Suamiku Mafia Dingin

Suamiku Mafia Dingin
Bab 76. Pulang ke rumah.


__ADS_3

Satu Minggu berlalu dan setiap harinya Nathan selalu menemani Diana.


Karena terlalu sering berada di dekat Diana membuat wanita itu bertanya-tanya, apakah suaminya ini tak bekerja? Apa mungkin, suaminya ini pengangguran yang tampan?


Diana tak akan mau punya suami pengangguran walau wajahnya tampan, percuma saja tampan jika tak bisa bekerja dan memberinya makan.


Seperti hari ini, Diana menatap suaminya yang kini tengah menatapnya juga dengan tatapan penuh cinta.


"Mengapa kau menatapku seperti itu? Apa aku jelek?" tanya Nathan menata rapi rambutnya agar terlihat lebih tampan.


"Darimana kau mendapatkan uang?" tanya Diana lembut.


Nathan pun menghentikan aktivitas tangannya yang tengah merapikan rambutnya. Tampak laki-laki itu tersenyum manis membuat Diana kebingungan.


"Aku memiliki perusahaan, aku juga punya bisnis gelap. Jadi, dari sanalah aku mendapatkan uang," jawab Nathan jujur.


"Bisnis gelap? Maksudnya?" tanya Diana mulai berpikir negatif kalau suaminya ini menjual obat-obatan terlarang ataupun mencuri.


"Nanti kalau kita sudah pulang ke rumah, aku akan menjelaskannya. Kau tak perlu memikirkan sesuatu yang akan menjadi beban pikiran mu, aku tak ingin kau kelelahan," jawab Nathan mengelus punggung tangan istrinya.


"Kalau kau benar melakukan kejahatan, aku tak mau menjadi istrimu," ucap Diana kembali membaringkan tubuhnya.


"Kau tak bisa memutuskan sesuatu, sayang. Hanya aku yang bisa memutuskan sesuatu," ucap Nathan sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Maksudnya?" tanya Diana menatap bingung suaminya itu.


Nathan mendekatkan wajahnya membuat Diana menegang.


"Tidak ada maksud apapun," bisik Nathan lalu mencium pipi Diana.


"Tidurlah, aku akan tetap ada di sini menjagamu," ucap Nathan lembut.


Diana pun segera menutup matanya, jantungnya berdetak dengan kencang karena laki-laki yang ada di hadapannya ini terus saja menggodanya dengan sikap yang berubah-ubah.


Jika Diana kini sedang berkecamuk dengan perasaannya, lain halnya dengan Nathan yang merasa kebahagiaan nya kembali secara perlahan-lahan. Meski kini tak ada Nara, Nathan yakin ia bisa menyembuhkan luka di hatinya secara perlahan-lahan dengan hadirnya Diana di hidupnya.


Nathan belum memberitahukan tentang kematian putri mereka pada istrinya, biarlah nanti di waktu yang tepat, Nathan akan memberitahu istrinya tentang masa lalu mereka yang bahagia dan juga kelam.


"Kau belum tidur?" tanya Nathan memegang tangan Diana lalu menciumnya berkali-kali.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, sayang."


"Aku sudah mendengar ratusan kali kata-kata cinta itu," sahut Diana dengan mata yang tertutup membuat Nathan terkekeh kecil.


"Tidurlah sebelum aku menidurimu," ucap Nathan. Diana tampak menghela nafas panjang lalu berusaha untuk tidur dengan tangan yang di kecup tanpa henti oleh suaminya itu.


*******


Dua Minggu kemudian.


Diana sudah diperbolehkan pulang, hal itu membuat Nathan senang. Dengan semangat ia membantu istrinya untuk duduk di kursi roda.


Semua barang-barang pun sudah dikemas oleh pak Hans dan Xeon, kini hanya tinggal masuk ke mobil dan pulang.


