
Setelah acara makan siang di rumah Nathan, kini Rayyan dan Naya pun sudah berada di mobil. Rayyan tampak tersenyum kecil karena senang bisa terlepas dari Adel si bocah ingusan itu, sedangkan Naya juga ikut tersenyum karena tugasnya sudah selesai dan ia tak perlu khawatir lagi mengenai biaya pengobatan anaknya.
Sesekali Rayyan melirik ke arah Naya, sebenarnya ia masih sedikit penasaran mengenai partnernya ini.
"Umur mu masih muda, mengapa kau sudah menjadi single parent?" tanya Rayyan.
"Sebenarnya saya bisa menjawab pertanyaan anda, tapi jawaban saya tidak termasuk dalam bayaran," jawab Naya santai.
Seketika senyuman sinis terukir di bibir laki-laki tampan itu.
"Aku bayar," ucap Rayyan santai.
"Dan saya tidak akan mau menerima bayaran itu," balas Naya menyunggingkan senyuman manisnya.
Rayyan pun hanya mengangguk, ia tak mungkin memaksa Naya untuk menjawab. Suasana pun kembali hening hingga tiba di rumah sakit tempat anak Naya di rawat.
"Terimakasih, senang bisa bekerja dengan anda," ucap Naya lalu turun dari mobil.
"Tunggu!" cegat Rayyan sembari ikut keluar dari mobil.
Naya pun membalikkan tubuhnya lalu menatap Rayyan yang mendekat ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Naya.
"Aku ingin melihat anak mu," ucap Rayyan membuat Naya sedikit terkejut lalu kembali tersenyum.
Wanita itu mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Rayyan menuju ruang inap putranya.
Sekiranya, pertemuan ini adalah pertemuan terakhir bagi mereka berdua.
__ADS_1
****
Di sisi lain.
Sepeninggalan Rayyan dan Naya, Adel duduk di atas ranjang sembari memeluk lututnya. Gadis kecil itu tak menangis, hanya saja ia tampak termenung dengan tatapan kosong.
"Cie yang ditolak," ledek Leo masuk ke dalam kamar Adel sembari memasang wajah yang menyebalkan.
Bersamaan dengan Leo, Nathan dan Diana pun ikut masuk ke kamar gadis yang tengah patah hati itu.
Adel tak menanggapi ledekan abangnya hingga ketiga orang itu duduk di atas ranjang.
Diana pun memeluk putrinya sembari menahan senyum, ia geli melihat momen yang ia hadapi sekarang, rasanya ia ingin tertawa.
"Laki-laki di dunia ini bukan hanya Uncle Rayyan saja kan?" tanya Diana memecah keheningan.
Adel tak merespon, ia hanya diam dan menatap ke depan dengan tatapan kosongnya.
"Uncle Rayyan itu sudah tua, hampir sama seperti Daddy. Coba bayangkan kalau kalian menikah, Daddy akan punya menantu seusianya, kan lucu," sambung Leo sembari tertawa kecil.
"Lagi pula putri Daddy kan cantik, tidak cocok dengan om-om, cocoknya dengan sebaya atau tua beberapa tahun saja," lanjut Nathan mencoba menghibur putrinya yang sudah seperti mayat hidup.
Lagi-lagi tak ada tanggapan dari gadis cantik itu, ia hanya diam sembari menahan tangisnya yang akan pecah. Matanya sudah memerah dan berkaca-kaca, hatinya semakin terasa sedih setelah mendengar perkataan keluarganya.
"Loh nangis," ledek Leo sembari tertawa, alhasil mendapatkan pukulan kecil di lengannya dari Nathan.
Leo pun terkekeh lalu hanya tersenyum saja, sementara Adel kini sudah memeluk sang ibu.
"Kenapa Uncle jahat ya, padahal kan Adel sudah mencintai Uncle sepenuh hati," tangis Adel sesegukan.
__ADS_1
Melihat itu, ketiga insan yang memperhatikan Adel serentak menahan tawa. Sangat lucu sekali bagi mereka ketika melihat bocah yang tengah putus cinta ini menangis meratapi sang pujaan hati.
"Mungkin Uncle bukan jodohnya Adel, kan masih banyak laki-laki di dunia ini yang lebih baik dari Uncle Rayyan," ucap Diana mengelus lembut rambut putrinya.
"Tapi, hati Adel sudah dipenuhi oleh Uncle Ray. Sekarang, hati Adel hancur," sahut Adel dengan nada lirih.
Nathan yang mendengar itu memijit dahinya, sifat siapa yang ada pada putrinya itu.
"Sayang, coba buang semua rasa untuk Uncle Ray. Caranya dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat, Mommy yakin Adel pasti bisa melupakan Uncle Ray," ucap Diana lembut.
"Apa Adel akan sanggup?" tanya Adel mendongakkan kepalanya menatap sang ibu dengan mata yang berair.
"Sanggup, mana mungkin tak sanggup. Anak Daddy kan cantik, pintar, baik dan rajin menabung," sahut Nathan lalu ikut memeluk putrinya.
"Lupakan si tua Bangka itu dan mari kita jalan-jalan ke tempat yang Adel mau," lanjut Nathan sembari mencium kepala putrinya.
"Hore! Jalan-jalan," sorak Adel masih sesegukan. Gadis cantik itu menghapus air matanya sembari membalas pelukan sang ayah.
"Ck, aku ini hanyalah anak pungut," sela Leo dengan wajah datar.
Diana pun menarik putranya itu untuk bergabung dalam lingkaran kebahagiaan.
"Kalian berdua itu anak Daddy dan Mommy yang paling istimewa," ucap Diana lembut.
"Yup, Adelleo dan Adellea adalah anak Daddy dan Mommy yang sangat istimewa dan berharga," sambung Nathan.
Keempat manusia itu tampak tertawa dalam sebuah lingkaran kebahagiaan, saling mengerti dan saling melengkapi.
Tertawa tanpa beban, seolah luka yang tadi dirasa tak pernah terjadi. Itulah kekuatan cinta keluarga.
__ADS_1
Jangan lupa untuk tertawa dan bahagia (•‿•)
END