Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 40. Sedikit membaik.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Di kamar Diana, Nathan perlahan membuka matanya karena merasakan sebuah kehangatan di pagi hari yang sejuk.


Nathan memperhatikan tangan siapa yang melingkar di dadanya ini, ia pun menoleh ke samping dan ternyata Diana sudah memeluknya.


Nathan pun belum berniat untuk duduk, ia kembali memejamkan matanya. Semalam, ia bermimpi tentang masa lalunya yang mengerikan.


Nathan kembali membuka matanya ketika merasakan tangan Diana yang mengelus-elus dadanya, ia merasa tak nyaman atas perbuatan Diana. Nathan pun menyingkirkan tangan Diana dari dadanya dengan kasar membuat wanita itu langsung terbangun dan duduk, mungkin Diana terkejut, terbukti karena Diana hanya diam saja.


"Kau cari-cari kesempatan untuk memelukku, ha!"


Diana menoleh ke arah Nathan, keningnya berkerut melihat wajah galak suaminya itu. Semalam menangis, tapi paginya sudah galak. Apa Diana harus mencabut kembali kata-kata nya semalam.


"Kenapa menatapku seperti itu? Ada masalah?" ketus Nathan sembari melotot ke arah Diana.


"Kau menjengkelkan," jawab Diana memilih berdiri dan menghampiri putri tercintanya yang masih terlelap.


Nathan tampak kembali menarik selimutnya, ia tampak memeluk guling lalu kembali menutup matanya membuat Diana menggeleng-gelengkan kepalanya. Bisa-bisanya, suaminya itu tidur lagi padahal hari sudah hampir menjelang siang.


"Semalam kau menangis yah?" tanya Diana sembari menatap Nathan yang masih menutup matanya.


"Sesedih apakah mimpimu, hingga kau yang kejam ini menangis? Apa itu tentang masa lalu? Atau hanya sekedar mimpi saja?" tanya Diana sembari memperhatikan Nathan yang menarik selimutnya lalu menutupi seluruh tubuhnya.


"Asal kau tau, aku juga punya kisah hidup yang sedih. Mungkin bagi beberapa orang, mereka lah yang memiliki kisah yang menyedihkan, tapi bagiku, akulah yang paling menderita di dunia ini." Diana tampak menghela nafas berat lalu melanjutkan ceritanya yang entah di dengarkan atau tidak oleh Nathan.


"Aku hidup tanpa figur seorang ibu, aku hidup dengan ber-ayah dan ibukan, ayahku saja. Aku hidup dalam kemiskinan, di mana semua orang tak peduli dengan kami meski kami sedang meregang nyawa di rumah kecil kami. Kami hidup dalam hinaan dan juga penderitaan." Diana tersenyum sendu mengingat akan masa lalunya, ia jadi rindu pada sang ayah. Entah kapan Diana bisa berkunjung ke makam ayah nya


"Hingga kejadian itupun terjadi, para laki-laki itu memukuli ayah dan merenggut masa depan ku. Aku yang tak tau apa-apa, hanya bisa berteriak meminta tolong. Saat semuanya terjadi, jantungku terasa berhenti, aku ingin mati saja, tapi aku mengingat bahwa aku masih memiliki ayah." Sayup-sayup terdengar suara isakan kecil dari Diana.


"Aku pikir hanya sampai di situ saja aku menderita, ternyata ada sebuah derita besar yang menungguku. Mereka mengambil ayah ku, mereka membunuhnya." Tangis Diana pecah walau tak terdengar keras.


"Mereka membunuhnya dan membiarkan aku hidup dalam kesunyian serta kesendirian. Aku tak punya siapa-siapa hingga kau memungut ku dan memberikan aku makanan yang layak." Diana menyeka air matanya lalu berusaha tersenyum tegar.


"Hingga, putriku lahir dan dia sangatlah cantik. Aku tak tau dia anak siapa, awalnya aku sangat membencinya, tapi lambat-laun, aku jadi mencintainya dan tak ingin kehilangan nya." Bayi Nara tampak terbangun dan menggeliat, Diana pun langsung menggendong putrinya itu.


"Kita mandi yah sayang," ucap Diana mencium pipi bayi Nara.

__ADS_1


Diana pun kembali menatap ke arah Nathan yang tampak tak merespon, tapi Diana yakin, Nathan mendengarkannya.


