dalam kamar Diana lalu pergi menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


Sesampainya di ruang kerja, Nathan langsung menatap laki-laki berusia 27 tahun yang sedang asyik makan mie goreng dengan lahapnya. Dia adalah Doni Aldiansyah , dokter bedah khusus untuk mengeluarkan organ tubuh mangsa tuannya.


"Apa aku menyuruhmu kemari?" tanya Nathan langsung membuat Doni langsung tersedak. Buru-buru, laki-laki itu meneguk air.


"Tuan muda," ucap Doni berdiri lalu menundukkan kepala dengan hormat.


"Jawab pertanyaan ku!" Nathan memilih duduk di kursi kerjanya.


"Saya datang kemari untuk berlibur tiga hari, tuan. Di pulau tidak ada aktivitas, tuan juga tidak mengirimkan manusia lainnya untuk saya bedah, jadi saya memilih untuk berlibur."


"Bukankah Xeon sudah mengurus semua itu?"


"Benar, tuan. Tapi, kata Xeon Dian akan mengirim beberapa orang tiga hari lagi," jawab Doni memilih untuk kembali duduk.


"Hm, pergilah ke rumah Xeon dan habiskan masa libur mu di sana. Aku tak ingin kau menggangguku!"


"Baik tuan, terimakasih karena sudah mengizinkan saya berlibur." Doni kembali mengambil mie goreng nya lalu menyantap mie itu dengan tenang.


"Yah, kau harus berlibur sesekali. Setiap hari kau hanya melihat darah saja, jadi kau butuh refreshing agar otak mu berjalan dengan baik," ucap Nathan membuka laptopnya. Ia ingin melihat perkembangan labirin yang di buat oleh anak buah Rayyan.


Daripada termenung di dalam kamar, lebih baik ia menyibukkan diri, selagi ada Doni di rumahnya ia bisa menghabiskan waktu yang berputar dengan lambat saat Nara tak ada di gendongannya.


"Entah mengapa aku sangat menyayangi bayi itu padahal dia bukan anakku," gumam Nathan dalam hati sembari memasang wajah galau membuat Doni penasaran, apa yang membuat tuannya menjadi sedih.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


...Ngeri-ngeri yah teman-teman nya Nathan 😂😭 psychopath semua😂😣...


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.

__ADS_1


tbc


__ADS_2