Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 42. Pegang tanganku!


__ADS_3

Melayang di udara dengan keputusasaan, entah kemana angin akan membawa jiwa yang terluka ini.


Hap!


Tubuh Diana melayang dengan sebuah tangan yang menarik bajunya.


"Apa yang anda lakukan, nona?" tanya Xeon berusaha menarik Diana. Tapi, semakin ia menarik baju Diana, baju itu malah robek membuat Xeon kesulitan.


"Pegangan, nona!" teriak Xeon. Namun, tak ada respon, seakan yang ia tolong adalah sebuah patung yang terjatuh dari ketinggian.


"Nona!" teriak Xeon berulang kali.


Di sisi lain, Nathan masih duduk di sofa sembari memperhatikan bayi Nara yang tertidur. Hingga ia melihat kaki yang bergelantung di depan jendela ruangan nya.


Ia pun berjalan ke arah jendela untuk melihat kaki siapa itu.


"Dia gila," gumam Nathan ketika tau siapa yang sedang bergelantungan di atas atap gedung.


Nathan pun berjalan ke dalam kamar yang ada di ruangan nya lalu meletakkan bayi Nara yang tertidur, di atas kasur. Setelah itu, Nathan mengunci pintu kamar lalu pergi melihat apa yang terjadi di atas gedungnya.


Ruangan Nathan adalah lantai yang paling tinggi, sehingga ia bisa melihat kaki Diana yang bergelantungan walau hanya telapak kaki saja.


Sesampainya di atas, Nathan mengerutkan dahinya melihat Xeon yang berusaha menarik Diana.


"Pegangan, nona! Saya mohon jangan seperti ini, kasihan nona Nara jika anda mati sia-sia," ucap Xeon merasa putus asa, karena semakin ia menarik Diana, maka baju Diana akan robek.


Nathan berjalan mendekat lalu melihat ke bawah dan benar saja, Diana terlihat seperti patung yang bergelantungan.


Nathan dapat melihat banyak orang yang melihat ke arah mereka, ini pasti karena mereka merasa takut jika Diana terjatuh.


"Tuan, tolong saya."


Nathan tampak diam lalu kembali menatap ke bawah. Mereka berada di ketinggian yang bukan main-main, Nathan pun memerintahkan agar Xeon memegang erat baju Diana.


Nathan membungkukkan tubuhnya lalu menjulurkan tangannya.

__ADS_1


"Pegang tanganku!" titah Nathan.


Diana hanya diam dan menatap lurus ke depan, ia seperti tak mendengar apapun. Yang ia dengar hanyalah kata-kata bahwa ia tak berguna.


"Hei bodoh! Pegang tanganku!" bentak Nathan kesal.


"Tuan, jangan marah-marah, nanti nona Diana semakin terpukul," ucap Xeon membuat Nathan menarik kembali tangannya.


"Aku tanya padamu, apa yang kau dapatkan setelah bunuh diri? Apa kau akan mendapatkan ketenangan atau kau akan menjadi orang yang berguna?" tanya Nathan.


"Tidak sama sekali! Kau hanya akan mendapatkan lebih banyak penderitaan! Kau adalah seorang ibu, tapi kau dengan mudahnya berpikir untuk mengakhiri hidupmu, ibu seperti apa dirimu ini?"


Terdengar suara tangisan kecil dari Diana, wanita itu semakin terpuruk dengan perkataan Nathan.


Nathan kembali menjulurkan tangannya.


"Pegang tanganku, hiduplah demi anakmu. Jika takdir mengatakan kau akan mati, maka kau akan mati. Jangan pernah mendahului takdir," tegas Nathan. Walau sebenarnya laki-laki itu tanpa sadar menyindir dirinya sendiri dimana ia sangat sering merenggut nyawa orang lain dengan paksa.


Diana tampak menatap tangan Nathan lalu menggenggam tangan itu, dengan cepat Nathan menarik Diana hingga kembali naik dan berpijak di atas lantai.


"Anda baik-baik saja, nona?" tanya Xeon khawatir melihat wajah pucat Diana.


Melihat itu, Xeon pun tersenyum kecil dan kembali memakai jas nya.


Kembali pada Nathan dan Diana, laki-laki itu berjalan menuju ruangannya dengan Diana yang ada di gendongannya. Diana masih menangis walau itu hanya isakan kecil saja.


Sesampainya di ruangan Nathan, laki-laki itu membawa Diana ke dalam kamar yang ada di ruangan kerjanya. Terlihat di sana, bayi Nara yang masih tertidur. Nathan membaringkan Diana di samping bayi Nara lalu menarik selimut dan menyelimuti Diana.


"Tidurlah," ucap Nathan kemudian meninggalkan Diana yang masih terisak. Diana memegang tangan mungil putrinya, hampir saja ia mengakhiri hidupnya dan membuat putrinya menjadi yatim piatu.


"Maafkan ibu."


*****


Beberapa jam kemudian.

__ADS_1


Nathan tampak sudah selesai dengan urusan perusahaan, ia berjalan ke arah ruang istirahat nya. Ia sangat mengantuk dan ingin tidur, apalagi sekarang sudah siang, jadi ia mudah sekali untuk mengantuk.


Nathan masuk ke ruangan seperti kamar pribadi itu dan menatap dua manusia yang masih tidur di atas ranjang.


Nathan menghela nafas panjang lalu berjalan ke arah ranjang dan memilih membaringkan tubuhnya di samping Diana.


Nathan tampak memiringkan tubuhnya menghadap Diana yang tidur terlentang. Tangannya perlahan bergerak ke arah perut Diana sembari matanya yang menatap wajah istrinya itu.


Nathan tampak ragu untuk memeluk istrinya, ia pun kembali menarik tangannya dan masih menatap wajah istrinya yang tertidur pulas.


Tangan Nathan kembali bergerak dan melingkar di perut Diana dengan sebelah kaki Nathan naik dan menghimpit kaki Diana.


Nathan tampak tersenyum kecil lalu menutup matanya, ia sangat mengantuk. Rasanya nyaman ketika tidur sembari memeluk guling bernyawa.


Sepertinya Nathan akan sering melakukan ini nantinya.


_


_


_


_


_


_


_


...Segini dulu yah guys, besok kita lanjutkan....


...Maaf telat yah, sebab jaringan sini kurang bagus. Di tambah author memang lagi sibuk kuliah dan nyusun....


...Semoga dapat di maklumi....

__ADS_1


...Untuk novel Razka, akan author update sore atau malam yah....


tbc.


__ADS_2