
Masih di malam yang menegangkan dan membingungkan, Nathan kecil duduk di dalam lemari pakaian sembari sesekali mengintip pintu ruang ganti. Tampak, bocah 10 tahun itu menunggu kedatangan ibunya.
"Akhhh!"
Nathan kecil tampak terkejut mendengar suara teriakan dari luar ruang ganti, ia pun memeluk lututnya karena takut jika itu adalah hantu.
"Ibu lama sekali," ucapnya pelan.
Nathan kecil semakin takut ketika mendengar suara-suara hantaman keras dari luar. Teriakan wanita yang histeris membuat ia ingin menangis.
"Ibu."
Nathan kecil tampak membuka pintu lemari lalu berjalan ke arah pintu ruang ganti, bocah itu tampak penasaran walau sebenarnya ia takut.
Nathan kecil pun memutar kunci lalu membuka pintu sedikit melihat suara siapa yang ia dengar tadi.
Matanya terbelalak melihat adegan yang ada di hadapannya sekarang. Ibunya kini tengah di pukuli oleh beberapa laki-laki hingga mengeluarkan darah.
"Ibu!" teriak Nathan kecil membuat semua orang langsung berfokus padanya.
"Oh, keponakan ku di sini ternyata." Tampak Baron menyeringai licik sembari mengeluarkan sebilah pisau.
"Jangan dekati anakku!" teriak Maya bangun dan mendorong Baron hingga terjatuh.
"Tutup pintunya!" titah Maya pada Nathan.
"Ibu kenapa? Kenapa ibu berdarah? Di mana ayah, bu?" tangis Nathan kecil tidak menutup pintunya.
"Ayahmu sudah mati dan ibumu juga akan segera mati, saksikan kematian ibumu," ucap Baron langsung mendorong tubuh Maya dengan keras lalu melucuti pakaian wanita itu.
"Ibu!" teriak Nathan kecil ingin berlari mendekati ibunya, namun, sang ibu menggeleng dan meminta Nathan untuk bersembunyi.
"Sembunyi lah dan jangan keluar dari sana!" titah Maya sudah pasrah dengan apa yang dilakukan Baron padanya.
Nathan kecil tampak menutup pintu lalu menguncinya. Dengan cepat Nathan kecil masuk ke dalam lemari lalu duduk di sana dengan menutup mulutnya.
"Ibu," tangis Nathan kecil dalam kegelapan lemari pakaian dan kesendirian penuh dengan ketakutan.
*******
Sudah satu jam Nathan kecil duduk diam di lemari sembari menangis hingga bocah itu tertidur. Suara pintu di buka membuat Nathan kecil terbangun dan langsung memeluk lututnya karena takut.
"Tuan muda! Tuan muda!" Nathan kecil langsung membuka pintu lemari ketika mendengar suara yang familiar di telinganya.
"Pak Hans." Nathan kecil menatap dua laki-laki di depannya dengan tatapan kosong.
"Anda baik-baik saja? Semuanya sudah aman, tuan. Ayo kita pergi," ucap pak Hans memeluk bocah kecil yang tampak masih syok.
"Ibu, ayah." Pecah sudah, Nathan kecil kembali menangis membuat pak Hans dan rekannya tak tega.
"Kita pergi dulu yah," ucap pak Hans menggendong Nathan kecil yang terlihat sangat lemah.
__ADS_1
"Dimana ayah dan ibu, pak Hans? Abang mau ayah sama ibu," tangis Nathan kecil dalam pelukan orang kepercayaan ayahnya.
Pak Hans tak menjawab apa-apa, ia hanya berjalan melewati kamar yang sudah kosong dan tentunya sudah mereka bersihkan agar tuan kecil mereka tak bertambah syok ketika melihat mayat-mayat yang berserakan di dalam rumah.
Beruntung nya mereka bisa cepat datang dan mengusir Baron dengan membawa polisi, karena tak mungkin mereka melawan Baron dalam keadaan lemah seperti ini. Apalagi setelah menemukan jasad tuan mereka yang semakin membuat mereka lemah.
"Kita mau kemana, pak Hans?" tanya Nathan kecil sesegukan.
"Liburan, tuan." Pak Hans masuk ke mobil bersama Nathan kecil dan rekannya lalu pergi meninggalkan rumah yang akan di hancurkan bersama mayat-mayat yang tersisa.
"Tapi Abang tidak mau liburan, Abang mau ayah sama ibu," tangis Nathan kecil membuat hati pak Hans terluka. Firasat nya mengatakan, bahwa Baron sengaja membiarkan tuannya hidup agar menderita karena kehilangan.
"Kita liburan bersama ayah dan ibu nya tuan, kita akan liburan ke tempat yang jauh," ucap pak Hans berusaha menenangkan tuannya.
"Benarkah?" tanya Nathan kecil menatap pak Hans penuh harap. Pak Hans pun mengangguk dengan tatapan sendu karena ia sudah memberikan sebuah harapan palsu pada seorang anak yang merindukan orang tuannya.
Nathan kecil pun menghapus air matanya dengan baju yang ia kenakan lalu memeluk pak Hans dan menutup matanya. Berharap, esok ia benar-benar melihat ayah dan ibunya.
