
Suara musik romantis mengiringi langkah demi langkah dan juga gerakan yang pelan. Meski masih kaku, Diana mencoba mengikuti gerakan suaminya saat berdansa, ternyata, selain menyenangkan, berdansa itu sangatlah melelahkan.
"Kau sangat cantik malam ini," puji Nathan membelai wajah istrinya dengan lembut.
"Terimakasih, kau juga sangat tampan dan keren malam ini. Aku suka," balas Diana tersenyum manis.
Nathan menghentikan gerakannya begitu juga dengan Diana yang reflek berhenti. Terlihat, Nathan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya lalu memberikan kotak kecil itu pada Diana.
"Buka lah," ucap Nathan lembut. Diana pun membuka hadiah dari suaminya itu, ternyata, isinya ada gelang tangan yang cantik dan juga mewah.
"Untuk ku?" tanya Diana gugup.
"Iya, untuk mu. Pakailah dan jangan lepaskan sampai kapanpun itu," jawab Nathan mengambil alih gelang pemberiannya lalu memakaikan gelang itu ke pergelangan tangan istrinya.
"Cantik sekali, terimakasih." Diana begitu terharu dan memeluk suaminya. Tanpa sadar, air matanya meleleh begitu saja.
"Diana."
"Iya," jawab Diana mendongakkan kepalanya.
"Aku mencintaimu."
Deg!
Apa Diana tak salah mendengar? Suaminya menyatakan cinta.
"Coba ulangi lagi," pinta Diana dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Malam ini aku akan mengatakan segalanya padamu, tentang perasaanku yang sesungguhnya. Aku bukanlah laki-laki yang begitu mudah jatuh cinta, butuh waktu untuk aku bisa merasa nyaman di dekat mu." Nathan menatap bola mata Diana sembari menyeka air mata istrinya itu.
"Aku mencintaimu, sekali lagi aku katakan, aku mencintaimu." Pecah sudah, Diana menangis haru dan langsung memeluk suaminya dengan erat. Ia tak menyangka, bahwa ia akan mendapatkan cinta dari orang yang selalu berlaku keras dan dingin padanya.
"A-aku juga mencintaimu," balas Diana sesegukan.
"Apa kau mau hidup bersamaku? Hidup dengan anak-anak kita nantinya?" tanya Nathan memegang kedua pipi Diana.
"Iya, aku mau. Aku mau hidup bersamamu," jawab Diana mengangguk.
"Terimakasih, sayang." Nathan pun memberikan satu kecupan manis di bibir istrinya. Tak cukup di situ, dari kecupan singkat kini sudah berubah dengan ciuman yang lebih panas.
Iringan musik romantis semakin membuat kedua insan itu lupa diri. Untunglah, hanya ada mereka di sana, sedangkan beberapa pelayan yang bertugas berada di tempat lain.
__ADS_1
*******
Di dalam mobil.
Malam sudah semakin larut, Nathan pun mengemudi dengan kecepatan sedang karena Nara tengah tertidur begitu juga dengan Diana.
Senyumannya mengembang ketika sesekali ia melirik istrinya, malam ini ia sangat bahagia.
Nathan menatap gelang tangan yang ia berikan pada Diana, tampak Nathan menghela nafas panjang.
Ia meminta Rayyan untuk mendesain gelang khusus yang sudah di tanamkan alat pelacak. Nathan tak bisa menjamin kalau nanti semuanya akan baik-baik saja, sudahlah kalau sekarang ia sedang di atas, mana tau esok ia berada di bawah dalam keadaan lemah.
Ia takut tak bisa melindungi istri dan anaknya. Bayangan menyakitkan saat kehilangan kedua orang tuannya masih menghantuinya hingga takut menjalin cinta karena tak ingin terluka untuk kedua kalinya.
Tapi, Nathan berjanji pada dirinya. Kali ini, ia tak akan bersembunyi lagi, kali ini ia tak akan menangis lagi. Kali ini ia akan melawan siapa saja yang mencoba melukai keluarganya, ia akan memusnahkan mereka semua hingga keluarganya aman.