"Aku yakin, sesedih apapun cerita hidupmu, kau akan menemukan kebahagiaan. Seperti aku yang menemukan kebahagiaan pada putriku, seperti itulah kau yang akan menemukan kebahagiaan entah pada siapa itu nanti." Setelah mengatakan itu, Diana pun pergi ke kamar mandi meninggalkan Nathan yang masih tak merespon apapun.


Perlahan, Nathan membuka kembali selimutnya lalu menoleh ke arah pintu kamar mandi. Dapat ia dengar suara Diana yang tertawa bahagia dari dalam kamar mandi. Nathan pun duduk lalu berdiri dan pergi meninggalkan kamar Diana dengan perasaan campur aduk.


********


Satu jam kemudian.


Waktunya sarapan, Diana membawa anaknya turun ke bawah. Ia ingin mengajak putrinya jalan-jalan dalam mansion sebentar lalu sarapan. Bayi Nara sudah terlihat cantik dan imut dengan pipi yang di penuhi bedak bayi dan wangi khas bayi yang membuat orang-orang kecanduan.


"Anda ingin sarapan, tuan?" tanya pak Hans padan Nathan yang baru saja turun dari lantai atas.


"Tidak," jawab Nathan berjalan ke arah Diana lalu mengambil bayi Nara seperti biasanya.


"Aku akan membawa bayiku ikut bersamaku," ucap Nathan membuat Diana terkejut.


"Kemana?" tanya Diana menahan tangan Nathan agar tak membawa bayinya.


"Ke perusahaan," jawab Nathan.


"Aku tau apa yang baik dan tidak, siapkan saja keperluan bayiku! Kalau kau mau ikut silahkan, tapi kalau tidak, jangan menghalangiku!" tegas Nathan lalu berjalan meninggalkan Diana yang masih tercengang.


Diana pun dengan cepat menyiapkan keperluan bayinya nanti, ia harus ikut kemanapun Nathan membawa bayi nya. Ia tak ingin Nathan menyakiti bayinya.


Setelah menyiapkan semua kebutuhan Nara, Diana pun bergegas ke mobil yang sudah ada Nathan di dalamnya.


"Mengapa kau masih memakai baju tidur?" tanya Nathan menatap Diana yang baru saja masuk ke dalam mobil.


"Biar saja, aku belum nyaman memakai pakaian lainnya," jawab Diana tersenyum menampakkan gigi nya.


"Jalan!" titah Nathan pada supirnya yang tak lain adalah Xeon. Laki-laki itu tampak lebih pendiam dan juga dingin, pikir Diana.


"Apa kau sudah menyusuinya?" tanya Nathan menyentuh pipi bayi Nara yang sudah kembali tidur.


"Sudah, aku sudah menyusuinya sampai kenyang, sekarang dia malah mengantuk dan tidur," jawab Diana sembari tertawa kecil.

__ADS_1


"Dan kau sendiri? Apa kau sudah sarapan? Aku tak ingin kau pingsan di perusahaan ku dan menyusahkan ku!"


Mendengar itu, Diana langsung memasang wajah cemberut lalu mengeluarkan kotak bekal dari pak Hans.


"Ini mau makan," ucap Diana membuka kotak bekalnya yang berisi nasi goreng dan telur mata sapi.


"Mau?" tawar Diana mengangkat sendok berisikan nasi goreng ke arah Nathan.


"Makan saja," tolak Nathan memalingkan wajahnya.


"Yasudah kalau tidak mau, aku juga tak berniat berbagi kok," ucap Diana kembali menyantap nasi gorengnya yang lezat.


Sesampainya di parkiran perusahaan, Nathan pun turun dari mobil begitu juga dengan Diana. Sudah ada beberapa pengawal yang menyiapkan payung agar cahaya matahari tak mengenai bayi Nara.


Diana berjalan di samping Nathan yang melangkah dengan langkah kaki yang lebar membuat Diana kesusahan. Diana pun memegangi lengan baju Nathan.


"Pelan-pelan, aku baru saja siap melahirkan," ucap Diana dan akhirnya Nathan pun memelankan langkah kakinya mengimbangi langkah kaki Diana.


_


_


_


_


_


_


_


...Hari ini author bakalan berlayar lagi guys, mungkin besok gak up karena pastinya pusing dan capek banget + - 13 jam di dalam kapal🤢...


Maaf yah kalau gak seru, soalnya mepet loh nulis ini sama beres-beres 🥺


Mohon di maklumi yah🙏

__ADS_1


tbc.


__ADS_2