*******
Keesokan harinya.
Nathan kecil tampak membuka matanya lalu memperhatikan langit-langit kamar. Ia celingak-celinguk mencari seseorang yang begitu penting dalam hidupnya.
"Anda sudah bangun, tuan?" tanya pak Hans masuk sembari membawa sarapan.
"Pak Hans, ini dimana? Dimana ayah dan ibu? Semalam Abang tidur sama ayah dan ibu," tanya Nathan kecil tampak linglung.
"Benarkah? Berarti ayah dan ibu sudah di sini yah? Abang mandi dulu biar wangi," sahut Nathan kecil yang langsung pergi ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Nathan kecil sudah selesai mandi dan berpakaian. Kini, bocah 10 tahun itu tengah sarapan sepotong sandwich.
"Semalam Abang mimpi aneh, pak Hans. Abang mimpi.....
Ucapan Nathan langsung terhenti ketika sebuah ingatan yang sangat nyata melintas di benaknya.
"Ada apa, tuan?" tanya pak Hans memperhatikan Nathan kecil yang menaruh kembali sandwich nya ke atas piring.
"Di mana ayah dan ibu?" tanya Nathan kecil dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Di bawah," jawab pak Hans.
Nathan pun langsung keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Langkah kakinya terhenti ketika melihat banyak orang yang memakai pakaian hitam sembari menunduk.
Tatapannya pun mengarah pada dua insan yang berbaring kaku di tengah-tengah banyaknya orang.
"Ayah, ibu." Nathan berjalan dengan langkah gontai, air matanya sudah mengalir menatap siapa yang berbaring kaku di hadapannya sekarang.
"Pak Hans! Kenapa ayah dan ibu seperti itu?" tanya Nathan berteriak lalu duduk diantara jasad kedua orang tuanya.
Pak Hans tak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya saja sembari sesekali menyeka air matanya.
__ADS_1
"Ayah, bangun. Ayah sudah janji sama Abang, kita kan mau liburan Minggu depan. Kenapa ayah ingkar janji, ayah selalu ingkar janji," tangis Nathan pilu memeluk jasad ayah nya.
"Ayah bangun yah, Abang janji tidak marah kalau ayah tidak jadi mengajak Abang jalan-jalan. Kita di rumah saja tidak apa-apa, yang penting ada ayah sama ibu," lanjut Nathan lalu berpindah pada jasad ibunya.
"Ibu, Abang tidak akan meminta kue lagi, Abang akan mandi kalau sudah sore, Abang akan cuci piring kalau sudah siap makan. Ibu bangun yah, jangan tidur, kalau ibu tidur, siapa yang mengelus kepala Abang nanti," ucap Nathan kecil menyandarkan kepalanya di dada sang ibu.
"Ayah, ibu, Abang juga mau ikut. Abang tidak mau hidup sendirian, Abang mau ikut," tangis Nathan kecil. Bocah itu bahkan memegangi dadanya karena sakit, matanya sudah memerah karena terus menangis.
"Waktunya pemakaman, tuan muda."
"Jangan! Jangan ambil ayah dan ibu, kalau ayah sama ibu di bawa, aku bagaimana!" teriak Nathan tak ingin jasad ayah dan ibunya di bawa.
Pak Hans pun langsung turun tangan dan menenangkan tuannya itu.
"Ayah dan ibunya tuan harus di makamkan agar mereka tenang, apa tuan mau ayah dan ibunya tuan menderita?" tanya pak Hans memegang kedua bahu Nathan.
"Tidak mau!"
"Kalau tidak mau, maka biarkan mereka memakamkan ayah dan ibunya tuan yah," ucap pak Hans berusaha membujuk Nathan kecil.
"Ta-tapi, nanti kalau Abang rindu sama ayah dan ibu, bagaimana?" tanya Nathan kecil kembali menangis memeluk pak Hans.
"Kita akan sering berkunjung ke makam ayah dan ibu tuan yah, jangan sedih lagi. Ada saya di sini yang akan selalu berada di samping tuan muda," jawab pak Hans mengkode agar jasad Johan dan Maya segera di bawa dan di makamkan.
"Dengarkan saya, tuan. Balas semua rasa sakit ini di masa depan, laki-laki itu, paman tuan itu, dia harus mati dan merasakan rasa sakit yang di rasakan ayah dan ibu tuan! Saya akan selalu berada di sisi tuan dan selalu setia melayani tuan sampai maut menjemput," ucap pak Hans sembari menatap bola mata hitam Nathan.
"Anda harus balas dendam! Jadilah laki-laki yang kuat dan juga kejam!" tegas pak Hans. Nathan kecil pun mengangguk lalu menghapus air matanya.
"Iya, pak Hans," ucap Nathan dengan masih sesegukan.
Pak Hans tersenyum tulus lalu membawa Nathan untuk pergi ke tempat pemakaman.
Setelah hari itu, semuanya berubah. Tak adalagi kehangatan di dalam rumah yang besar ini, hanya ada kegelapan dan juga kesunyian.
Flashback off
_
_
_
_
_
_
_
Tbc.
__ADS_1