Nathan kembali fokus pada jalanan yang gelap, hingga tiba di tikungan, Nathan pun menginjak rem untuk menurunkan kecepatan mobilnya. Namun, saat Nathan menginjak rem, ternyata itu tak berfungsi. Alhasil, Nathan pun membanting stir membuat Diana terbangun begitu juga dengan Nara yang terkejut akan goncangan.
"Sial!" umpat Nathan hilang kendali.
"Sayang, awas!" teriak Diana saat mobil sudah tak terkendali lagi. Nathan sudah berusaha menghindar, namun takdir berkata lain. Mobil menabrak pohon dengan keras membuat Nathan maupun Diana terbentur.
Suara tangis Nara terdengar kencang, bayi mungil itu terjepit oleh tubuh Diana.
Diana berusaha membuka pintu mobil lalu keluar untuk meminta tolong.
"Tolong! Siapapun, tolong kami!" teriak Diana dengan suara serak. Diana membuka pintu mobil dan mencoba membantu suaminya untuk keluar dari dalam.
"Sadarlah, jangan pingsan. Aku mohon," lirih Diana sekuat tenaga membantu Nathan keluar dari dalam, namun tenaga nya tak cukup. Ia sangat lemah sekarang, di tambah lagi Nara yang terluka dan harus segera di obati.
"Tolong!" teriak Diana. Jalanan sangat sunyi, tak ada satupun mobil yang lewat.
Dimana anak buah suaminya? Mengapa mereka tak ada?
Sebuah mobil mendekat membuat Diana langsung meminta tolong, mobil itu berhenti lalu keluarlah empat orang laki-laki berbaju serba hitam.
"Ada yang bisa kami bantu, nona?" tanya salah satu dari mereka.
"Tolong suamiku, tolong kami."
"Masuk lah ke mobil, kami akan membawa kalian ke rumah sakit," ucap mereka membimbing Diana untuk masuk ke mobil.
__ADS_1
Diana tampak ragu hingga ia melihat ke arah suaminya sekali lagi, tampak dua orang diantara mereka berusaha mengeluarkan Nathan dari mobil.
Sepertinya mereka orang baik.
Diana pun duduk di mobil lalu pintu mobil pun tertutup. Seketika, Diana terkejut ketika sebuah tangan membekap mulutnya membuat ia sesak. Matanya masih fokus pada suaminya, di sana terlihat kedua orang itu tak jadi mengeluarkan Nathan dan membiarkan suaminya di sana.
Perlahan mata Diana pun tertutup, Diana tak bisa merasakan apa-apa lagi, terakhir, ia hanya mendengar suara tangis anaknya saja.
********
"Cepat! Bawa tuan muda ke rumah sakit!" titah pak Hans yang baru saja tiba di lokasi kecelakaan. Ia tampak menyeramkan, sumpah serapah ia keluarkan untuk mengutuk kebodohan anak buah Nathan yang membiarkan tuan mereka pergi tanpa pengawasan.
"Kami tidak menemukan nona Diana dan putrinya," ucap salah satu anak buah Nathan.
Pak Hans yang mendengar itu langsung mencengkram wajah anak buah Nathan.
"Cari sampai dapat sebelum kepala kalian hilang!" titah pak Hans lalu masuk ke mobil.
Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, pak Hans menatap tuannya yang ia besarkan dengan susah payah dan juga penuh pengorbanan.
"Anda harus bangun, tuan. Nona Diana dan nona Nara berada dalam bahaya. Anda harus kuat agar kebahagiaan anda tidak hilang untuk kedua kalinya, saya mohon, bangunlah." Pak Hans mengelus kepala Nathan dengan tatapan sendu. Berharap, semuanya akan baik-baik saja.
_
_
_
_
_
_
_
_
...Jangan lupa beli tisu yah, kalau gak ada tisu, paki handuk juga gak papa buat lap ingus nanti😉...
Yang mau author up besok, boleh beri dukungan yah agar author semakin semangat dan bisa up tiap hari😁🤭
__ADS_1
typo bertebaran di mana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
tbc.