Nathan mendorong kursi roda keluar dari rumah sakit menuju parkiran. Sesampainya di parkiran, Nathan langsung menggendong istrinya lalu masuk ke mobil.


"Berbaringlah," ucap Nathan membiarkan Diana berbaring dengan ber-bantalkan pangkuannya.


"Banyak hal yang membuat aku penasaran, aku sudah tak sabar untuk bertanya padamu nanti," ucap Diana menatap wajah suaminya. Nathan pun hanya tersenyum sembari mengelus kepala istrinya dengan lembut.


Beberapa menit kemudian.


"Selamat datang kembali, nona muda." Diana mengangguk malu mendapatkan sambutan yang menurutnya terlalu berlebihan.


Tapi, melihat luasnya rumah yang ia jejaki, pastinya suaminya ini adalah orang kaya dan juga penting.


Nathan menggendong Diana menuju kamarnya, kamar yang sudah di desain ulang agar terlihat lebih manusiawi dari sebelumnya.


"Selamat datang di kamar kita, sayang." Nathan menurunkan Diana di atas ranjang membiarkan wanita itu mengamati seisi kamar.


"Apa itu, kita?" tanya Diana menunjuk foto dua mempelai pengantin yang tengah tersenyum. Foto itu terpampang dengan ukuran yang besar, apalagi di ruang tamu, foto nya semakin besar.


"Iya, itu kita. Kau percaya kan kalau kita ini memang suami istri?" Nathan ikut menatap foto pernikahannya dengan Diana waktu itu. Di dalam foto itu mereka terlihat sangat bahagia padahal waktu itu adalah waktu yang menjengkelkan bagi Diana dan waktu yang memuakkan bagi Nathan.


"Sudah berapa lama kita menikah? Apa kita sudah punya anak? Dan satu lagi, mengapa aku bisa di rumah sakit sampai hilang ingatan?" tanya Diana bertubi-tubi membuat Nathan langsung terdiam membisu.


Jujur, Nathan tak ingat sudah berapa lama pernikahannya dan Diana berlangsung karena ia tak begitu mengistimewakan tanggal pernikahan.


"Sebaiknya kau istirahat saja, jangan banyak berpikir karena aku tak ingin kau kesakitan nantinya." Nathan membantu istrinya untuk berbaring.

__ADS_1


"Aku tidak mengantuk, lagi pula ini masih siang. Aku ingin bergerak," ucap Diana.


"Shuuttt, mau ini siang, sore, malam, pagi, kau harus tidur kalau aku bilang tidur."


"Sepertinya kau sangat suka memerintah, aku jadi penasaran mengapa dulu kita bisa menikah," ucap Diana menutup matanya membiarkan Nathan mengelus-elus kepalanya dengan lembut.


"Kapan kita bertemu? Seperti apa ceritanya? Mengapa kau bisa jatuh cinta padaku? Lalu dimana keluarga ku dan keluargamu?" tanya Diana membuka matanya lagi menatap wajah Nathan yang sudah mulai jengkel.


"Apa kita sudah malam pertama? Apa kita punya anak? Sudah berapa lama kita menikah? Mengapa wajah mu seperti itu?" tanya Diana semakin membuat Nathan jengkel. Ternyata, istrinya ini semakin cerewet saja.


"Ada lagi?" tanya Nathan dengan ekspresi datar.


"Apa kita pernah bulan madu? Ke luar negeri, contohnya?" tanya Diana masih dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit Nathan jawab.


"Kalau kau masih bertanya, aku akan menggigit bibirmu sampai berdarah," bisik Nathan membuat Diana langsung menutup matanya.


"Aku akan tidur," ucap Diana menarik selimutnya lalu memeluk guling.


"Selamat beristirahat, sayangku. Aku mencintaimu."


"Iya, iya, aku tau," sahut Diana di balik selimutnya.


_


_


_


_


_


_


_


_


...Wih, telat lagi😭😁 tapi gak apa yah, yang penting update 😘...

__ADS_1


tbc.


__ADS_2