
Tak ada kehidupan yang buruk jika kita pandai bersyukur dengan apa yang telah kita punya dan apa yang tidak bisa kita dapatkan.
Seperti hari-hari biasanya, pagi hari di mulai dengan sarapan. Kali ini, ada Xeon dan Rayyan yang ikut sarapan, dua pria lajang itu baru saja pulang dari menyelesaikan tugas mereka.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Leo pada adiknya yang sedari tadi senyum-senyum tak jelas.
Adel menggeleng lalu kembali melanjutkan makannya sambil sesekali melirik ke arah Rayyan yang juga tengah makan.
"Kau suka paman Rayyan?" tanya Leo berbisik. Dengan cepat Adel mengangguk dan alhasil mendapatkan cubitan kecil di tangannya.
"Sakit," pekik Adel sembari mengelus-elus tangannya.
"Kenapa, sayang?" tanya Diana.
"Tangan Adek dicubit sama Abang," jawab Adel manja sambil memasang wajah sedih.
"Memang harus di cubit, biar dia tau diri." Leo menyahut.
"Kita sedang sarapan, nanti kita bicarakan lagi yah," tegur Nathan. Leo dan Adel pun langsung mengangguk dan melanjutkan sarapan mereka.
*****
Setelah selesai sarapan, Leo dan Adel kini berada di dekat ayah mereka yang sedang membicarakan masalah pekerjaan dengan Xeon dan Rayyan. Karena hari ini tanggal merah, jadi, mereka tak sekolah.
"Jadi, kenapa kalian bertengkar tadi, ha?" tanya Nathan di sela membaca berkas.
"Itu karena Adel suka dengan paman Rayyan," jawab Leo cepat.
"Apa?!" Ketiga pria dewasa itu langsung terkejut apalagi Nathan yang kini sudah menatap tajam anak buahnya itu.
Rayyan pun tak kalah terkejutnya, ia takut ungkapan cinta bocah ingusan dihadapannya ini bisa membuatnya terancam.
"Kenapa Daddy kelihatan marah? Kan Adel suka dengan orang kepercayaan Daddy, bukan dengan satpam di depan," sela Adel dengan polosnya tanpa rasa berdosa.
"Sebaiknya kalian kembali ke kamar atau beraktivitas seperti biasanya, nanti Daddy akan bicara dengan kalian," ucap Nathan tetap dengan nada penuh kasih sayang.
"Oke, sampai jumpa lagi uncle Ray, I love you," ucap Adel setengah berteriak lalu berlari keluar ruangan ayahnya, padahal Nathan sudah berdiri dan siap berteriak juga.
Nathan pun kembali duduk lalu meletakkan berkas yang ia pegang dengan kasar ke atas meja.
Hal itu membuat Rayyan menelan ludah kasar.
"Rayyan!"
"Saya, tuan."
__ADS_1
"Selesaikan semua pekerjaan mu dalam waktu seminggu dan jangan pernah datang ke rumah ku tanpa izin!" titah Nathan dengan tatapan tajamnya.
"Baik, tuan."
"Sekarang, pergi dari sini dan jangan pernah berlagak tampan dihadapan putriku! Kau itu sudah tua, cari wanita yang seusia mu untuk dijadikan istri, jangan jadi pedofil!" lanjut Nathan menceramahi anak buahnya itu yang masih jomblo sampai sekarang.
"Baik tuan." Siapa juga yang mau dengan bocah ingusan, pikir Rayyan.
"Pergi sana! Kau juga Xeon!" usir Nathan.
Xeon dan Rayyan pun pamit lalu pergi meninggalkan ruang kerja Nathan.
"Bisa-bisanya bocah itu suka padamu," bisik Xeon sembari terkekeh geli.
"Mungkin aku terlalu tampan," balas Rayyan menyombongkan diri.
"Tampan yang mematikan," ejek Xeon memukul bahu Rayyan sembari tertawa.
Sepeninggalan Rayyan dan Xeon, Nathan pun memilih untuk ke kamar Adel. Ia akan menasehati putrinya itu agar tak menyukai Rayyan.
"Daddy masuk yah," ucap Nathan masuk ke kamar Adel.
Adel yang tengah duduk di tempat tidur sembari melamun pun mengangguk.
"Sedang apa?" tanya Nathan duduk di tepi ranjang.
"Dia itu laki-laki tua, sama seperti Daddy. Lagi pula Daddy tak akan mengizinkan mu untuk dekat dengannya," ucap Nathan dengan tatapan tak mau di bantah.
"Walau Uncle Ray sudah tua seperti Daddy, dia masih tampan seperti Daddy. Adel sangat menyukai Uncle Ray," balas Adel.
"Gadis seusia mu lebih baik memikirkan pendidikan dan bagaimana supaya bisa berteman, tak usah memikirkan cinta-cintaan, itu tak layak," ucap Nathan masih berusaha untuk lembut.
"Iya, Dad. Adel selalu memikirkan pendidikan Adel, walau Adel tak suka sekolah, tapikan boleh kalau Adel suka dengan Uncle Ray, lagi pula Uncle Ray kan belum punya pasangan," ucap Adel tak mau menyerah memperjuangkan cintanya pada sang paman.
"Dia sudah punya pacar, tak lama lagi mereka akan menikah," ucap Nathan berbohong. Sontak saja raut wajah Adel berubah muram namun kemudian ia kembali tersenyum.
"Adel tak percaya," ucap Adel.
"Eum, Adel butuh bukti yah. Oke, Daddy akan memintanya untuk membawa kekasihnya dalam minggu ini, bagaimana?"
Adel tampak berpikir, ia yakin jika Rayyan belum punya kekasih jadi, bisa saja Daddy nya ini sedang menipunya agar melupakan cinta tulusnya pada sang paman.
"Oke, akan Adel tunggu. Kalau ternyata tak ada, Daddy harus mengizinkan Adel menikah dengan Uncle Ray," ucap Adel sembari menantang ayahnya.
Mendengar itu, Nathan pun langsung berdiri dan pergi dari kamar Adel.
__ADS_1
Di luar kamar, Nathan langsung menghubungi nomor Rayyan.
"Angkat, bodoh!" umpat Nathan.
"Saya tu....
"Bawa kekasihmu ke rumah ku dalam Minggu ini!" titah Nathan memotong ucapan Rayyan.
"Apa? Tapi, saya tak punya kekasih, tuan."
"Aku tak perduli, bawa siapapun itu kalau perlu sewa wanita manapun untuk menjadi kekasihmu!" ucap Nathan lalu memutuskan panggilan.
Di seberang sana, Rayyan tengah dilanda kepanikan sedangkan Xeon hanya bisa tertawa saja.
"Tenang, aku akan mencarikan wanita cantik untuk menjadi kekasih sewaan mu," ledek Xeon dan alhasil mendapatkan tendangan di kakinya.
"Aw sakit, brengsek!"
Rayyan tak menghiraukan itu, ia masih berusaha mencerna keadaan. Mencari kekasih? Yang benar saja? Apalagi dalam Minggu ini. Rayyan benar-benar tak habis pikir, semua ini pasti ulah dari gadis kecil itu.
"Argh, Sial!"
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Hayo, siapa yang mau jadi kekasih bayaran๐
Helo guys, ada yang rindu? author balik lagi setelah istirahat beberapa hari yang cukup panjang ๐ Insyaallah author akan usahakan rajin up dan menamatkan cerita dalam beberapa bab lagi๐
Terimakasih ๐
__ADS_1
tbc.